Mesin Pembunuh di Jalan Raya

0
38

KECELAKAAN lalu lintas yang dialami bus pariwisata yang merenggut 21 korban nyawa di tanjakan Letter S, Cikidang, Sukabumi, Sabtu (8/9/2018) kemarin, lagi-lagi mestinya menjadi pemicu untuk mengevaluasi kembali pengawasan kendaraan angkutan umum dan manajemen pengelolaannya. Sebab utamanya, ya, karena ini menyangkut nyawa manusia. Puluhan orang mati tiap hari karena kecelakaan laku lintas.

Menurut data Korlantas Polri, sepanjang 2017 lalu, terjadi 98.419 kecelakaan lalu lintas dengan korban tewas sebanyak 24.213 orang, atau hampir 70 orang setiap hari. Tahun sebelumnya, 25.859 orang kehilangan nyawa di jalan raya dalam 105.374 kasus kecelakaan.

Seperti pernah kita bahas, masalah  kecelakaan lalu lintas adalah  suatu masalah  kronis di seluruh negara di dunia. Saking seriusnya masalah ini, PBB  memberikan perhatian besar terhadap makin tingginya kecelakaan lalu lintas.   PBB telah menetapkan tahun 2011 sampai 2020 sebagai Tahun Aksi Keselamatan Berlalu lintas atau Decade of Action for Road Safety. Kampanye itu diharapkan mampu menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di dunia hingga 50 persen. Untuk menyambut program PBB itu, pemerintah Indonesia sudah menerbitkan Nomor 4 Tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan.

Itulah yang mendasari mengapa kecelakaan besar di Sukabumi  ini harus mendesakkan kembali urgensi untuk membenani manajemen transportasi kita.

Biasanya setiap terjadi kecelakaan transportasi, apalagi dengan jumlah korban yang massal, kita ribut dengan aneka keprihatinan tentang keselamatan transportasi. Polisi dan Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) bekerja mencari penyebab kecelakaan. Namun, setelah itu, kekusutan pengelolaan transportasi kembali berjalan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Tentang kecelakaan di Sukabumi kemarin, polisi tengah mendalami dugaan kelalaian manusia. Ini memang kesalahan paling dasar. Human error selalu menjadi penyebab dari setiap kecelakaan.

Masalahnya, kesalahan manusia itu seringkali hanya ditujukan kepada pengemudi saja. Kita sering lupa, pengemudi kendaraan bermotor hanyalah salah satu bagian dari sub-sistem lalu lintas dan angkutan jalan. Padahal, banyak manusia lain yang juga menjadi faktor human error yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan lalu lintas. Apalagi ternyata dalam kasus ini, bus pariwisata itu sudah dua tahun tidak menjalani uji kir.

Itu artinya selain pengemudi yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, tidak tertutup kemungkinan manajemen perusahaan bus pariwisata tersebut juga akan diminta pertanggungjawaban. Pengelola  perusahaan bus ini tentu tidak dapat melepaskan diri dari tanggungjawab atas tidak dilakukannya uji kir kendaraan maut tersebut.

Ada serangkaian uji teknis dan uji laik jalan yang harus dilalui kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan penumpang umum. Pengujian itu antara lain meliputi kemampuan rem utama, sistem kemudi, rem parkir, rem utama, kincup roda depan, pancaran dan arah sinar lampu utama, akurasi speedo meter, kedalaman alur ban, kaca spion, klakson, penghapus kaca sampai sabuk pengaman. Kalau itu dipatuhi, di atas kertas, kecelakaan yang disebabkan faktor kendaraan nyaris mustahil terjadi.

Selain itu, polisi mestinya juga menyelidiki faktor kondisi jalan. Apakah kondisi jalan di tanjakan yang terkenal berbahaya itu memang layak dilalui kendaraan berat seperti bus atau truk? Apakah marka dan rambu untuk memberi isyarat dan peringatan sudah tercukupi di situ?

Polri jangan menyederhanakan kecelakaan sebagai human error pengemudi belaka, sebab faktor kendaraan dan faktor jalan juga mempunyai andil yang sama besarnya. Dan setiap orang yang bertanggungjawab di masing-masing faktor mempunyai tanggungjawab hukumnya sendiri.

Tapi sayangnya, proses hukum inilah yang tidak pernah tuntas. Penyelidikan polisi selalu berujung pada sanksi pidana pada pengemudi, tapi tidak pernah menyentuh pemilik atau manajemen perusahaan kendaraan angkutan umum, apalagi pemerintah selaku penanggungjawab jalan. Inilah waktunya untuk memulai. Kalau tidak, mesin pembunuh itu akan terus berkeliara di jalan raya dan menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here