Miris, Areal Tanam Tebu Jatim Makin Menurun

0
77

Nusantara.news, Surabaya – Wacana pemerintah melalui Kementerian BUMN menutup sembilan Pabrik Gula (PG) di Jawa Timur sangat berpengaruh pada psikologi para petani tebu. Minat petani tebu untuk menggantungkan nasibnya di komoditas tanam semakin berkurang seiring sehingga berpengaruh pada luas areal tanam petani tebu yang semakin berkurang.

Belum usai terkait pro dan kontra penutupan sembilan PG di Jatim. Nasib para petani semakin dibuat galau terkait dengan kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Perindustrian No 10/M-IND/PER/3/2017 tentang kemudahan fasilitas mendapatkan bahan baku berupa gula mentah impor bagi pihak yang akan membangun industri atau pabrik gula.

Niat tulus petani untuk mencapai swasembada gula berbanding terbalik dengan pemerintah karena tidak sesuai dengan apa yang dilakukan di tingkat kebijakan. Jangan heran jika dari tahun ke tahun areal tanam tebu semakin merosot, tak hanya dua faktor di atas. Masih banyak kendala yang harus diupayakan pemerintah untuk mengatasi semua permasalahan demi mencapai swasembada gula.

Ketua fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) di DPRD Jatim Agus Maimun saat dikonfirmasi soal wacana penutupan sembilan PG dan Permen Perindustrian,  menyatakan, bahwa seharusnya ada keberpihakan pemerintah terhadap nasib para petani tebu di Jatim. “Kemudahan bahan baku tidak didukung dengan kemudahan lahan pertanian untuk menanam tebu. Karena faktanya hamparan lahan pertanian tebu di Jatim dari tahun ke tahun arealnya semakin merosot,” jelasnya kepada Nusantara.news, Senin (15/5/2017).

Seperti diketahui dari penulusuran nusantara.news bahwa pada tiga tahun terakhir luas areal tanam tebu cenderung mengalami penurunan. Tahun 2014 luas areal tanam mencapai 219.111 hektar, tahun2015 mencapai 201.971 hektar dan pada tahun 2016 areal tanam menurun mencapai 198.717 hektar.

“Banyak faktor yang mempengaruhi turunnya areal tanam tebu bagi petani. mulai dari alih fungsi lahan ke permukiman, hingga beralih pada komoditas lain yang lebih menguntungkan. Tahun 2015 saja luas areal tebu berkurang kurang 17 ribu Ha, akibat dampak dari kurang baiknya kondisi pergulaan tahun 2014. Harga lelang gula di bawah HPP, distribusi gula tidak lancar dan stok menumpuk di PG,” tambahnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Usaha Tani, Dinas PerkebunanJawa Timur Karyadi mengungkapkan bahwa meski secara detail Dinas Perkebunan Jatim tengah melakukan pendataan, namun wacana penutupan sembilan PG itu ikut mempengaruhi psikologi dan semangat petani tebu. “Sehingga mempengaruhi areal tanam tebu para petani di Jatim,” cetusnya.

Seperti diketahui bahwa banyak faktor yang mempengaruhi mengapa areal tanam tebu menurun setiap tahunnya. Ada 6 isu strategis dalam pembangunan perkebunan, yaitu: produkivitas dan mutu yang masih rendah; semakin terbatasnya lahan yang subur untuk budidaya perkebunan; rendahnya bahan organik tanah; masih terbatasnya sarana prasarana perkebunan; masih tingginya serangan hama penyakit dan gangguan usaha komoditi perkebunan; dan rendahnya kemampuan kelembagaan petani dalam akses teknologi, informasi pasar, permodalan dan kemitraan.

Jangan harap pemerintah akan mencapai swasembada gula,  nasionalisme dan kemandirian pangan nasional seperti yang dikoar-koarkan, jika hanya bisa menutup pabrik, melakukan impor pangan dan tidak keberpihakan soal kebijakan yang hanya berdalih untuk swasembada namun ujungnya demi kepentingan segelintir orang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here