KTT IORA 2017

Mimpi Indonesia, IORA Bakal Seperti APEC, Yakin?

0
212
Presiden RI Joko Widodo memberi sambutan dalam pembukaan acara 'Business Summit' KTT IORA ke-20, 2017 di JCC Jakarta, Senin (6/3). Foto: Antara

Nusantara.news, Jakarta – Selama ini tujuan ekspor Indonesia lebih banyak ke negara-negara di Samudera Pasifik. Dengan mendukung keberadaan IORA (Indian Ocean Rim Association), Indonesia ingin memperluas kerja sama perdagangan dengan negara-negara di lingkar Samudera Hindia. Tapi apakah langkah ini strategis, mengingat kebanyakan negara di kawasan Samudera Hindia ini adalah negara berkembang?

Di Samudera Pasifik ada APEC (Asia-Pasific Economic Cooperation) dengan anggota 21 negara yang sudah jauh lebih eksis ketimbang IORA. APEC didirikan pada 1989 dan telah rutin melakukan KTT setiap tahun, sementara IORA yang juga beranggotakan 21 negara baru didirikan 1997, itu pun tidak pernah melaksanakan KTT.

KTT IORA yang berlangsung 5-7 Maret 2017 di Jakarta kali ini adalah yang pertama dilakukan setelah 20 tahun organisasi ini ada, sebelumnya hanya pertemuan-pertemuan setingkat menteri saja.

Nilai perdagangan intra-regional IORA pada tahun 2015 mencapai USD 777 miliar atau naik tiga kali lipat dibanding 21 tahun lalu (1994) yang hanya sebesar USD 233 miliar. Tapi bagi Indonesia angkanya masih jauh jika dibanding total perdagangan dengan negara-negara APEC atau kawasan laut pasifik.

Tahun lalu saja, nilai total perdagangan Indonesia dengan negara-negara IORA hanya sebesar USD 82,57 miliar. Angka itu masih jauh tertinggal jika dibanding nilai ekspor-impor Indonesia dengan negara-negara anggota APEC yang mencapai USD 206,23 miliar. Meskipun pada perdagangan APEC Indonesia mengalami defisit, sementara di IORA surplus.

Indonesia sebagai penggagas KTT IORA sepertinya memimpikan IORA di kawasan Samudera Hindia bisa menjadi seperti layaknya APEC di kawasan Asia-Pasifik. Tapi sayangnya, secara faktual negara-negara di kawasan Samudera Hindia ini kebanyakan negara berkembang. Selain itu, ekspor terbesar Indonesia selama ini ke negara-negara APEC di kawasan Asia-Pasifik yang memang lebih maju.

Ketiga mitra dagang terbesar Indonesia yakni Cina, Amerika Serikat dan Jepang, juga tergabung dalam APEC.

Tapi menurut Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita, kondisi ini justru menjadi peluang bagi Indonesia, “Di IORA Indonesia berpeluang sebagai growing partner dan membuka pasar ekspor non-tradisional,” katanya.

Presiden Joko Widodo ketika memberi sambutan saat membuka acara Business Summit dalam rangkaian KTT IORA ke-20 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (6/3) membuat pernyataan yang cukup heroik bahwa, “Masa depan ekonomi dunia ada di kawasan ini, oleh sebab itu Indonesia ingin memperkuat poros maritim untuk dikaitkan dengan IORA,” katanya.

Jokowi mengungkapkan, saat ini dua per tiga pengapalan minyak global melalui Samudera Hindia. Selain itu, 2,7 miliar penduduk 21 negara anggota IORA juga mewakili sekitar 35 persen populasi dunia.

KTT IORA di Jakarta dihadiri sekitar 16 kepala negara dan delegasi. Sejumlah kepala negara hadir di Jakarta, diantaranya Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma, India diwakili Wakil Presiden Hamid Ansari, Iran mengirim Menteri Luar Negeri, Mohammad Javad Zarif, Malaysia dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Najib Razak, dan Australia diwakili oleh Menteri Luar Negeri Julie Bishop.

Acara tersebut mengusung tema “Menguatkan kerja sama maritim untuk Samudera Hindia yang damai, stabil dan sejahtera”.

Afrika Selatan termasuk salah satu negara yang cukup serius dengan KTT yang diinisiasi oleh Indonesia, terbukti dengan kehadiran presiden langsung, sementara kebanyakan negara diwakilkan setingkat menteri, kecuali Malaysia.  

Ekspor utama Afrika Selatan untuk Indonesia di antaranya pulp, limbah besi, bijih besi, aluminium, apel, pir, dan peralatan mekanik. Sementara ekspor utama Indonesia ke Afrika Selatan meliputi kelapa sawit, karet, minyak kelapa, otomotif, komponen peralatan asli, barang keramik, bahan kimia tertentu, dan alas kaki.

Beberapa kali, perusahaan Afrika Selatan juga telah menjajaki peluang investasi di Indonesia, termasuk SASOL, Old Mutual, Sanlam, Denel dan Grup Paramount.

Sejumlah prioritas kerja sama yang mengemuka dalam IORA mengenai: Keselamatan dan Keamanan Maritim; Fasilitasi Perdagangan; Manajemen Perikanan; Manajemen Risiko Bencana Alam; Kerja sama Akademis dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; serta Pertukaran Kebudayaan dan Pariwisata.

Sejarah IORA dimulai pada Maret 1995, saat Perdana Menteri Afrika Selatan Nelson Mandela mengadakan kunjungan ke India guna menginisiasi terbentuknya Indian Ocean Rim Initiative. Dua tahun kemudian, diselenggarakan KTT pertama kali di Mauritius pada 5-7 Maret 1997 bersamaan terbentuk Indian Ocean Rim Association for Regional Cooperation (IOR-ARC). Pada tahun 2012, nama IOR-ARC berubah menjadi Indian Ocean Rim Association (IORA). Indonesia menjadi ketua IORA periode 2015-2017.

Organisasi yang berpusat di Mauritania ini kini mempunyai 21 negara anggota yaitu: Afrika Selatan, Australia, Bangladesh, Komoro, India, Indonesia, Iran, Kenya, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Mozambik, Oman, Uni Emirat Arab, Seychelles, Singapura, Somalia, Sri Lanka, Tanzania, Thailand, dan Yaman.

Selain itu, organisasi ini juga melibatkan 7 negara dialogue partner yaitu: Cina, Perancis, Jepang, Amerika Serikat, Mesir, Jerman, dan Inggris, kendati negara-negara tersebut tampak tidak terlalu aktif.

Mampukah Indonesia membangun kerja sama baru, khususnya perdagangan, di negara-negara kawasan Samudera Hindia? Tentu saja, sangat tergantung dengan keseriusan Indonesia dan negara-negara di kawasan tersebut. Namun, jika melihat antusiasme negara-negara di kawasan Samudera Hindia terhadap KTT IORA di Jakarta kali ini, dimana hanya segelintir kepala negara yang hadir, tampaknya mimpi Indonesia untuk “menghidupkan” kerja sama di kawasan ini masih cukup berat. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here