Minta Saran Kiai Sepuh, Megawati Takut Kalah (Lagi)

1
312
Almarhum Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri adalah dua tokoh yang bertolak belakang. Jika Gus Dur selalu meminta saran kiai sepuh, sebaliknya Megawati terkesan arogan dan egois.

Nusantara.news, Surabaya – Saat Gus Dur masih hidup, selalu meminta saran kepada kiai sepuh sebelum mengambil kebijakan. Ada 30 kiai dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Tersebar di berbagai daerah. Mereka disebut kiai khos.

Tentu, ini bertolak belakang dari sosok Megawati Soekarnoputri. Mantan Presiden RI ke-5 itu terlalu gengsi meminta saran ke para kiai. Namun tidak kali ini, menjelang pertarungan Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) 2018, Mega justru menugaskan Wakil Sekjen DPP PDIP Ahmad Basarah untuk meminta masukan kepada kiai sepuh NU di Jatim.

Disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristianto di Surabaya, Jumat (1/9/2017), Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akan ‘turun gunung’ memimpin langsung konsolidasi pengurus cabang maupun daerah. “Bu Mega akan memimpin langsung konsolidasi di Jatim pada 10 September mendatang,” terang Hasto.

Selain mendengarkan masukan dari struktural partai, PDIP juga akan meminta masukan kepada kiai sepuh di Jatim. Ini tidak dinyana. Baru kali ini Megawati mau mendengar masukan dari orang lain. Padahal dalam mengambil kebijakan atau keputusan, Mega dikenal sangat arogan, egois dan misterius. Kalangan politisi kerap dibuat bertanya-tanya tentang gaya keputusan last minute Megawati. Pun para punggawa PDIP hanya bisa manggut-manggut saja.

Tampaknya permintaan Megawati meminta saran kiai NU di Jatim tidak main-main. Bisa jadi putri Bung Karno tersebut tidak mau dipermalukan dua kali dalam ajang Pilkada, di mana jago PDIP kalah di Pilgub DKI. Sementara Pilkada Jawa Timur dikenal sebagai lumbung suara. Maka, suara Jawa Timur terlalu seksi di mata Parpol.

Dilihat dari perjalanan PDIP selama gelaran Pilkada, partai berlambang banteng moncong putih itu nyaris tidak memiliki kader sendiri untuk diusung, atau jangan-jangan tidak pede dengan kadernya.

Buktinya saat Pilgub DKI, PDIP lebih memilih Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok ketimbang Djarot Saiful Hidayat yang notabene kader murni. Padahal jika saat itu Djarot dipilih dan Ahok menduduki posisi wakil gubernur, belum tentu PDIP kalah.

Banyak kalangan menilai, langkah PDIP di Pilgub DKI merupakan blunder Megawati. Dia dianggap salah strategi memilih calon yang bukan dari kader asli.

Dan kini, Megawati diprediksi akan mengulang blunder kedua di Pilgub Jatim. Betapa tidak, dua sosok dengan tingkat popularitas dan elektabilitas tinggi, Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf, dinilai menjadi batu sandungan bagi PDIP.

Ada yang beranggapan PDIP tersandera popularitas keduanya. Apalagi kita tahu Gus Ipul dan Khofifah sama-sama berlatarbelakang NU. Wajar kalau Megawati harus legowo menjatuhkan pilihan kepada mereka.

“PDI Perjuangan sudah komitmen untuk bergandengan tangan dengan NU, terutama di Jawa Timur yang sejarahnya dan budayanya tidak bisa lepas dari NU,” demikian Hasto.

Kekhawatiran PDIP kalah (lagi) di Pilkada Jatim 2018, cukup beralasan. Sehingga upaya apapun akan ditempuh PDIP asalkan bisa menang, termasuk mengusung atau menggaet kader lain. Dalam istilah sepakbola namanya “ngebon pemain”.

