Meski Surplus, Aktor-aktor Bawang Merah Perlu Diwaspadai

0
143
Pada bulan Agustus 2017, Indonesia telah mengekspor bawang merah ke Thailand dan Singapura sebanyak 9 kontainer (247.5 ton) dengan nilai mencapai USD 436.500 atau setara dengan Rp 4,7 miliar. Namun ekspor bawah merah justru dinilai melemahkan petani lokal, belum lagi permainan mafia bawang.

Nusantara.news, Nganjuk – Indonesia pada bulan Agustus 2017 telah mengekspor bawang merah ke Thailand dan Singapura sebanyak 9 kontainer (247.5 ton) dengan nilai mencapai USD 436.500 atau setara dengan Rp 4,7 miliar di Surabaya. Dan Jawa Timur menjadi daerah sentra produksi bawah merah, seperti Probolinggo, Malang, Sampang, Kediri, Pamekasan, Nganjuk, dan Bojonegoro.

Ekspor bawang merah dari Surabaya ini membuktikan bahwa Kementan tidak hanya berhasil mewujudkan swasembada, akan tetapi tepatnya mewujudkan kedaulatan bawang merah.

Tercatat, sejak tahun 2016 hingga saat ini, Indonesia sudah tidak lagi mengimpor bawang merah, akan tetapi terus mencatatkan diri sebagai pengekspor bawang merah.

Berdasarkan data BPS, pada tahun 2014 Indonesia masih mengimpor bawang merah untuk konsumsi dan benih sebesar 74.903 ton. Kemudian di tahun 2015 total impor sebesar 17.429 ton, namun di tahun 2016 tidak ada impor (NOL) untuk bawang merah konsumsi, dan bahkan tetap mampu mengekspor sebesar 735 ton.

Apakah kita patut bersyukur dan berbangga hati? Benarkah kita sudah mewujudkan swasembada bawang merah, dan mampu mencapai kedaulatan bawang merah?

Sayangnya, ekspor bawah merah ini justru melemahkan petani lokal. Seperti yang dialami Sudiman, petani asal Desa Selorejo, Kecamatan Bagor, Nganjuk. Meski bawah merah panen berlimpah, namun selama dua minggu harga bawang merah terus turun.

Harapan petani bawang merah di Nganjuk untuk mendapatkan untung tinggi dalam musim panen tahun ini, pupus. Pasalnya, di awal musim panen Agustus harga bawang merah langsung anjlok. Jika harga normal bawang merah di kisaran Rp 15 ribu per kilogram, pengepul hanya membeli bawang merah dengan harga Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per kilogramnya.

Baca juga: Ekspor Bawang Merah, Sudahkah Kebutuhan Nasional Cukup?

Dari Juli hingga September, harga bawang merah justru makin melejit. Kedaulatan bawang merah yang digembor-gemborkan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman hanya menjadi bumerang bagi petani lokal, dan tentunya rakyat.

Jika ekspor bawang merah terus digenjot dari Agustus hingga Oktober atau panen raya jatuh di bulan Desember atau sebelum musim penghujan turun, bukan tidak mungkin kebutuhan nasional akan mengalami defisit.

Untuk diketahui, harga bawang merah di Nganjuk diprediksi akan terus merosot seiring dengan banyaknya petani yang panen. Untuk menormalkan kondisi, biasanya menunggu hingga 9 bulan ke depan.

Kenaikan harga bawang merah di Pasar Induk juga bervariasi. Ada pedagang yang menjual Rp 40 ribu/kg, Rp 45 ribu hingga Rp 48 ribu. Sebelumnya, harga bawang merah dijual Rp 35 ribu/kg.

“Untuk bawang merah memang mengalami kenaikan dari Rp 40 per kilo sampai Rp 45 kilo,” sebut Umar, pedagang di Pasar Induk.

Kenaikan harga bawang merah sejak beberapa hari ini, lanjutnya, karena pasokan bawang merah berkurang. Sementara persediaan bawang merah di Pasar Induk diakuinya masih ada.

Dengan alasan stok berlimpah dan permintaan dari luar banyak, justru kebijakan ekspor bawang merah malah dimanfaatkan banyak pihak untuk memainkan harga.

Saat ini memang mencatat banyak aktor yang terlibat dalam proses distribusi dari petani ke konsumen sehingga membuat harga bawang merah selalu melonjak. Dibanding impor, bawang merah yang diekspor justru membuat rantai pasokan bawang merah di Pulau Jawa dapat dikendalikan oleh aktor-aktor. Dan parahnya, lonjakan itu baru akan normal setelah menunggu 9 bulan.

Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Susanawati menilai, pihaknya telah melakukan penelitian terkait rantai pasok bawang merah. Untuk analisa rantai pasok tersebut, ia menggunakan wilayah yang ada petani bawang merah, seperti Nganjuk. Sedangkan pasar, ia memilih Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) Jakarta sebagai pusat konsumen.

Hasil analisanya, ia menemukan, rata-rata ada tujuh hingga delapan aktor yang terlibat dalam alur produksi hingga sampai ke konsumen. Selain itu ada tiga aliran yang sangat berpengaruh dalam alur tersebut yaitu produk, info dan uang.

“Saya menemukan aliran produk dari petani ke konsumen lancar di ketiga tempat tersebut. Tetapi informasi dan uang antar aktor ada yang tidak lancar. Contohnya, aliran uang antar calo ke petani dan aliran informasi antara bandar di pasar dan pengumpul besar. Ini yang kemudian mengakibatkan fluktuasi harga  bisa melonjak tinggi,” terangnya dalam rilis yang diterima Nusantara.News.

