Meski Hanya Bongkahan Tanah, Tan Malaka Pulang ke Rumah Gadang

0
4255
Prosesi pemindahan bonkahan tanah dari makam Tan Malaka ke tanah kelahiran

Nusantara.news, Jakarta – Semula Pemkab Limapuluh Koto bertekad membawa jasad Ibrahim Datuk Tan Malaka kembali ke tanah kelahiran. Tapi tekad itu ditentang masyarakat Kediri yang sudah merasa memiliki Pahlawan Nasional tersebut

Setelah melalui negosiasi yang cukup alot, akhirnya Tim Pemindahan Makam dari Sumatera Barat hanya diizinkan membawa bongkahan tanah dari sekitar makam, bukan dari jasad atau makam aslinya.

Bongkahan tanah dalam sebuah peti berbalut sang saka merah putih, begitu sampai Kabupaten Limapuluh Koto langsung  diarak oleh iring-iringan kendaraan roda dua dan empat pada Senin (27/2) kemarin.

Bongkahan tanah dari makam Tan disandingkan dengan makam ibundanya

Arak-arakan yang meriah itu diberangkatkan dari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban menuju tanah kelahiran Tan di Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunuang Omeh, yang berjarak sekitar 50 Km.

Tiba di lokasi peti berbalut merah putih itu diarak lagi dengan berjalan kaki menuju Rumah Gadang, tempat Tan dilahirkan. Sebelum tiba di rumah gadang, peti itu sempat disandingkan makam ibunda Tan yang jaraknya hanya 10 meter dari Masjid Djamik Pandam Gadang, dan masih 50 meter dari Rumah Gadang.

Rumah Gadang tempat Tan Malaka dilahirkan

Tiba di makam ibunda Tan, warga langsung menggelar dzikir bersama dan melakukan shalat ghaib menyambut kehadiran Tan di masjid Djamik

“Pemindahan jasad, kerangka, atau tulang, ataupun tanah, itu menurut Syariat Islam adalah sama, karena di dalam agama Islam, galian sebuah mayat, jasad, tidak boleh dilakukan dua kali,” terang Wakil Bupati Limapuluh Koto Ferizal Ridwan.

Terlebih, lanjut Ferizal, makam Tan Malaka telah digali tiga kali. Maka, berdasarkan agama dan petunjuk orang tua cukup dengan mengambil sebongkah tanah dalam proses pemindahan makam. Tanah inilah menurutnya sebagai pengganti diri Ibrahim datuk Tan Malaka.

Tndak lanjut dar prosesi penghadiran Tan Malaka di kampung halaman, terang Ferizal, adalah Kaul Penutup yang akan menyandingkan makam Tan dengan kedua orang tuanya, dan dilanjutkan pembangunan Monumen Tan Malaka.

Usai disemayamkan di Rumah Gadang, beber Wali Nagari Pandam Gadang Khairul Apit, peti berbalut merah putih berisi bongkahan tanah dari makam Tan Malaka itu akan dibawa ke Gedung DPRD Limapuluh Koto pada 11 April nanti, bersamaan parpurna hari lahir Kabupaten Limapuluh Koto.

“Ada agenda tahunan Kabupaten Limapuluh Kota. Nanti diarak lagi dan baru dimakamkan pada 13 April 2017 sesuai prosesi adat seorang raja,” jelas Khairul Apit.

Memang Ibrahim Datuk Tan Malaka adalah seorang raja di kampung halaman. Dia adalah Rajo Adat Keselarasan Bungo Satangkai Suliki Luak 50.

Shalat ghaib menyambut Ibrahim Datuk Tan Malaka pulang ke tanah kelahiran

Meskipun Presiden Soekarno telah memberinya gelar Pahlawan Nasional melalui Kepres 53 tahun 1963, namun penafsiran atas peran Tan Malaka dari sisi sejarah masih memunculan silang pendapat.

Tapi masyarakat setempat berharap, hak-hak almarhum sebagai Pahlawan Nasional dapat dipulihkan. Terlebih jasa-jasa Tan Malaka sebelum dan sesudah revolusi kemerdekaan tidak sedikit.

“Terutama beliau adalah seorang tokoh komunis, memang betul. Karena waktu itu, komunis atau partai di dunia itu hanya ada dua, yaitu komunis dan nasionalis,” ungkapnya.

“Beliau dengan gagasannya menghimpun partai-partai atau negara jajahan untuk memerdekakan, untuk bersama-sama berjuang, merdeka. Itulah yang dilakukan Tan Malaka,” jelasnya.

Serah terima secara simbolis bongkahan makam Tan Malaka dari Wabup Ferizal ke Wali Nagari

Dia lantas mengingatkan bahwa Tan Malaka meninggal dunia pada 21 Februari 1949 – jauh sebelum peristiwa politik 1965. “Tan Malaka wafat pada 21 Februari 1949, bukan berkaitan dengan tahun 1965,” tandas Ferizal.

Dia kemudian teringat fakta sejarah bahwa Tan Malaka dieksekusi tembak dengan kondisi terikat dan duduk di Kediri, Jawa Timur, dan memperjuangkan Persatuan Perjuangan dengan orang-orang dan kelompok yang seide dengannya.

“Itu pun karena beliau menantang dan tak setuju pemberontakan PKI pada tahun 1948. Inilah yang harus diluruskan selaku anak bangsa, bahwasannya kalau karena tidak Tan Malaka, negara ini tak akan terwujud sebuah Republik,” paparnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here