Meski Kecewa, Trump Akan Kembali Dipilih di “Pulau Kepiting” ini

0
50
Nelayan Hoopers Island yang menaburkan umpan kepiting ke laut/ Foto NBC News

Nusantara.news, Maryland – Perubahan kebijakan visa oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J Trump dikeluhkan oleh warga Hoopers Island yang dikenal sebagai Kota Kepiting. Padahal, di daerah yang masuk wilayah Maryland ini pada Pemilu Presiden AS 2016 lalu memenangkan Donald Trump. Tapi meskipun kecewa mereka akan kembali memilih Trump pada Pemilu Presdien AS 2020 nanti.

Penyebab kekecewaan warga Pulau Hoopers tak lain adalah kebijakan pembatasan imigrasi yang telah membunuh mata pencarian – bukan hanya para pemburu kepiting yang merupakan andalan perekonomian lokalm nelainkan juga usaha-usaha lain yang terkena imbasnya. Padahal, daging kepiting dari Pulau Hoopers sangat dikenal di Maryland dan sekitarnya.

Ketergantungan Pekerja Asing

Selama beberapa dekade, Hoopers Island memang dikenal dengan industri kepitingnya. Sayangnya, geliat industri kepiting sangat bergantung kepada pekerja musiman yang oleh pemerintah federal diwajibkan memiliki visa H-2B. Agar bisnisnya tetap “bersenandung” para majikan mendatangkan ribuan pekerja asing – khususnya perempuan asal Meksiko – untuk memilah-milah daging kepiting yang kelezatannya dikenal di seluruh wilayah Maryland.

Pengolahan kepiting/ NBC News

Ingin kepiting lezat? Kemasan daging kepiting asal Hoopers Island ini jawabannya. Tapi tampaknya itu akan menjadi sekedar nostalgia saat pemerintahan Trump mengubah kebijakan dalam pembuatan visa H-2B dari sebelumnya sistem siapa yang datang terlebih dahulu langsung dilayani menjadi sistem undian. Sistem undian ini tentu saja merugikan pekerja musiman yang biasa bekerja di Hoopers Island. Dengan sistem undian sekitar 40% pekerja musiman tidak bisa kembali bekerja di Hoopers Island.

“Sekarang kami tutup,” keluh Manajer A.E. Philips and Seafood Morgan Tolley.

Hanya dua mil jauhnya – ketika musim panen kepiting menuju puncak-puncaknya – Harry Philips, pemilik Russell Hall Seafood, berdiri di sebuah ruang kosong yang sebelumnya dijejali oleh para pekerja perempuan asal Meksiko yang bekerja kepadanya lebih dari 25 tahun.

“Kami tidak bisa mengoperasikan jalan yang kami tempuh,” ucapnya kepada NBC News. “Saya harus membiarkan sopir truk pergi. Sebab saya tidak membutuhkan sopir truk apabila saya tidak memiliki produk (kepiting olahan). Ini akan mempengaruhi kami sampai pada titik di mana mungkin kami harus benar-benar dekat.”

Harry Philips juga mengingat janji Donald Trump yang ingin menciptakan lapangan kerja bagi warga negara Amerika. Tapi dengan kebijakan pembatasan imigrasi bagi pekerja asing yang semula bekerja mengolah daging kepiting maka tidak ada juga sopir truk warga negara AS yang mengangkut produk olahan yang sekarang tidak ada.

Pada November 2016 Presiden Trump menang mudah di Dorchester County yang wilayahnya mencakup semua Pulau Hoopers. Sebagian besar karena warga terbuai oleh janjinya untuk membantu usaha kecil. Tapi faktanya usaha kecil mereka yang selama ini bergantung kepada buruh migran asal Meksiko terbunuh dengan kebijakan imigrasinya.

Kapten Larry “Boo” Powley – seorang nelayan generasi kelima yang mencari nafkah menangkap umpan kepiting – menarik perahunya ke Russell Hall dan mengatakan bisnis kecilnya sedang sakit. Ketika biasanya dia membawa setidaknya 300 kotak umpan kepiting, kini bisnisnya dibatasi hanya bisa memasok 100 kotak umpan kepiting kepada perusahaan.

“Semakin banyak permintaan yang ada untuk umpan, semakin baik untuk bisnis saya,” beber Powley. “Saat ini tidak ada permintaan karena mereka tidak bisa menangani banyak kepiting karena tidak ada lagi yang mengolah daging kepiting. Dan itu benar-benar menyakiti kami sekarang.”

Powley juga bertanya kepada politisi di Washington, bagaimana mungkin membuat perencanaan bisnis selama 30 tahun kalau tidak ada pekerja? Karena kalau ingin tetap dalam bisnis yang diperlukan bukan hanya sekedar janji, melainkan harus memiliki pekerja.

