Meski Rupiah Lunglai, Pemerintah Pura-Pura Santai

0
62
Presiden Jokowi dan para menterinya terkesan santai menyaksikan nilai tukar rupiah terpuruk. Berbeda dengan Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang dengan sigap menunjukkan sense of crisis terhadap Malaysia.

Nusantara.news, Jakarta – Beberapa waktu belakangan nilai tukar rupiah kembali terpuruk, dalam perdagangan pembuka beberapa hari lalu rupiah sempat dilevel Rp14.650. Pelemahan ini adalah untuk kesekian kalinya, namun para pejabat negeri ini seolah santi, bahkan tak menggambarkan adanya sense of crisis.

Apa yang dilakukan Pemerintah Jokowi hari ini sepertinya tak dihiraukan pasar, keijakan demi kebijakan ditempuh, rupiah tetap melemah dan terus melemah. Bahkan Bank Indonesia sudah melakukan invensi pasar dengan menghabiskan cadangan devisa US$13 miliar, plus menaikkan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate tiga kali, tapi lagi-lagi rupiah terus melemah.

Di tengah ketidakberdayaan kebijakan untuk membendung pelemahan rupiah, Presiden Jokowi dan para menterinya pun belakangan berupaya menghibur diri dengan meremehkan arti lunglainya rupiah belakangan ini.

Seperti Presiden Jokowi mengungkapkan warga tidak perlu khawatir tentang buruknya ekonomi saat ini. Ia mengklaim bahwa tekanan ekonomi dirasakan oleh semua negara.

“Baik yang berkaitan dengan perang dagang antara Amerika Serikat dan China, juga yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga The Fed di Amerika, yang kita tidak bisa mengintervensi apapun,” kata Presiden Jokowi saat bertemu dengan sejumlah wali kota di Istana Kepresidenan Bogor, belum lama ini.

Semua negara, ungkap Presiden, mengalami tekanan tersebut. Karena itu, Presiden Jokowi meminta agar para wali kota tidak perlu terlalu khawatir.

“Semua negara, sekali lagi, ini mengalami. Jadi saya kira kita juga tidak perlu terlalu khawatir, tetapi yang paling penting menurut saya kita tahu apa yang sedang terjadi,” ujar Presiden menegaskan.

Hal senada diungkap Menko Perekonomian Darmin Nasution yang meminta masyarakat tidak panik, mengingat rupiah yang anjlok ke titik terendahnya. Bahkan Darmin menganggap kejadian ini bukan sebagai bahaya. Sebab, ada sisi positif dari nilai tukar tersebut untuk ekspor Indonesia.

“Jangan menganggap kurs itu kalau masih ada perubahan Rp50 atau Rp100 itu bahaya, enggak ada bahayanya di situ. China bahkan sengaja melemahkan mata uangnya,” kata Darmin.

Darmin menceritakan bahwa di China, kebijakan moneternya dengan membiarkan mata uangnya terus melemah agar barang diekspor lebih murah sehingga dapat bersaing.

“Begitu mata uang dia terus melemah dia enggak mau intervensi, nah negara-negara di sekitar dia ikut melemah juga,” ujarnya.

Lebih kontras lagi Menko Kemaritiman mengangggap rupiah kondisinya bagus, jadi tidak akan berbahaya bagi perekonomian. “Rupiah bagus kok. Nggak apa-apa,” ketusnya singkat.

Luhut menilai tak ada yang perlu dikhawatirkan. “Rupiah biasa, nggak apa apa,” kata Luhut kepada wartawan di kantornya beberapa hari laklu.

Luhut menjelaskan, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam keadaan bagus. Maka diyakini mampu menghadapi gejolak dolar.

“Rupiah bagus kok, anu kita semua, fundamental ekonomi kita, inflasi bagus, memang karena account deficit (defisit neraca berjalan) kita, tetapi dengan kita mau gunakan B20 (campuran kelapa sawit 20%) kita hitung kita akan bisa penerimaan kira kira hampir US$ 4 miliar dalam 2 tahun ke depan,” terang Luhut.

Lain halnya dengan Rizal Ramli, Mantan Menko Perekonomian era Gus Dur ini menyebut harga kebutuhan pokok di Indonesia lebih tinggi dibanding harga produk sejenis di tingkat internasional.

“Kan enggak masuk akal, harga-harga di Indonesia dua kali (lebih mahal) daripada di luar negeri, padahal rakyatnya miskin. Misalnya harga gula dua kali dari harga internasional, harga daging dua kali, harga bawang putih dua kali, harga segala macam dua kalinya,” jelas Rizal.

Bandingkan dengan Perdana Menteri Mahathir Mohamad saat pertama menyambut pidato kemenangannya, ia langsung menyatakan akan menangkap para koruptor karena menyebabkan Malaysia jatuh dalam krisis. Perdana Menteri Najib Razak telah meninggalkan utang Malaysia selepas kepemimpinannya sebesar Rp3.650 triliun atau 65% dari PDB.