Sebenarnya PDIP memiliki kans besar untuk mengusung calonnya sendiri. Selisihnya hanya satu persen dari PKB. Tinggal berkoalisi dengan partai lain, PDIP bisa mengusung calon sendiri. Tidak susah. Apalagi dalam Peraturan KPU 9/2016 disebutkan tentang Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota, syarat pertama bagi partai yang ingin mengusung calon gubernur sendiri adalah harus memiliki jumlah perolehan kursi di DPRD di daerah pilkada sebanyak 20 persen. Atau parpol punya 25 persen dari akumulasi suara sah dalam pemilihan legislatif terakhir.

Ya, PDIP menjadi partai pemilik kursi terbanyak kedua (setelah (PKB dengan suara 20 persen) di DPRD Jatim dengan 19 kursi, diikuti Gerindra dan Demokrat yang masing-masing punya 13 kursi. Partai Golkar memperoleh 11 kursi, PAN punya 7 kursi, dan PKS 6 kursi. Sisa kursi diduduki oleh PPP dengan 5 kursi, NasDem 4 kursi, dan Hanura 2 kursi.

Satu lagi kekuatan PDIP yang patut diperhitungkan, yakni sebagai Parpol pendukung pemerintah. Tentu langkah apapun yang diambil partai akan selalu mendapat dukungan balik dari pemerintah.

Dengan kondisi ini, PDIP seharusnya tidak perlu khawatir dengan calon yang diusungnya. Sebelum putaran Pilkada Jatim dimulai, figur-figur PDIP sebenarnya sudah bermunculan. Sebut saja Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma), Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (Anas), Ketua DPD PDIP Jawa Timur Kusnadi, Bupati Ngawi Budi Sulistyono, dan anggota DPRD Jatim Suhandoyo.

Dari semua nama itu, setidaknya ada dua kader PDIP yang layak untuk diperhitungkan, Risma dan Anas. Kendati keduanya merupakan “pemain bon-bonan” (Risma dari sipil dan Anas dari PKB yang terdzolimi), namun loyalitas mereka terhadap Megawati tidak perlu dipertanyakan lagi.

Sayangnya, Megawati dan PDIP kelihatan masih ragu-ragu memilih kader sendiri. Adapun figur yang diprioritaskan untuk maju dan berasal dari kaum muda banteng agar proses regenerasi berjalan secara baik, justru jauh dari harapan.

Pamor Megawati Runtuh di Jatim

Warga NU tidak mempermasalahkan siapa yang lolos verifikasi Cagub Jatim 2018, atau partai mana yang akan mengusung keduanya, Gus Ipul atau Khofifah? Sebab keduanya sama-sama orang NU.

Hanya saja di tingkat elit partai, pilihan ini terasa sulit, terutama bagi partai sekelas PDIP. Pasalnya kedua sosok tersebut bisa dibilang sama-sama kuat.

Gus Ipul sendiri sudah mengantongi rekomendasi dari DPP Partai Kebangkitan Bangsa untuk maju sebagai calon gubernur. Sementara Khofifah diketahui hanya tunduk pada titah Presiden Joko Widodo selaku pimpinannya. Selain itu, Khofifah kemungkinan akan bersikap ‘terbuka’ terhadap partai lain yang akan mengusungnya. Golkar, Demokrat, dan Gerindra berpeluang ‘merebut’ Khofifah.

Nah, di sini masalah bagi PDIP. Partai tersebut masih gamang. Sebagai partai pemenang Pileg dan Pilpres, tidak ada garansi Megawati akan berada di bawah ketiak PKB. Sehingga Gus Ipul bukan menjadi pilihan utama. Namun dalam politik, apapun bisa berubah, jika Mega bersedia mengikuti saran para kiai sepuh.

Pertimbangan para kiai sepuh menjadi langkah berani bagi Megawati untuk menentukan mana di antara keduanya (Gus Ipul dan Khofifah) yang terbaik di mata kiai NU dan terutama warga NU Jawa Timur. Sebab jarang-jarang Megawati melakukan hal ini. Yang menjadi pertanyaan, latahnya Megawati meminta saran kiai sepuh NU samakah dengan yang dilakukan Gus Dur?