Selain itu, lanjut dia, ada keterkaitan dari ketiga wilayah tersebut, seperti ada kenaikan harga yang terjadi secara serentak. Ia menemukan, ada waktu yang dibutuhkan agar harga kembali menjadi normal setelah mengalami kenaikan, yang rata-rata harus menunggu hingga sembilan bulan. Sebagian besar tidak lancarnya distribusi, disebabkan adanya permainan harga yang dilakukan sekelompok orang dalam rantai pasok tersebut.

“Saya menyarankan, pemerintah memaksimalkan peran koperasi bawang merah, untuk pemasaran. Penertiban perdagangan ilegal serta pembatasan impor saya kira juga dapat dilakukan untuk lebih mengutamakan keamanan pasar dalam negeri,” tegas dia.

Langkah penyelamatan itu harus dilakukan, mengingat bawang merah merupakan bumbu setiap dapur di Indonesia. Sebagian besar masakan rumahan menggunakannya sebagai bahan dasar. Sehingga bawang merah masuk sebagai komoditas penting dalam aktivitas perdagangan di berbagai pasar di Indonesia.

Surga Bawang Merah jadi Boneka Mafia

Jawa Timur selama ini menjadi surga bawang merah. Daerah penghasil bawang merah, yakni Probolinggo, Malang, Sampang, Kediri, Pamekasan, Nganjuk, dan Bojonegoro. Di Kabupaten Nganjuk, bawang merah bukan hal yang mengherankan. Di mana-mana terlihat banyak orang menanam, memanen, menjemur, atau memperjualbelikan bawang merah.

Di pasar Sukomoro, dapat dipilih sebagai surga bawang merah. Pasar yang terletak di Jalan Surabaya-Madiun, Kecamatan Sukomoro ini dikenal sebagai pasar yang mengkhususkan diri pada transaksi jual-beli bawang merah. Di setiap sudut pasar ini hanya akan ditemui penjual dan pembeli bawang merah.

Bawang merah yang dijajakan biasanya sudah dikemas dalam karung-karung ukuran satu kuintal, sehingga kebanyakan pembeli di Pasar Sukomoro adalah mereka yang bermaksud menjual kembali bawang merah yang dibelinya.

Akan tetapi, Anda tak perlu khawatir apabila bermaksud membeli sekadar satu atau dua kilogram saja, karena beberapa pedagang juga melayani pembelian secara ecer.

Namun sangat disayangkan jika harga komoditi petani bawang merah selama ini hanya dijadikan mainan para spekulan dan distributor nakal. Panjangnya rantai distribusi membuat disparitas harga komoditi pertanian di tingkat petani dengan di pasaran sangat lebar. Seperti disebut di atas, mereka memainkan tiga aliran yang sangat berpengaruh dalam alur tersebut yaitu produk, info dan uang.

Sebenarnya ketika pemerintah hendak menurunkan harga bawang merah di tingkat konsumen, tinggal memangkas peran middle man yang membuat sistem distribusi menjadi sangat panjang dan mahal. Setelah berhasil membenahi infrastruktur pertanian dan mengatur pola tanam secara bergantian antar kelompok tani, Kementan tinggal merampingkan distribusinya.

Zonasi bisa menjadi salah satu alternatif untuk menekan biaya. Misalnya bawang merah produksi Brebes dan Cirebon dilarang dibawa keluar Jawa, terutama daerah-daerah yang berdekatan dengan sentra bawang merah di luar pulau Jawa seperti Nusa Tenggara. Demikian juga bawang merah asal Bima, tidak perlu masuk ke pasar Jabodetabek. Pemerintah juga bisa mengaktifkan Bulog untuk menyerap bawang merah dari petani untuk kemudian didistribusikan sesuai permintaan pasar.

Jika saat ini kondisinya mendesak karena hasil panen diekspor, pemerintah masih bisa mengambil langkah darurat seperti operasi pasar di daerah-daerah dengan lonjakan harga bawang merah di atas kewajaran. Faktanya harga tinggi itu hanya terjadi di Pasar Induk. Di daerah lain, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur, harganya malah di kisaran Rp 40 ribu/kg, Rp 45 ribu hingga Rp 48 ribu.

Banyak kelompok importir bawang merah yang diuntungkan dengan kegiatan ekspor. Dengan adanya isu kelangkaan, beberapa distributor otomatis menahan bawang merahnya untuk menunggu momen lonjakan harga sehingga mendapat untung berlipat-lipat. Para mafia bawang ini cukup cerdas menggali kondisi baik soal impor maupun ekspor. Petani bawang merah pun ‘dibunuh’ pelan-pelan.

Apapun alasannya, surplus produksi dengan melakukan ekspor menggambarkan buruknya manajemen kementerian-kementerian di bawah Kemenko bidang Perekonomian. Revolusi mental semestinya diterapkan terlebih dahulu pada menteri-menteri yang memegang peranan strategis karena langsung berhubungan dengan hajat masyarakat kecil, dan bukan gara-gara mengejar target dan popularitas di mata presiden. Pemerintah harus hadir secara nyata, memberikan perlindungan kepada kaum tani, buruh, nelayan, dan kelompok masyarakat marjinal lainnya yang selama ini tidak berdaya menghadapi mafia pasar. Jika persoalan ini saja tidak dapat diatasi, maka jangan bicara muluk-muluk tentang kedaulatan bawang merah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here