Miryam “Gadis Ahok” Kini Buronan KPK

1
718
Miryam duduk di samping Ahok dalam sebuah acara relawan Gadis Ahok

Nusantara.news, Jakarta – Mantan relawan pasangan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok – Djarot Syaiful Hidayat (Ahok-Djarot) saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, Miryam S Haryani kini menjadi buronan setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memasukkan namanya dalam daftar pencarian oran (DPO).

Selain relawan “Gadis Ahok” Miryan juga jury bicara Ahok – Djarot. KPK sudah menetapkannya sebagai tersangka kasus pemberi keterangan tidak benar dalam sidang perkara korupsi proyek pengadaan KTP elektronik (KTP-e) dengan terdakwa Irman dan Sugiharto.

“Iya, memang KPK sudah memasukkan Miryam dalam DPO. Kami kirimkan surat ke Polri hari ini,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Kamis (27/4/2017).

Febri membeberkan, sebelumnya KPK sudah melayangkan panggilan kepada Miryam, tapi karena alasan kesehatan terpaksa penyidik menjadwal ulang.

Karena panggilan tidak penuhi juga, KPK  menerbitkan surat DPO untuk Miryam dan mengirimkannya kepada Polri.

KPK mengimbau masyarakat untuk melaporkan segera jika mengetahui keberadaan Miryam.

“Bila ada informasi-informasi dari masyarakat atau dari pihak-pihak lain terkait dengan keberadaan tersangka, mohon segera disampaikan kepada kantor kepolisian terdekat,” jelasnya.

Sebelumnya, KPK sudah melakukan penggeledahan di rumah tersangka di Tanjung Barat Indah, dan sejumlah tampat lainnya meliputi kantor advokat di H Tower lantai 15 Rasuna Said Kavling 20, rumah salah satu saksi di Jalan Lontar Lenteng Agung Residence, dan rumah saksi di Jalan Semen Perum Pondok Jaya, Pondak Aren, Tangerang Selatan.

Mantan anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Hanura ini disangka melanggar Pasal 22 juncto Pasal 35 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kasusnya berawal dari keterangan tersangka dalam sidang pada akhir Maret di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Saat itu, Miryam mengaku diancam saat diperiksa penyidik terkait proyek kasus KTP elektronik.

“Itu BAP isinya tidak benar semua karena saya diancam sama penyidik tiga orang, diancam pakai kata-kata. Jadi waktu itu dipanggil tiga orang penyidik,” kata Miryam di hadapan majelis hakim sambil terisak.

Karena itu, Miryam jmenyatakan akan mencabut BAP-nya. Namun, setelah jaksa menghadirkan tiga penyidik termasuk Novel Baswedan, terungkaplah kebohongan Miryam.

Hasil pemeriksaan penyidik Miryam diduga menerima uang 23 ribu dolar AS terkait proyek pengadaan KTP elektronik senilai Rp5,95 triliun. []

1 KOMENTAR

  1. Membaca tulisan Anda, perasaan yang timbul dalam hati ini adalah rasa kasihan. Kasihan melihat Anda terus menerus melakukan masturbasi jiwa melalui kalimat-kalimat memojokkan BTP yang entah Anda dapatkan dari mana. Selamat berobat

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here