Dulu, kiai khos di jaman Gus Dur ada banyak, tapi yang terlihat di permukaan ada lima, yakni Kiai Buntet Cirebon, Mbah Liem Klaten, KH. Ilyas Ruhiat Cipasung, KH. Chudori Magelang, dan Kiai Abdullah Faqih Langitan. Nama kiai yang disebut terakhir berada di Tuban, Jawa Timur. Kiai Faqih dikenal sosok kyai khos yang semasa hidup begitu dekat dengan Gus Dur. Bahkan, Kiai Faqih menjadi sosok utama yang mendorong majunya Gus Dur sebagai presiden.

Dan, di era sekarang (pasca Gus Dur), ada beberapa kiai khos yang kerap menjadi rujukan politik, di antaranya KH Zainuddin Jasuli dan KH Nurul Huda Jazuli (Pengasuh Pesantren Ploso, Mojo, Kediri), KH Miftachul Ahyar (Pengasuh Pesantren Miftachussunnah Surabaya), KH Anwar Iskandar (Pengasuh Pesantren Al Amien, Ngasinan, Kediri), KH Anwar Mansur (Pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri), KH Tamim Romli (Pengasuh Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang), KH Nawawi Abdil Jalil (Pengasuh Ponpes Sidogiri, Kraton, Pasuruan), KH Khoil As’ad (Pengasuh Ponpes Wali Songo, Situbondo), dan KH Aza’im (Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo).

Pada perkembangan selanjutkan, sudah jarang kalangan politisi maupun tokoh-tokoh partai yang meminta saran dari para kiai sepuh. Sebaliknya keberanian Megawati meniru jejak Gus Dur bisa menjadi langkah baru dalam perpolitikan Tanah Air, dan sekaligus ‘menyesatkan’. Mengapa menyesatkan? Sebab jika saran para kiai sepuh tidak digubris Mega, maka menjadi persoalan baru. Calon-calon PDIP akan ditinggalkan pemilih suara dari kalangan Nahdliyin.

Ya, langkah Mega ini bisa dibilang nekat. Di satu sisi PDIP akan merugi, sebab menunjukkan betapa lemahnya regenerasi di internal partai. Di sisi lain, pamor Megawati sebagai sosok nasionalis ‘mendadak’ runtuh di Jawa Timur.

Bagi warga Jawa Timur terutama NU, Megawati selama ini dianggap sosok antagonis. Sejarah mencatat, naiknya Megawati sebagai presiden menggantikan Gus Dur dari impeachment MPR, sebagai sebuah kesalahan negara yang tidak bisa ditolerir.

Selama memerintah, Megawati boleh dibilang tidak memiliki prestasi membanggakan. Yang ada, justru negara menjual aset. Selain itu, PDIP terlalu pede dengan mengandalkan pemilih tradisional, dan tidak mencoba menjaring pemilih baru. Pemilih tradisional mereka disebut “wong cilik”, terlihat sangat menyakitkan bagi warga Jawa Timur. Pasalnya, keberpihakan PDIP selama berkuasa nyata-nyatanya tidak selalu pro “wong cilik”. Malah sebaliknya, saat itu, malah beredar selorohan di tengah masyarakat, PDIP bukan pro “wong cilik” tetapi justru pro pada “wong licik”.

Demikian pula figur Megawati yang selalu “didewakan” oleh orang-orang PDIP, tentu kondisi ini sangat tidak mengenakkan. Buktinya, figur yang diharapkan tidak bisa mendongkrak suara partai. Kemenangan PDIP sebagai the rulling party 2014, bukan dikarenakan figur Megawati melainkan dari figur Joko Widodo.

Terakhir, jualan PDIP selama ini hanya dianggap sarana untuk menjaring massa. Siapa calon dengan tingkat popularitas dan elektabilitas tinggi, maka dialah yang dipilih. Sehingga tidak ada program nyata yang dijual oleh partai.

Ini menandakan bahwa Megawati dan PDIP tidak punya lapak untuk berjualan di Jawa Timur. Kalau mau smart, PDIP seharusnya meniru Golkar, Demokrat atau Gerindra untuk dijadikan contoh karena mempunyai program-program yang lebih matang. Paling tidak, Megawati dan PDIP punya program sendiri untuk menjaring massa dan bukan ditentukan lewat popularitas calon semata. Tapi jika takut kalah, ya monggo-monggo saja![]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here