Migas Untuk Rakyat, Lampu Merah Untuk Pertamina

0
104

Nusantara.news, Kota Malang – Untuk mendalami persoalan politik migas nasional Universitas Brawijaya, Malang, menggelar Forum Diskusi.  Kegiatan yang dihadiri oleh para akademisi ini bertujuan memetakan dan mengidentifikasi kondisi migas dewasa ini. Mengambil tema “Migas untuk Rakyat?” kegiatan ini berlangsung di Gd. Utama FEB UB, Senin (20/2/2017). Kegiatan juga dibarengi dengan telaah buku Sistem Ekonomi Indonesia karya dari Prof Munawar Ismail, Dwi Budi Santosa Ph.D dan Prof. Erani Yustika.

Hadir dalam kegiatan ini antara lain adalah Prof Munawar Ismail DEA dan Budi Dwi Santosa Ph.D (UB Malang), Dr. Ir. M . Taufik (ITS Surabaya), Prof Dr M. Saleh (UNEJ Jember), Dr. Ahmad Jalalludin (UIN Malang), Dr. Sutikno (UTM Madura).

Dalam forum diskusi tersebut beberapa akademisi mempertanyakan kesungguhan pemerintah dalam pengelolaan migas berdasarkan pada amanat Pasal 33 UUD 1945. “Kami berharap, bisa berdiskusi, sharing informasi dan berbagi pandangan tentang masa depan migas Indonesia, sesuai dengan Amanat UUD 1945,” ujar Prof Munawar.

Kasus pencopotan Dirut dan Wadirut Pertamina pada Januari lalu juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam forum ini. Pandangan yang mengemuka di dalam forum terkait dengan pencopotan dua pucuk direksi Pertamina itu adalah bahwa BUMN ini tidak terlepas dari permainan mafia/kelompok berkepentingan. Perisitiwa tersebut diduga terkait dengan rencana holdingisasi BUMN yang bergerak di sektor pengelolaan SDA. Forum bependapat, akan sangat berbahaya jika Pertamina dijadikan sebagai bagian dari Holding Company.

Prof Munawar meginginkan agar forum semacam ini dapat berkelanjutan. Dengan begitu, akan terurai konflik yang ada di Pertamina serta jaringan kepentingan besar non-negara di tubuh BUMN tersebut.

“Kemakmuran rakyat terus dicuri oleh kelompok yang berkepentingan. Bagaimana bisa selama 70 tahun merdeka migas indonesia tak mampu mensejehterakan rakyat. Singapura tak memiliki sumur minyak, namun menjadi pengekspor migas. Bagaimana dengan Indonesia?” tanyanya.

Lebih lanjut Guru Besar FEB UB itu menegaskan, sudah saatnya kita bangun kesadaran, terutama antara akademisi dan rakyat, agar bersatu untuk munggugat kondisi migas di Tanah Air. Forum ini juga memberikan tanda “orange dan merah” terhadap kondisi migas nasional. Tanda ini bermakna bahwa diperlukan sikap hati hati dalam pengelolaan migas. Penguasaan migas cenderung kapitalistik, tidak berpihak pada kemakmuran rakyat

“Turut prihatin, karena 70 Tahun merdeka namun rakyat masih belum makmur dan sejahtera, padahal kita memiliki migas yang lumayan. Oleh karena itu mulai dari Forum kecil ini kita akan buat suatu gerakan yang membawa pada perubahan, diawali dari Jawa Timur. Kita menggugat pengelolaan migas,” tandas Prof Munawar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here