Miltansi Perempuan, Aliran Dana Asing dan Kekuatan Koopssusgab Berangus Aksi Terorisme

0
172

Nusantara.news, Jakarta – Masyarakat di dunia baru saja dikejutkan oleh serangkaian aksi kejahatan terorisme yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Yang paling membuat publik terhentak yakni munculnya fenomena baru di balik aksi bom bunuh diri di Kota Surabaya dan Sidoarjo.

Dari kelima lokasi bom bunuh diri ternyata seluruh pelakunya melibatkan anggota keluarga. Tak terkecuali, anak-anaknya yang usianya masih di bawah 10 tahun.

Sebut saja peristiwa bom bunuh diri yang terjadi beruntun di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5/2018) pagi. Aksi teror di Gereja Santa Maria Tak Bercela dilakukan dua anak laki-laki berusia 18 tahun dan 16 tahun. Keduanya merupakan putra dari Dita Oepriarto yang juga melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Pantekosta.

Sementara istrinya Puji Kuswati dan kedua anak perempuannya yang berusia 12 tahun dan 9 tahun juga menjalankan aksi serupa di Gereja Kristen Indonesia. Ketiganya secara sadar dan bersama-sama meledakkan diri dengan bom berdaya ledak tinggi. Bom itu dipasangkan di pinggangnya masing-masing.

Baca: Teror di Mako Brimob hingga Bom Bunuh Diri di Surabaya

Tak habis pikir, bagaimana aksi teror bom bunuh diri dilakukan dengan mengorbankan seluruh anggota keluarganya. Sulit dibayangkan pula, bagaimana pada awalnya seorang ibu menggandeng dua orang anak perempuannya, lalu secara serentak meledakan diri di tempat yang dipersepsikan sebagai tempat kafir.

Pantas saja jika aksi keji terorisme ini kemudian sulit diterima semua orang. Itu karena memang sukar dinalar akal sehat, meski telah dijelaskan dengan berbagai teori radikalisme manapun.

Kaum Perempuan Dianggap Lebih Militan

Terkuaknya fakta baru keterlibatan perempuan dan anak-anak dalam aksi teror bom bunuh diri di Kota Surabaya dan sekitarnya langsung masuk  daftar catatan khusus aparatur keamanan Negara. Meski fenomena perekrutan kaum perempuan sudah pernah terjadi sejak beberapa tahun lalu.

Pihak kepolisian berhasil mengungkap motif mengapa kelompok terorisme memanfaatkan perempuan menjadi subyek dan pelaku. Diantaranya, mereka dianggap lebih tidak mencurigakan.

Selain itu, kaum perempuan juga dianggap sangat loyal pada ajaran dan ideologi agama serta lebih militan dalam menjalankan aksinya. Apalagi bagi yang pernah mengalami trauma akibat KDRT, korban konflik keluarga atau perceraian.

Berbagai temuan itu selaras dengan analisa Institute for Policy Analysis and Conflict (IPAC) yang menyebut keterlibatan perempuan dalam aksi-aksi terorisme memang tak cuma sekedar untuk menggalang dana atau menyediakan perlengkapan logistik.

Menurut peneliti terorisme dari IPAC Sidney Jones, serangan yang diinisiasi kelompok ISIS sudah menjadikan masalah teror berkaitan dengan keluarga. Khalifah ISIS telah meminta kepada seluruh pengikutnya untuk  hijrah ke Suriah untuk ikut bertempur.

“ISIS berhasil mengubah konsep jihad menjadi urusan keluarga, dengan peran untuk semua orang. Perempuan adalah ‘singa betina’ anak-anak adalah ‘anak singa’. Setiap orang diberi misi,” ucap Jones.

Aksi Teror Didanai Pengusaha Asing di Sumatera

Sejahat apapun aksi yang direncanakan kelompok teroris pasti tak lepas dari kebutuhan dana. Entah itu untuk keperluan membeli senjata, pengadaan alat dan bahan peledak, memobilisasi para militan, mengongkosi pelatihan tempur, sampai dengan membangun jaringan antar kelompok terorisme.

Hal ini rupanya juga menjadi perhatian serius pemerintah dalam upaya memutus urat nadi jaringan aksi terorisme di Tanah Air. Badan Intelijen Negara (BIN) mengungkapkan, aksi serangan brutal teroris yang terjadi beruntun selama pekan kemarin, diduga mendapat sokongan dana dari pengusaha asing yang berinvestasi di Sumatera. “Itu masih terus pendalaman ya jadi tidak bisa dibuka dulu,” kata Direktur Komunikasi BIN Wawan Hari Purwanto.

Wawan menambahkan, tidak menutup kemungkinan masuknya pengusaha-pengusaha asing penyuplai dana teroris itu karena adanya dukungan dari orang Indonesia sendiri. Karenanya dia meminta agar seluruh elemen bangsa untuk terus berhati-hati.

Baca: Bom Bunuh Diri Masih Mengancam

“Ini adalah warning bahwa ada yang bermain di negeri kita ini. Kita semua harus waspada,” ungkapnya.

Sebelumnya, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pada tahun 2016 pernah membeberkan hulu-hilir daftar Negara penyokong dana terorisme ke Indonesia. Empat negara asal terbanyak mengalirkan uang itu adalah Australia, Malaysia, Singapura dan Filipina.

PPATK juga mencatat aliran dana terorisme yang mengalir dari Indonesia ke luar negeri. Aliran dana terbanyak yang dialirkan dari Indonesia yakni ke Australia sebanyak 6 kali dengan dana berjumlah Rp 5,38 miliar.

Pasukan Elit Koopssusgab Jangan Overlapping

Dilibatkannya seluruh anggota keluarga sebagai pelaku teror mengindikasikan radikalisme dan militansi teroris di Indonesia menjadi ancaman serius. Kembalinya 500-an veteran ISIS ke Indonesia juga merupakan ancaman yang tak main-main.

Untuk menangkal ancaman sekaligus memerangi tindakan brutal terorisme, Presiden Joko Widodo telah merestui diaktifkannya kembali Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab). Kesepakatan politik atas pelibatan TNI inipun sudah tercapai.

Koopsusgab terdiri dari pasukan elit tiga matra TNI. Yakni meliputi Satuan 81 Gultor Kopassus TNI AD, Denjaka TNI AL dan Satbravo 90 Paskhas TNI AU yang kesemuanya terlatih dalam penanggulangan aksi-aksi terorisme.

Baca: Ini Profil 3 Satuan Super Elit TNI untuk Hadapi Teroris

Kendati bertujuan memperkuat daya gentar (deterrent) kepada jaringan teroris, tetapi  keterlibatan pasukan ‘Super Elit’ yang dibentuk Panglima TNI era Moeldoko ini bisa kontraproduktif dan overlapping. Karena bagaimanapun, tugas penanggulangan terorisme yang paling utama tetap ada di pundak Polri dan BPPT.

Artinya, tindakan Koopssusgab ini tetap di bawah koordinasi Polri. Presiden Jokowi juga sudah mewanti agar pergerakan pasukan elit TNI ini lebih ditekankan pada tindakan-tindakan pencegahan.

“Apabila situasi sudah di luar kapasitas Polri, baru bisa melakukan penindakan. Artinya tindakan preventif jauh lebih penting dibandingkan dengan langkah-langkah represif,” kata Presiden Joko Widodo. []

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here