Usaha Lesu 

Selama bertahun-tahun – rupanya Powley dan nelayan lainnya – telah memancing umpan kepiting untuk dikirimkan ke perusahaan pemburu kepiting seperti Russell Hall Seafood. Para nelayan itu memasok ikan – terutama menhaden – untuk memancing kepiting, membawa kepiting hasil tangkapan ke pabrik dan mengukusnya.

Begitu kepiting hasil tangkapan dikukus, para pekerja musiman – yang tinggal di pabrik antara bulan April hingga November – mengambil daging dari kepiting dan mengemasnya. Kepiting olahan itu yang selanjutnya dikirim (oleh pekerja Amerika) ke toko-toko dan restoran di sekitar Maryland.

Di sini kepiting diolah oleh pekerja migran/ NBC News

 

Biasanya kota di Pulau Hoopers menampung sekitar 500 pekerja asing pengguna visa H-2B, tapi sekarang hanya sekitar 300 visa yang disetujui. Artinya, Pulau Hoopers kehilangan sekitar 40% pekerja yang tentu saja berpengaruh terhadap produksi kepiting olahan di pulau ini.

Sebelum adanya pekerja asing – sekitar 40 tahun lalu – pekerjaan mengolah daging kepiting biasa dilakukan oleh perempuan-perempuan yang tinggal di Maryland Eastern Shore. Namun ketika anak-anak mereka tumbuh dewasa dan lebih berpendidikan mereka meninggalkan kota. Sejak itu terjadi krisis tenaga kerja lokal yang membuat pemerintah mengenalkan program visa H-2B untuk merekrut tenaga kerja musiman yang didatangkan dari Meksiko.

“Kami telah melakukan ini selama 25 tahun dengan cara yang benar seperti yang diinginkan pemerintah,” ulas Philips tentang pekerja asing yang direkrut melalui visa H-2B. “Mereka bukan ancaman bagi pekerja lokal, mereka menghabiskan sebagian penghasilannya di sini, dan mereka membuka rekening bank di sini. Jadi bagi saya situasinya win-win.”

“Saya tidak punya orang Amerika yang mau melakukan pekerjaan seperti ini,” lanjut Brian Hall – pemilik G.W. Seafood Hall & Sons – satu di antara pemilik usaha di Pulau Hoopers yang mampu bertahan dengan pekerja asing dengan jumlah yang cukup tahun ini. “Kami mendukung banyak bisnis yang berbeda dari banyak negara bagian yang berbeda. Itu bisa kami lakukan karena kami memiliki gadis-gadis pekerja Meksiko yang memiliki visa H-2B ini.”

Kini para pemilik usaha yang usahanya bergantung kepada pekerja migran banyak berharap, pemerintah Trump setidaknya menambah 15 ribu visa H-2B karena tingginya permintaan pekerja asing. Namun dengan musim perburuan kepiting yang sedang berjalan – dari karena perjalanan panjang dari Meksiko ke Hoopers Island – banyak yang khawatir permintaan itu terlambat disetujui.

Sekarang ini tercatat delapan perusahaan yang mengolah kepiting di Hoopers Island, di antara delapan perusahaan hanya empat perusahaan menerima visa sesuai jumlah yang diminta. Dengan lesunya bisnis kepiting mempengaruhi bisnis lainnya juga yang mempekerjakan nelayan, sopir truk, pelayan restoran dan toko-toko yang kesemuanya warga negara AS.

“Bisnis kami sangat menderita karena kehilangan orang-orang di sini,” kata Katie Doll, pemilik toko yang menjual berbagai keperluan di Pulau Hoopers – satu-satunya toko yang menjula berbagai keperluan dalam jarak sekitar 30 mil. Selain Katie, banyak pemilik usaha lainnya yang terkena dampaknya.

Tetap Trump Di Hati

Di luar Hoopers Island, kebijakan baru tentang visa H-2B ini bukan hanya mengorbankan pekerjaan. Melainkan juga mengecewakan konsumen yang biasa menikmati legitnya kepiting Hoopers Island yang sangat terkenal di AS. “Kue kepiting yang khas mungkin harganya akan melonjak empat kali lipat,” keluh seorang konsumen yang merasakan sulitnya kepiting olahan didapat.

Hebatnya lagi, meskipun menderita karena kebijakan imigrasi Trump, umumnya penduduk Hoopers Island akan memilih Trump lagi pada Pemilu 2020 nanti. Mereka berkeyakinan, apabila Trump tahu tentang bisnis mereka yang kini kembang kempis maka Trump akan mengubah kebijakannya.

“Saya hanya tidak berpikir Donald Trump tahu apa yang terjadi di sini sekarang,” ujar Powley. “Karena jika (kebijakan) Anda untuk bisnis, yah, (kebijakan) Anda membuat bisnis tidak berfungsi di sini.” [] Sumber NBC News

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here