Teror Marawi

Milisi Filipina, dari Separatis ke ISIS

0
187
Pemandangan basis kelompok Maute dengan sebuah bendera ISIS di kota Marawi di selatan Filipina, Senin (29/5). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news – Dalam sepekan terakhir pemerintah Filipina disibukkan oleh teror kelompok milisi bersenjata di kota Marawi, Filipina Selatan. Sebetulnya, teror berupa penyerangan dan pendudukan kota itu, dilakukan oleh kelompok milisi lama, yaitu kelompok Maute, para alumni dari MILF (Moro Islamic Liberation Front). Tapi karena kejadian itu bermula dari upaya penangkapan pemimpin faksi Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, yang diidentifikasi sebagai pemimpin ISIS di Filipina saat ini, maka disebutlah aksi penyerangan itu dilakukan kelompok ISIS. Apalagi sehari sebelumnya terjadi bom bunuh diri di Manchester, Inggris, dan setelah itu bom Kampung Melayu di Jakarta yang kesemuanya diduga terkait ISIS.

Apakah benar ISIS berada di balik teror Marawi?

Tidak mudah menjawabnya, pasalnya Filipina Selatan sendiri memiliki sejarah yang panjang terkait teror kelompok bersenjata dengan berbagai latar belakang, dari mulai gerakan separatisme, agama, hingga kriminal berlatar belakang ekonomi seperti Abu Sayaf, mereka telah eksis bahkan sebelum ISIS ada.

Sejumlah kalangan baik dari pengamat terorisme maupun pejabat, salah satunya Walikota Butig, Ibrahim Macadato, meragukan kelompok Maute telah terafiliasi dengan ISIS. Menurutnya, Meski mereka kerap membawa bendera dan simbol-simbol ISIS, tapi belum tentu terafiliasi dengan ISIS, hanya saja mungkin mereka tengah berupaya agar terhubung dengan ISIS.

Teror kota Marawi yang berlangsung sejak Selasa (23/5) minggu lalu, menurutnya adalah bagian strategi kelompok Maute, yang relatif kecil, untuk menarik perhatian ISIS. Butig merupakan kota kecil di Filipina Selatan, tempat dimana kelompok Maute dan Abu Sayap bermarkas di sana.

Namun begitu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte, yang awalnya tidak yakin bahwa aktivitas teror di Filipina selama ini merupakan bagian dari ISIS, perlahan mulai meyakini bahwa kelompok-kelompok tersebut telah terhubung dengan ISIS. Penandanya, bahwa penyerangan terhadap kota Marawi yang dilakukan kelompok Maute merupakan pembelaan terhadap Hapilon, tokoh yang oleh intelijen AS diidentifikasi sebagai jaringan ISIS yang sangat berbahaya, sehingga kepala Hapilon dihargai USD 5 juta oleh pemerintah AS.

Marawi adalah kota di Filipina Selatan, sebelumnya dikenal dengan nama Dansalan, ibukota Provinsi Lanao. Kota itu kemudian resmi berganti nama menjadi “Kota Islam Marawi” setelah diusulkan melalui RUU Parlemen 261 era rezim Ferdinand Marcos.

Lebih dari 90 persen dari sekitar 100 juta penduduk Filipina adalah penganut Kristen. Tapi di Marawi, Muslim menjadi warga mayoritas. Pada tahun 1980 Marawi resmi diproklamirkan menjadi “Kota Islam” dan menjadi satu-satunya kota di Filipina dengan sebutan nama Islam.

Meski menjadi kota Islam, Marawi tetap menjadi rumah yang damai dan nyaman bagi komunitas Kristen, yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Namun, hari-hari terakhir ini Marawi tiba-tiba berubah menjadi kota horor. Kelompok Maute, yang merupakan bagian dari MILF dilaporkan telah mengeksekusi sejumlah warga sipil dan menyandera banyak warga lainnya, termasuk dari komunitas Kristen.

Kedamaian di Marawi mulai terganggu setelah sebelumnya tentara Filipina dilaporkan mengebom basis kelompok Maute yang berjarak sekitar 50 km dari Marawi. Akhirnya, pertempuran yang semula kerap terjadi di hutan-hutan Filipina Selatan, sekarang berpindah ke wilayah perkotaan, dan Marawi sebagai Kota Islam dianggap simbol yang tepat oleh para milisi itu untuk memulai “pertempuran”.

Para analis soal terorisme di Asia Tenggara, salah satunya Sidney Jones, telah memperingatkan beberapa waktu lalu bahwa keberadaan Negara Islam atau yang dikenal dengan ISIS telah menjadi landasan baru bagi para ekstremis di berbagai wilayah untuk melakukan kerja sama, termasuk di Asia Tenggara seperti Filipina, Malaysia, Singapura dan Indonesia.

“Kemunduran mereka di Suriah maupun Irak justru telah meningkatkan pentingnya ‘panggung’ lain untuk ISIS, dan di Asia Tenggara, fokusnya adalah Filipina,” kata Sidney Jones, direktur Institute for Policy Analysis of Conflict yang berbasis di Jakarta.

“Pendukung ISIS di seluruh wilayah telah didesak untuk bergabung dalam jihad di Filipina jika mereka tidak dapat pergi ke Syria, dan untuk berperang di negaranya sendiri jika mereka tidak dapat bepergian (ke luar negeri) sama sekali,” kata Jones.

Memang belum ada bukti yang kuat bahwa teror Marawi, atau bom Kampung Melayu di Jakarta terkait langsung dengan ISIS Timur Tengah, kecuali pernyataan dari saluran berita kelompok ISIS Amaq yang menyatakan bahwa ISIS bertanggung jawab atas sejumlah peristiwa tersebut.

