Miras Oplosan, Pembiaran?

0
84

MINUMAN keras (miras) oplosan yang merenggut nyawa 89 orang di Jawa Barat dan Jakarta kemarin, sebenarnya bukan gejala baru. Tapi bisa dikatakan gejala purba, karena tradisi meminum minuman keras itu nyaris seumur budaya manusia. Di Indonesia sendiri banyak dijumpai minuman keras tradisional seperti tuak, arak, sopi, moke, badeg, dan sebagainya, yang bahkan dikonsumsi dalam acara  adat setempat.

Tetapi minuman keras tradisional itu tidak mematikan, umumnya hanya sampai tahap memabukkan saja, itupun kalau diminum melebihi batas. Peredarannya diizinkan oleh pemerintah. Menurut Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol”, minuman beralkohol yang diizinkan beredar di Indonesia terdiri dari  Minuman Beralkohol dan Minuman Beralkohol Tradisional.

Minuman Beralkohol adalah minuman yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi (penyulingan).

Sedangkan Minuman Beralkohol Tradisional adalah minuman beralkohol yang dibuat secara tradisional dan turun temurun, dikemas secara sederhana dan pembuatannya dilakukan sewaktu-waktu, serta dipergunakan untuk kebutuhan adat istiadat atau upacara keagamaan.

Minuman beralkohol hanya dapat diperjualbelikan setelah memiliki izin edar dari kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Tempat penjualan pun dibatasi. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 20/M-DAG/PER/4/2014, penjualan minuman beralkohol yang diminum di tempat hanya boleh di hotel, bar, dan tempat tertentu yang ditetapkan pemerintah daerah. Minuman beralkohol golongan A (kadar alkohol maksimal 5 persen) dapat dijual di toko pengecer seperti minimarket, supermarket, hipermarket. Namun tak sembarang toko bisa menjadi pengecer minuman beralkohol karena ada aturan ketat yang berlaku. Belakangan dengan Permendag Nomor 6 Tahun 2015, minimarket tak boleh lagi menjual minuman beralkohol.

Nah, miras oplosan jelas tidak termasuk kategori yang diatur itu. Apalagi minuman ini sudah merenggut nyawa ratusan orang. Menurut penelitian Center for Indonesian Policy Studies, dalam 10 tahun terakhir, total korban tewas akibat miras oplosan mencapai 837 orang. Data sebenarnya bisa jadi lebih dari itu.  Artinya, ada masalah yang sangat serius di sini.

Miras maut ini adalah campuran rupa-rupa bahan. Ada alkohol dengan kadar di atas 50 persen, air mentah, minuman suplemen, minuman ringan, kadang-kadang juga memasukkan krim obat nyamuk atau pasta gigi. Dan yang mematikan adalah metanol, yang biasanya digunakan sebagai tiner penghapus cat atau pembersih cat kuku. Komposisi terbanyak justru metanol, karena bau dan rasanya serupa dengan etanol, sementara harganya lebih murah. Pencampurnya pun orang sembarangan yang tak paham komposisi kimia.

Kini setelah minuman maut tersebut menelan puluhan korban, polisi mulai bertindak. Bahkan untuk kasus di Jawa Barat itu, Wakapolri Komjen Pol Sjafrudin sendiri ikut turun melihat barang bukti. Atensi seperti ini tentu menunjukkan kegentingan terkait peredaran miras oplosan tersebut. Polisi bahkan akan mengenakan pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati kepada pembuat miras ini.

Kita jelas prihatin peredaran miras yang sudah merenggut puluhan korban nyawa ini –walaupun ada juga yang mempersoalkan istilah “korban”, karena peminumnya adalah pelaku. Mereka juga tidak di bawah paksaan.

Tetapi kita harus menyesalkan terlambatnya reaksi penegak hukum dalam kasus ini. Sebab, sekali lagi, tradisi meminum alkohol mempunyai sejarah panjang di masyarakat kita. Kasus kematian akibat meminum miras oplosan ini juga sudah sangat sering terjadi. Seharusnya, tindakan ini sudah dilakukan sejak bertahun-tahun silam.

Sulit kita menyebut ini bukan pembiaran. Sebab, Samsudin Simbolon yang memproduksi miras oplosan di Cicalengka Bandung dan racikannya menewaskan 42 orang itu, sudah beroperasi selama dua tahun. Rasanya mustahil ulahnya tak terdeteksi. Penciuman polisi kita sangat kuat. Buktinya Samsudin yang buron dan bersembunyi di tengah hutan, bisa mudah ditangkap.

Kita menunggu janji Wakapolri untuk menyelidiki kemungkinan pembiaran ini. “Polri jangankan terlibat, mendiamkan saja penjual miras oplosan, akan kita tindak,” katanya.

Dalam kasus ini, Polri seyogianya menggunakan logika dan cara-cara penindakan peredaran gelap narkoba. Sebab, dampak kerusakan akibat miras ini bisa jadi setara dengan narkoba. Jika dampaknya hampir sama, korban miras pasti lebih massif. Narkoba yang dilarang saja, jumlah pecandunya menurut data BNN mencapai enam juta orang. Pecandu miras pasti jauh lebih besar, karena peredarannya hanya sekadar diawasi. Artinya potensi jatuhnya korban pasti jauh lebih banyak.

Polri jangan melulu melihat dari perspektif hukum, karena payung hukum untuk miras ini hanya berupa Perpres yang mengatur pengendalian dan pengawasan dengan leading sector BPOM dan Kementerian Perdagangan. Sudut pandang Polri juga mesti dari perspektif ancaman terhadap masyarakat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here