Swasembada Tercapai, Petani Sejahtera

Meski Kualitas Produksi Padi Rendah, Bulog Harus Beli Sesuai HPP

0
138

Nusantara.news, Jakarta – Melimpahnya produksi mengakibatkan harga jatuh. untuk menahannya Bulog harus beli sesuai Harga Patokan Pemerintah (HPP). Bila Bulog mampu menyerap 30 ribu ton sehari, dipastikan pada tahun 2019 Indonesia bebas impor Beras.

Senin (27/03/3017) di Kontor Kementan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan stok beras saat ini mencapai 1,9 juta ton, cukup untuk kebutuhan 8 bulan ke depan. Stok ini merupakan hasil panen dari 2 hingga 3 bulan yang lalu.

Beberapa daerah saat ini sedang berlangsung panen raya padi yang berakibat melimpahnya produksi. Namun cuaca kurang bersahabat. Akibatnya kualitas gabah menjadi rendah, karena kadar airnya antara 26-29%.

Ini berimbas pada jatuhnya harga beras di pasaran. Kadar air yang tinggi ini sebenarnya mengandung bakteri. Oleh karena itu, sebelum dijual biasanya gabah dikeringkan terlebih dulu.

“Kita juga memperluas kemitraan dengan swasta dan kelompok tani serta gabungan kelompok tani yang memiliki penggilingan, dryer (sarana pengering), dan Gudang. Nah, kita yang melakukan pengeringan. Kita inisiatif, setelah beli kita keringkan, sebab kalau tidak dikeringkan itu bahaya,” ujarnya.

Untuk itu, Menteri Pertanian Amran meminta Bulog untuk menyerap gabah ditingkat petani dengan harga sesuai HPP (Harga Pembelian Pemerintah) Rp 3.700/kg.  Supaya petani tidak mengalami kerugian.

Selain itu, penyerapan ini ditujukan untuk memotong mata rantai penjualan dan distribusi beras, menjamin produksi gabahnya dibeli, serta menambah cadangan beras pemerintah. Mentan telah mengeluarkan Permentan yang mengatur gabah dengan kadar air tinggi 26-30% agar tetap dibeli dengan harga Rp3.700/kg.

“Kami jamin karena ada Permentan baru. Arahan Presiden, kadar air 25% dibeli dengan harga Rp3.700/kg. Sebelumnya hanya dibeli dengan harga Rp2.500-2.900/kg. Sekarang kita langsung bergerak cepat,” ungkapnya.

Sejak Februari sampai 6 bulan berikutnya, Kementan menargetkan minimal 4 juta ton gabah petani setara beras terserap. Pada periode bulan Maret-Agustus 2017, menurut Amran, produksi diprediksi sebesar 33,64 juta ton gabah kering giling (GKG) yang akan diserap pemerintah.

“Prediksi produksi periode bulan Maret-Agustus 2017 sebesar 33,64 juta ton perlu diserap secara baik, sehingga petani dapat memperoleh keuntungan yang adil dan cadangan beras di Perum BULOG meningkat,” ujar Amran.

Tim Serap Gabah Petani (SERGAP) yang sudah dibentuk oleh Kementerian Pertanian. Tim  yang merupakan kerjasama antara Kementan dengan TNI-AD, Perum BULOG dan Pemda ini pada periode Januari – 25 Maret 2017 telah menyerap 754.330 ton gabah atau 377.165 ton setara beras. Serapan ini meningkat 420% dibanding periode yang sama pada tahun 2016.

Sebagai catatan, posisi Tim Sergap Jateng dan Jabar tahun ini kalah dari Sulsel. Tim Sergap Sulsel dalam musim panen raya kali ini naik 1.000 persen menjadi 76.456 ton setara beras. Namun, capaian ini masih di bawah Jawa Timur dengan serapan sebesar 129.695 ton dan  mampu mengalahkan Jateng (72.479 ton) dan Jabar (61.235 ton).

Untuk menjamin ketersediaan pangan nasional, maka target penyerapan gabah sebesar 30.000 ton per hari menjadi agenda kerja semua pihak. Sebab saat ini penyerapan baru sekitar 18.000-20.000 ton. “ Kalau Jawa Tengah dan Jawa Barat bisa serap masing-masing 5.000 ton per hari dan Sulawesi Selatan bergerak naik bersama Jawa Timur—sehingga bisa menyerap 30.000 ton sehari —aku pastikan tidak ada cerita impor sampai 2019,” ujarnya.

Sementara itu pantauan Nusantara.news di beberapa daerah seperti Jombang, Lamongan dan Mojokerto, harga gabah pun naik menjadi Rp45.000 untuk gabah kering giling. “Iya Mas, harga naik. Lha Bulog berani beli dengan harga Rp3700,” ujar Wanto salah seorang rekanan Bulog di Jombang, Selasa (28/03/2017).

Semoga kedaulatan pangan yang ditulis dalam Nawa Citanya Presiden Jokowi bukan sekadar coretan tinta. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here