Militansi Bonek Dukung Persebaya

0
442

Nusantara.news, Surabaya – Catur Prasetya

NUSANTARA.NEWS, Surabaya – Berbicara tentang sepakbola, terutama di Indonesia,  tak dapat dilepaskan dari peran pendukung atau supporter. Tim sepakbola dan para pendukungnya adalah dua entitas yang terpisah. Namun, dalam konteks semangat keduanya sulit dipisahkan. Identitas fans sepakbola juga cukup bervariasi. Tidak hanya kalangan muda, bahkan kalangan orang tua, anak-anak dan kaum hawa pun kerap tenggelam dalam euforia kala mendukung tim kesayangannya berlaga. Fanatisme sepakbola kadang memang membuat orang lupa daratan.

Memperbincangkan fanatisme sepakbola di Tanah Air agaknya kurang afdol jika tidak  mengangkat topik seputar fenomena Bonek—sebutan khas terhadap komunitas penggila sepakbola di Kota Surabaya. Mereka terhimpun dalam apa yang dinamakan sebagai Bonek Mania, pendukung fanatik klub kebanggaan arek-arek Suroboyo, Persebaya Surabaya atau biasa disebut Green Force.

Istilah Bonek sendiri pasti tidak asing lagi di telinga para pecinta bola di Tanah Air, bahkan mungkin juga di dunia. Sayang, fanatisme dan militansi dari bonek mania ini kerap kali dijadikan kereta politik oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mengatasnamakan cinta Persebaya.

Sebutan Bonek sendiri berasal dari akronim bahasa Jawa dari Bondho Nekat (modal nekat). Secara kultural, istilah ini mencerminkan ekspresi keyakinan masyarakat Surabaya yang—  tanpa modal—berani melakukan atau memperjuangankan nilai-nilai yang dinilai positif.

Masih ingat di benak kita bagaimana Bung Tomo bersama arek-arek Jawa Timur pada 10 November 1945 yang hanya bermodalkan persenjataan sangat minim berani melawan tentara Inggris yang bersenjata lengkap dan didukung oleh angkatan laut dan angkatan udara. Kala itu, kota Surabaya yang praktis terkepung oleh bala tentara Inggris dari darat, laut dan udara sama sekali tidak menyiutkan nyali para pemuda. Mereka tahu persis bahwa rasio antara hidup dan mati adalah 1 : 9, toh mereka tetap angkat senjata. Inilah wujud Bonek yang paling melegenda dalam sejarah revolusi nasional Indonesia.

Kini Bonek lebih dimaknai sebagai simbol fanatisme masyarakat Surabaya dalam mendukung kesebelasan kesayangan mereka: Persebaya. Semangat perjuangan pantang menyerah seperti yang didengungkan Bung Tomo muncul dalam bentuk baru. Bonek Mania selalu setia mendampingi Persebaya Surabaya. Tanpa bekal uang dan fasilitas pendukung lainnya, Bonek Mania merelakan diri mereka untuk menempuh cara apapun untuk dapat melihat Persebaya berlaga di kota lain.

Bahkan, militansi dan loyalitas Bonek terus menyala, meski tanpa didampingi pengurus Persebaya lantaran kesebelasan ini dilarang oleh Liga Indonesia. Sebagaimana diketahui, Surat edaran yang dikeluarkan oleh Badan Liga Indonesia nomor : 0156/A-08/BLI-3.1/X/2010 tentang Status Peserta Divisi Utama Liga Indonesia 2010-2011 per tanggal 5 Oktober 2010 menyatakan Persebaya tidak valid mengikuti kompetisi 2010-2011.

Inilah awal dualisme Persebaya Surabaya yaitu Persebaya yang berinduk pada PT. Persebaya Indonesia (PT. PI), kemudian bermain di kompetisi sempalan Liga Primer Indonesia (LPI) dengan nama Persebaya 1927 dan Persebaya Divisi Utama dibawah naungan PT. Mitra Muda Inti Berlian (PT. MMIB).

Atas dasar itu, Bonek menyatakan perang kepada PSSI, seiring keputusannya bahwa  Persebaya DU adalah “asli” dan Persebaya 1927 ialah “imitasi”. Bonek tetap menghendaki Kota Surabaya hanya memiliki satu klub utama. Perjuangan Bonek untuk mendapatkan keadilan kepada PSSI mulai ditabuh. Segala macam cara dilakukan untuk mengembalikan status Persebaya di pentas tertinggi Liga Indonesia. Mereka hanya ingin klubnya bisa berkiprah kembali ke pentas setertinggi sepakbola nasional, lain tidak.

