Mestinya Kami Menang

0
161

BESOK, 17 April 2019, Pemilihan Umum digelar serentak. Hanya satu hari. Efektifnya, sih, bahkan hanya setengah hari. Pemungutan suara dilakukan enam jam saja: Mulai pukul 07.00 sampai 13.00.

Dalam tempo secepat itulah rakyat memilih secara serentak presiden dan wakil presiden, anggota DPR dan DPRD serta anggota DPD. Mungkin itu bisa menjadi rekor yang diraih Indonesia dalam urusan pemilu.

Bahkan tak hanya itu, pemilu kita punya berbagai hal yang luar biasa. Banyak yang mengatakan pemilu kita adalah yang paling rumit di dunia. Untuk jumlah pemilih, kita hanya kalah dari India dan Amerika Serikat.

Di India, yang kebetulan juga menyelenggarakan pemilu berbarengan dengan Indonesia, ada 930 jutaan pemilih. Di AS tercatat 231 juta pemegang hak pilih. Sedangkan jumlah pemilih pemilu kita, 192.866.254 orang. Itu adalah Daftar Pemilih Tetap hasil perbaikan ketiga (DPThp 3) yang diumumkan KPU pada tanggal 8 April kemarin.

Tapi, pemilu di India kendati diikuti oleh hampir satu miliar pemilih, pelaksanaannya dilakukan bergiliran di berbagai negara bagian selama hampir dua bulan. Pemilu mereka kali ini diselenggarakan mulai 11 April sampai 19 Mei 2019. Apalagi, pemilu di India menggunakan sistem distrik. Dalam sistem ini, setiap partai hanya mencalonkan satu kandidat (single member distric). Cara ini jelas lebih sederhana dibanding sistem proporsional terbuka seperti pemilu kita. Dalam pemilu kita, setiap partai mengirimkan caleg sebanyak 120 persen dari total kursi yang diperebutkan di dapil.  Apalagi India sudah menggunakan e-voting sejak pemilu 2004, sementara kita masih dengan cara manual, mencoblos surat suara.

Ada 7.968 orang calon anggota DPR dari 16 partai politik yang berkompetisi di 80 daerah pemilihan. Mereka bertarung memperebutkan 575 kursi DPR. Sementara 136 kursi DPD akan diperebutkan oleh 807 orang calon senator. Belum lagi 245.000 orang caleg DPRD yang memperebutkan sekitar 20.500 kursi di 34 provinsi dan 500-an kabupaten/kota.

Besok sebanyak 190.779.969 pemilih di dalam negeri akan memberikan suaranya. Pemungutan suara dilaksanakan di 809.500 tempat pemungutan suara (TPS). Setiap TPS akan melayani maksimal 300 orang pemilih pada saat hari pencoblosan. Pemilih di luar negeri sebanyak 2.086.285 orang sudah mengikuti pemilu pada tanggal 8-14 April kemarin, walaupun pelaksanaannya mengalami kekusutan di sana-sini sehingga banyak warga Indonesia di mancanegara yang tak bisa menyalurkan hak politiknya.

Itu semua adalah rekor-rekor faktual penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Tetapi rekor faktual ini tidak ada artinya tanpa pencapaian substansial dari pelaksanaan pemilu tersebut.

Karena itu pemilu setengah hari ini tak boleh kita pandang setengah hati, baik dalam memberikan hak pilih maupun mengkritisi proses lanjutannya sampai berujung di penetapan hasil penghitungan suara.

Sebab, substansi pemilu sebagai pesta demokrasi tidak terletak pada siapa yang terpilih.  Presiden terpilih atau anggota parlemen terpilih itu hanyalah hasil. Sedangkan substansi pemilu terletak pada proses. Apakah dalam proses itu terdapat hal-hal yang menciderai demokrasi? Apakah ada permainan curang, seperti penggelembungan suara, mencurangi hasil penghitungan, dan sebagainya?  

Jika proses dalam pesta demokrasi itu cacat, apa pun hasilnya dan siapa pun pemenangnya, niscaya pemilu ini tiada berguna.

Karena ini adalah pesta demokrasi, seharusnya rakyatlah yang bersuka ria di situ. Dalam pesta ini merekalah yang berdaulat. Pemilu akan tersesat dari makna sejatinya jika yang berpesta adalah lembaga-lembaga seperti KPU, Bawaslu, atau pemangku kepentingan lain dalam penyelenggaraan pemilu. Layaknya dalam pesta, lembaga-lembaga itu hanyalah among tamu yang melayani empunya pesta, yaitu rakyat.  

Tugas para among tamu itu adalah memastikan agar seluruh proses dalam representasi simbol kedaulatan rakyat ini terselenggara secara sempurna.  Pemilu harus terlaksana dengan berkualitas, karena itu pintu gerbang bagi bangsa ini memasuki masa depan yang lebih baik.

Pemilu ini selain sarana memilih pemimpin, juga sarana memenangkan rakyat. Keduanya harus disebut dalam satu tarikan nafas. Tidak ada gunanya negeri ini mendapatkan pemimpin, kalau kalau kami –rakyat negara ini—tidak mendapatkan kemenangan. Rakyat menang jika kekuasaan tidak menjadi pesta pora. Rakyat menang jika pemimpin mengerti apa yang harus diperbuatnya untuk bangsa.  

Jika itu bisa kita dapatkan, berarti pemilu setengah hari ini  layak kita hadapi sepenuh hati.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here