Itu sebabnya, selain akan menangkap 100 orang penyebab Malaysia terkena krisis dan tindakan korupsi, Mahathir juga memotong gaji dirinya dan para menteri kabinetnya sebesar 10% sebagai bentuk sense of crisis. Tak hanya itu, jika itu tidak cukup maka ia akan sampai pada suatu tahap terpaksa memotong gaji pekerja kerajaan Malaysia.

Selain mengurangi belanja negara, Mahathir juga menutup sejumlah jabatan yang tumpang-tindih, lewat penyatuan, penutupan atau tetap pada struktur sebelumnya.

Mahathir juga akan memangkas proyek-proyek mahal yang dijalankan oleh Najib Razak. Di antaranya adalah megaproyek pembangunan jalur kereta cepat Kuala Lumpur–Singapura.

Bahkan Mahathir juga menghapus pajak barang dan jasa (Goods and Services Tax–GST) yang tahun ini mendatangkan pendapatan sekitar US$11,05 miliar atau Rp163 triliun ke kas pemerintah dan menerapkan kembali subsidi bahan bakar minyak di tengah kenaikan harga minyak dunia.

Penghapusan GST ini adalah salah satu prioritas Mahathir untuk mengurangi biaya hidup dan mengurangi tekanan ekonomi dari rakyatnya. Dan bagaimana mereka ingin mengurangkan biaya hidup? Tentulah dengan subsidi dan juga bantuan kerajaan.

Penyebab rupiah melemah

Mestinya Pemerintah Jokowi juga mengirim sinyal soal sense of crisis tersebut dan bukannya menghibur diri dengan pernyataan-pernyataan santi. Padahal pelemahan rupiah memiliki akar persoalan yang serius seperti.

Pertama, penyebab melemahnya rupiah akibat imbas penguatan tajam dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebanyak empat kali dalam tahun ini.

Selain itu menguatnya dolar AS juga karena dipicu oleh meningkatnya imbal hasil (yield) surat berharga AS (treasury bill-T Bill).

Kedua, dampak perang dagang AS dengan China yang berimbas pada kekhawatiran pasar, sehingga pasar lebih merasa tenang dalam situasi seperti itu dengan menggenggam dolar AS. Itu sebabnya dolar AS menguat terhadap seluruh mata uang dunia, tanpa kecuali terhadap dolar AS.

Ketiga, komplikasi defisit perdagangan yang terus melebar, sampai Mei 2018 besaran defisit pedagangan sudah mencapai US$2,84 miliar atau ekuivalen Rp40,61 triliun.

Keempat, melebarnya defisit sampai bulan Mei 2018 dipicu oleh derasnya arus impor komoditas pangan seperti beras dan gula sebagai penyumbang terbesar. Disamping juga impor barang modal dan tenaga asing untuk menopang pembangunan infrastruktur yang gegap gempita

Kelima, kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$79 per barel sedikit banyak menjadi pemicu pelemahan rupiah. Karena harga minyak acuan dalam APBN 2018 ditetapkan sebesar US$48 per barel, artinya terjadi defisit US$28 per barel antara target dengan realisasi.

Sementara Indonesia dalam posisi net importir minyak mentah sebesar 1,4 juta barel per hari, sementara kebutuhannya 2,2 juta barel per hari, mengingat produksi kita per hari hanya 800.000 barel per hari. Ini yang menjelaskan mengapa pertamax dan pertamina dex belakangan naik karena memang mengikuti pergerakan pasar.

Artinya, dengan rupiah yang melemah, ditambah harga minyak yang melambung, maka terjadi pukulan ganda atas fiskal kita. Sehingga biaya yang harus dikeluarkan untuk mengimpor minyak makin membengkak.

Keenam, ada kebutuhan dolar AS yang besar untuk kebutuhan untuk melunasi utang pokok dan bunga atas utang valas baik dari pemerintah, BUMN dan swasta.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yg jatuh tempo di 2018 mencapai US$9,1 miliar yang terbagi menjadi US$5,2 miliar utang pokok sementara US$3,8 miliar sisanya adalah bunga. Belum lagi cicilan pokok dan bunga utang BUMN dan swasta yang diperkirakan mencapai US$15 miliar.

Dari gambaran di atas, sepertinya Pemerintah Jokowi, meski sudah dibantu BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sepertinya sudah kehabisan akal. Sehingga rupiah melemah lagi dan melemah lagi tanpa ada kejelasan kapan stabil, apalagi kapan menguat.

Sudah seharusnya Pemerintah Jokowi tak menganggap remeh pelemahan nilai tukar rupiah, termasuk perlu menyampaikan pesan adanya sense of crisis. Bukannya malah santai dan terkesan pesta pora.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here