Tiga tahun lamanya Bonek terus melakukan perlawanan kepada PSSI, termasuk membentang spanduk ukuran raksasa yang intinya mosi tidak percaya kepada PSSI. Bonek tetap setia dibelakang Persebaya 1927 meski keputusan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Jakarta pada 17 Maret 2013 menyatakan bahwa Persebaya yang asli adalah yang bermain di Divisi Utama yang kemudian promosi ke LSI.

Dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya pada 18 April 2015, Bonek turut menyuarakan Persebaya. Sekitar 7.000 suporter Persebaya 1927 berunjuk rasa di Jalan Embong Malang, Surabaya, mereka datang dari seluruh penjuru Jawa Timur lengkap dengan segala atributnya. Tua, muda, dewasa bahkan anak-anak membludak menjadi satu, bahkan mereka rela kepanasan dan kehausan demi Persebaya. Boleh jadi ini merupakan unjuk rasa dengan jumlah massa terbesar fans olahraga sepanjang sejarah Indonesia.

Hingga akhirnya perjuangan bonek menyentuh hati Menpora Imam Nahrawi, bahwa Persebaya 1927 dan 6 klub lainnya yang tersisih akan diakomodir sebagai anggota PSSI. Kemudian pada Februari 2016, Kemenkumham menegaskan bahwa Persebaya di bawah PT. PI adalah asli.

Pengawalan Bonek tak berhenti sampai disitu saja. Perjuangannya menuai hasil ketika PN Surabaya memenangkan gugatan atas PT MMIB terkait logo Persebaya. Saat itu sekitar enam ribu Bonek Mania memadati PN Surabaya di Jalan Tidar. Panas dan dahaga tak menyurutkan nyali mereka untuk memperjuangkan nasib Persebaya dengan slogan: “Persebaya….Wani!”

Dua momentum bak angin surga tersebut disambut Bonek dengan aksi proaktif. Bermodalkan dua keputusan pemerintah itu, Bonek makin keras menyuarakan agar PSSI kembali memasukkan Persebaya sebagai anggota –terutama setelah PSSI lepas dari sanksi pemerintah dan FIFA.

Bonek Geruduk Jakarta dan Bandung

Militan suporter Bonek kembali gruduk Jakarta untuk mengawal Kongres PSSI 10 November 2016, bahkan beberapa diantaranya berhasil merangsek ke arena Kongres di Hotel Ancol. Mereka tidak terima dengan keputusan Kongres PSSI yang menolak pembahasan penerimaan kembali anggota.

Persebaya memang menjadi salah satu klub yang awalnya direkomendasikan Exco PSSI untuk diterima kembali sebagai anggota. Sebelumnya Persebaya terbelit kasus dualisme sejak beberapa tahun terakhir. Namun putusan pengadilan pada semester pertama 2016, menyebutkan PT Persebaya Indonesia memenangi gugatan pemakaian nama dan logo Persebaya.

Perjuangan Bonek untuk mendapatkan pengakuan PSSI berakhir pahit. Sesampainya di Surabaya mereka terus menggelar aksi protes dengan cara membentang spanduk di semua sudut-sudut jalan kota Pahlawan yang berisi mosi tidak percaya kepada PSSI dan menuding era kepemimpinan PSSI saat ini hanya berorientasi pada kekuatan uang belaka.

Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum hasil Kongres Jakarta 2016 berupaya untuk mengakomodir Persebaya dan keenam anggota klub yang pernah dihukum PSSI. Berupaya bijak, Jenderal TNI AD ini menjanjikan Persebaya dan keenam klub lainnya untuk diakomodir kembali menjadi bagian PSSI saat kongres tahunan pertama PSSI 2017 di Bandung.

Diperkirakan sekitar 3.000 bonek suporter Persebaya Surabaya menggruduk Bandung pada 8 Januari 2017 meski dapat larangan dari aparat Kepolisian. Tak hanya bonek saja, Bonita (Bonek Wanita) juga tak mau ketinggalan untuk mengawal Persebaya agar kembali diakomodir jadi bagian PSSI. Saat itu mereka menghijaukan Kota Bandung.

Hingga pukul 10.00 wib jumlah bonek yang sudah masuk Bandung 3.285 orang dengan perincian 2.285 bonek pria, dan 1.000 bonek wanita. Kedatangan mereka tak lain adalah memastikan Persebaya kembali ke pangkuan PSSI serta bisa kembali berkiprah di Liga Indonesia. Akhirnya, Ketum PSSI Edy Rahmayadi memutuskan Persebaya dapat kembali ke PSSI, namun harus berkompetisi di Divisi Utama. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here