Mimpi Sang Putra Mahkota, Kembali ke Arab Saudi yang Moderat

1
574
Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang juga Ketua KPK dan Pemimpin Visi 2030 yang akan mengembalikan Arab Saudi menjadi negara Islam Moderat seperti sebelum Revolusi Iran /Foto Wikipedia

Nusantara.news, Jakarta – Meskipun 11 Pangeran, 4 menteri dan sejumlah mantan menteri yang dituduh korupsi ditahan di Hotel Ritz Carlton Riyadh, namun semua analis Timur Tengah sepakat penahanan besar-besaran seperti ini tak mungkin terjadi di masa lalu. Itulah gebrakan awal Sang Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) mengenalkan diri kepada dunia.

Peristiwa di atas juga dimaknai, Putra Mahkota kelahiran 31 Agustus 1985 itu memiliki nyali yang besar untuk mewujudkan tranformasi perekonomian Arab Saudi. Korupsi dianggapnya sebagai penghambat langkah besarnya memperbaiki perekonomian Arab Saudi yang oleng oleh korupsi dan selalu terombang-ambing harga minyak.

Pengangkatannya sebagai Ketua KPK sebenarnya satu paket dengan jabatannya sebagai pemimpin “Visi 2030” yang akan mentransformasi perekonomian Arab Saudi tidak bergantung lagi kepada harga minyak. Sejumlah langkah pun dia rancang, termasuk mengembalikan wajah Islam di Arab Saudi untuk kembali moderat, namun tidak juga sekuler.

Nama MBS memang tidak seterkenal Alwaleed bin Talal yang kerap berbicara di televisi Amerika dan Eropa. Namun dia sangat digandrungi generasi milenial di negaranya. Gagasan-gagasan besarnya membangun tempat hiburan seluas separo kota Jakarta, dibolehkannya akses gambar internet, dan lainnya, mungkin kelak mengubah wajah Arab Saudi.

Memang sulit dipungkiri, perang terhadap korupsi yang berujung penangkapan itu bagian dari permainan kekuasaan (game of throne) untuk mengkonsolidasi kekuasaan.  Seolah ada pesan yang tertulis, MBS ingin menyingkirkan semua oposisi, baik yang sekuler maupun relijius.

“Pesan yang ingin disampaikan adalah tak ada satu pun orang yang kebal hukum atau lebih tepatnya tak ada yang berada di atas hukum yang ia jalankan,” ujar seorang pejabat senior di Arab Saudi kepada wartawan BBC, Lyse Doucet.

Kendati mendapatkan dukungan dari generasi milenial namun langkahnya banyak dianggap sejumlah kalangan sangat beresiko. Paling tidak memicu arus balik perlawanan dari kaum konservatif di Arab Saudi yang jumlahnya tidak sedikit. Dia juga akan mendapatkan perlawanan dari pebisnis-pebisnis yang selama ini diuntungkan oleh kondisi yang sekarang.

Dalam skala yang lebih besar, sejumlah ekonom mengatakan penahanan para pengusaha bisa ‘mengganggu rencana Saudi menerapkan program diversifikasi, karena program ini sangat menggantungkan pada para pengusaha swasta’. Terlebih asset para terduga korupsi, berdasar rilis Kementerian Penerangan, akan dibuka ke publik dan dibekukan.

“Rekening dan saldo milik mereka yang ditahan akan diumumkan dan dibekukan. Semua aset atau properti yang ada hubungannya dengan kasus-kasus korupsi ini akan dimasukkan sebagai kekayaan negara,” kata Kementerian Penerangan Arab Saudi.

Modernisasi Arab Saudi

Padahal  sebelum ayahnya dilantik menjadi Raja pada 2015, tak banyak orang di luar Arab Saudi yang mengetahui sosok Pangeran Mohammed bin Salman. Setelah diberi kepercayaan oleh ayahnya menjadi penasehat utama, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan, MBS menjelma figur yang sangat berpengaruh di Arab Saudi.

Tahun lalu, sang pangeran mengumumkan serangkaian rencana perombakan sosial dan ekonomi. Rencana paling baru yang dijanjikan Pangeran Mohammed adalah mengarahkan Arab Saudi kembali ke ‘Islam moderat’ sebagai kunci memodernisasi negara.

Wartawan BBC masalah keamanan, Frank Gardner, melaporkan kendati putra mahkota itu sangat populer di kalangan muda Arab Saudi namun dia banyak ditentang oleh generasi yang lebih tua dan konservatif. Umumnya mereka menilai, MBS bergerak terlalu jauh dan terlalu cepat.

Pernah suatu saat, Putra Mahkota MBS mengungkap keinginannya kepada wartawan. Dia mengatakan 70% penduduk Arab Saudi berusia di bawah 30 tahun dan mereka ingin ‘kehidupan dengan agama yang diwujudkan menjadi toleransi’. Untuk itu, tegas MBS, dengan kewenangan yang dimilikinya dia akan menghabisi sisa-sisa ekstrimisme dengan segera.

MBS juga pernah mengumumkan akan investasi sebesar US$500 miliar atau sekitar Rp6.783 triliun untuk membangun satu kota dan kawasan bisnis baru. Kawasan bisnis dan pariwisata seluas 26.500 Km2 bernama NEOM itu berlokasi di kawasan pesisir Laut Merah, berdekatan dengan Mesir dan Yordania.

Selama ini Kerajaan Arab Saudi sangat puritan, baik dalam berperilaku maupun berpakaian. Kondisi ini akan menjadi hambatan utama MBS dalam melakukan transformasi sosial dan ekonomi, atau lebih dikenal dengan nama Visi 2030. Termasuk di dalamnya usulan swastanisasi BUMN Aramco lewat penjualan saham dan juga dengan pembentukan dana investasi negara terbesar di dunia.

Tahun lalu ayahnya, Raja Salman, mengumumkan larangan menyetir untuk perempuan akan dicabut akhir tahun depan walau masih mendapat penentangan dari beberapa pemuka agama yang konservatif. Gagasan Raja Salman itu diyakini sejumlah kalangan bersal dari MBS.

Pemerintah juga ingin menempuh investasi sektor hiburan dan konser musik akan segera digelar sementara bioskop umum juga akan dibuka. Rencana itu diungkap MBS di hadapan ratusan investor dan diplomat pada Selasa (24/10) yang lalu.

“Kami kembali ke kami yang sebelumnya, sebuah negara Islam moderat yang terbuka untuk semua agama, tradisi, dan orang-orang dari seluruh dunia,” beber ayah dari empat putra ini dari pernikahannya dengan Putri Sarah binti Pangeran Mansyur bin Abdul Aziz Al Saud.

“Kami ingin hidup yang normal. Sebuah kehidupan dengan agama yang diwujudkan menjadi toleransi, menjadi tradisi keramahan kami,” tandas MBS.

Arab Saudi menjadi tidak toleran, ungkap MBS, terjadi setelah Revolusi Islam di Iran 1979 ketika para militant menduduki Masjidil Haram di Mekkah. Sejak itu tempat hiburan umum dilarang di Arab Saudi dan para ulama diberikan wewenang yang lebih besar mengatur kehidupan masyarakat umum.

Untuk itu MBS bertekad mengembalikan Arab Saudi seperti era sebelumnya. Namun langkah MBS tentu saja tidak mudah, karena dia akan berhadapan dengan kelompok militant di negaranya sendiri, Iran dan Israel yang mungkin tidak suka Arab Saudi tumbuh menjadi negara besar, modern dan paling disegani di kawasan Timor Tengah. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here