Presiden Filipina Duterte telah bertindak dengan memberlakukan darurat militer untuk seluruh Mindanao, Filipina Selatan, sejumlah milisi pun telah berhasil dilumpuhkan, dimana diketahui diantaranya berkewarganegaraan Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Arab. Hal yang semakin menguatkan bahwa kelompok Maute telah melibatkan jaringan ekstremisme global. Mereka rupanya berevolusi.

“Apa yang terjadi di Mindanao bukan lagi pemberontakan warga Filipina (separatis),” kata Jose Calida, jaksa agung Filipina. “Ini telah menyebar menjadi sebuah invasi oleh teroris asing atas anjuran ISIS untuk pergi ke Filipina jika mereka menemukan kesulitan untuk pergi ke Irak atau Suriah,” tegasnya.

Akar terorisme Filipina

Terorisme di Filipina sebetulnya bukan baru kali ini. Filipina selatan sejak lama telah menjadi tempat bagi berkembangnya aktivitas terorisme. Organisasi militan seperti Kelompok Abu Sayyaf dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) beroperasi di kepulauan Sulu dan pulau paling timur Mindanao. Dapat dimaklumi, medan yang sulit, penegakkan hukum yang lemah, serta masih tumbuhnya rasa ketidak-adilah di kalangan minoritas Muslim di negara tersebut, ditambah akutnya kemiskinan, membuat sulit bagi pemerintah Filipina untuk membasmi mereka.

Selain itu, pemerintah Filipina memiliki kontrol yang lemah terhadap kepulauan Sulu dan pulau Mindanao. Pemerintah juga memiliki masalah dalam memerangi kebencian di kalangan minoritas Muslim setempat.

Akibatnya, Filipina bagian selatan menjadi semacam rumah yang nyaman bagi kelompok-kelompok militan, termasuk Kelompok Abu Sayyaf, Partai Komunis Filipina/Tentara Rakyat Baru, Jemaah Islamiyah, Brigade Alex Boncayao, Gang Pentagon, Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF), dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Selain itu, ada juga Gerakan Rajah Solaiman, yang keanggotaannya terdiri dari orang-orang Muslim Filipina yang diduga terlibat Al Qaeda pada peristiwa 9-11 di AS, serta kelompok Maute yang baru-baru ini membuat kekisruhan di Marawi.

Sejarah terorisme Filipina merupakan sejarah gerakan separatis, mirip Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh. Namun kemudian sekarang kelompok-kelompok separatis itu berevolusi menjadi gerakan terorisme seperti sekarang.

Berawal dari Jemaah Islamiyah yang mencinta-citakan pendirian negara Islam di Asia Tenggara. Lalu muncul ISIS yang ketika itu dianggap sukses di Irak dan Suriah. Jadi, ini semacam bertemunya kepentingan yang sama, separatis sejak lama menginginkan pendirian negara Islam yang terpisah dari Filipina, ISIS menawarkan hal yang sama, bahkan dengan skala yang lebih luas: negara Islam Asia Tenggara.

Memang, sebelum penjajahan Spanyol dan Amerika Serikat di Filipina, Islam telah sampai ke Filipina pada abad ke-14 melalui pedagang Arab. Selama abad ke-15, bagian Luzon (kelompok pulau paling utara) dan Mindanao (kelompok pulau paling selatan) telah menjadi kesultanan Borneo, dengan populasi Muslim yang besar, terutama Mindanao. Baik Spanyol maupun Amerika Serikat sama sekali tidak berhasil menjalankan kontrol penuh atas wilayah-wilayah yang didominasi Muslim itu.

Hingga kini, ketika Filipina menghadapi masalah ketidakstabilan politik, korupsi, tingkat kemiskinan yang tinggi, Mindanao tetap merupakan bagian yang paling tidak berkembang di Filipina. Sementara, di daerah tersebut gerakan separatis seperti MILF dan MNLF serta  Kebebasan Islam Bangsamoro Fighters (BIFF) terus hidup dan berevolusi.

Ada lagi kelompok Abu Sayyaf, yang pada awalnya lahir sebagai kelompok penerus, ketika MNLF berhenti memperjuangkan negara merdeka. Oleh karena itu, tujuan awal Abu Sayyaf adalah melanjutkan perjuangan untuk sebuah negara merdeka. Namun melihat sekarang kegiatan utama kelompok ini adalah mencari dana dari penculikan, membuat gerakan ini dituding hanya bermotif ekonomi.

Filipina selatan, akhirnya tempat yang nyaman bagi kaum ekstremis, termasuk militan dari Indonesia, Malaysia dan negara-negara lain, yang mengungsi ke sana atau berlatih di kamp-kamp di hutan terpencil di sana.

Oleh karena itu, harus diwaspadai oleh Indonesia, karena Filipina selatan sangat dekat dengan Indonesia. Indonesia dan Filipina memiliki hampir 25.000 pulau dan berbagi perbatasan laut dengan patroli keamanan yang relatif longgar. Dengan begitu, militan dapat dengan mudah melakukan perjalanan dengan kapal antara Filipina Selatan dan kawasan timur Indonesia tanpa harus melewati kontrol imigrasi.

Masih ingat, bagaimana Umar Patek dulu berhasil menembus perbatasan dari Indonesia ke Filipina dengan mudahnya. Bukan tidak mungkin, para kombatan “perang” kota Marawi Filipina yang terpojok, baik itu warga Indonesia atau bukan, akan lari ke Indonesia melalui jalur Sulawesi Utara yang longgar secara pengawasan. Tentu, akan menjadi masalah baru bagi Indonesia. Iya, kalau sekadar menjadi pelarian, bagaimana jika mereka memindahkan medan tempurnya ke Indonesia? Apapun, tidak ada salahnya untuk lebih waspada. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here