Momen Lebaran, Malang Raya Dibayangi Ancaman Teror

0
63
Proses penggerbekan Teroris (Sumber: Suaradewan)

Nusantara.news, Kabupaten Malang – Momentum lebaran biasanya ditandai dengan penuh sesaknya daerah-daerah tujuan wisata. Demikian juga di daerah Malang Raya, yang memang dikenal sebagai salah satu tujuan wisata utama di Jawa Timur.

Namun, masyarakat Kabupaten Malang sempat khawatir akan adanya ancaman teror yang bisa terjadi dimana saja. Yang dituju adalah pusat-pusat keramaian yang diupenuhi warga, atau bisa juga di kawasan tempat ibadah. Seperti motif yang dapat dilihat beberapa waktu lalu, pengeboman terjadi pada tempat ibadah, pusat wisata, dan sebagainya.

Pasalnya pada beberapa hari lalu, yang masih dalam suasana Ramadhan, Kabupaten Malang digegerkan dengan penggerebekan oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri, menangkap Syahrul Munif (35) terduga teroris kelompok jaringan Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal al-Yemeni al- Indonesia yang pernah berjihad di Suriah, tidak jauh dari rumahnya di Jalan Wijaya, Perum Bumi Mondoroko Raya AJ-69, RT-04/RW-13 Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Kapolda Jawa Timur (Jatim), Irjen Machfud Arifin memberikan instruksi kepada seluruh Kapolres di Jawa Timur agar meningkatkan kewaspadaan. Bahkan, kewaspadaan itu sudah dilakukan pasca pelumpuhan sejumlah terduga teroris di Lamongan, Tuban, Malang dan Surabaya beberapa waktu lalu.

“Semenjak akhir bulan Ramadhan setelah pembekukan beberapa target terduga teroris di beberpa daerah sudah saya perintahkan untuk all out antisipasi. Tidak hanya di jalanan juga gangguan keamanan lainnya,” tandasnya Rabu (28/6/2017) .

Pihaknya menambahkan, saat ini Polda Jatim tengah bekerja sama dengan Densus 88 mendeteksi gerakan teroris di Jawa Timur. “Yang punya hak bawa senjata juga dibawa. Instruksi sudah di sampaikan ke Polres jajaran seluruh Jawa Timur,” ungkapnya.

Sementara itu di Kota Malang, seluruh perwira yang ada di Polres Malang Kota setiap dua jam sekali melakukan pengecekan sekaligus pemantauan ke pos-pos polisi yang berada di Kota Malang. Hal itu dilakukan sebagai upaya peningkatan kewaspadaan pasca serangan teroris di Mapolda Sumatera Utara beberapa waktu lalu.

Kapolres Malang Kota, AKBP Hoiruddin Hasibuan mengatakan hal tersebut di sela-sela acara mendampingi Kapolda Jawa Timur Irjen Machfud Arifin, Rabu (28/6/2017).

Serangan teroris bisa terjadi di mana saja, oleh sebab itu Hoiruddin berharap agar bawahannya tidak lengah mengingat beberapa waktu lalu ada penangkapan terduga teroris di kawasan Malang Raya. “Semua perwira di Polres Malang Kota saya instruksikan setiap dua jam melakukan pengecekan. Itu peningkatan yang kita lakukan,” katanya.

Hoiruddin menyebutkan apabila saat ini sering bertebaran informasi yang tidak benar terkait gerakan teroris, khususnya yang berada di media sosial.

Sejauh ini, kondisi di Kota Malang terpantau kondusif. Namun, jajaran kepolisian tetap berjaga dan bersiaga. Karena kejadian terorisme bisa terjadi kapanpun dan dimanapun.

Dalam momen dan kondisi pasca Lebaran, ia meminta kerja sama warga agar aktif menginformasikan kepada petugas jika menemui orang dengan aktivitas yang mencurigakan. “Bersama kita awasi kejahatan terorisme ini, apabila ada hal yang mencurigakan jangan segan melapor. Kita buktikan Polisi bersama rakyat melawan terorisme!” tegas Hoirudin.

Waspadai Kawasan Malang Raya, Lokasi Persembunyian Teroris

Kawasan Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu patut di awasi dan dijaga dengan ketat. Pasalnya track record mencatat bahwa kawasan ini menjadi tempat perembunyian paling aman oleh teroris. Terlebih lagi, kawasan wilayah tersebut memiliki karakter sebagai daerah kepariwisataan, dimana hal tersebut bukanlah tempat yang asing bagi tempat persembunyian para teroris beserta jaringannya.

Beracuan pada kejadian tahun 2005 silam, terdapat buronan nomor wahid Dr Azahari Husin yang bersembunyi di kawasan Malang Raya, tepatnya Kota Batu. Namun, akhirnya dia berhasil digerebek dan tewas dalam baku tembak.

Meskipun peristiwa itu sudah terjadi beberapa tahun silam, aksi terorisme bukannya hilang. Pada tahun 2015 lalu Densus 88 kembali melakukan penggerebekan di sebuah kontrakan di Dusun Sekarputih, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo. Ketika itu polisi mengamankan seorang terduga teroris dengan identitas Handoko.

Selanjutnya di tahun 2016 kemarin, kembali aksi teror berawal dari Kota Batu. Bom bunuh diri Jalan Thamrin, Jakarta, yang menghancurkan pos polisi semua skenarionya direncakan di Batu. Catatan terakhir yakni Juni 2017 ini penggerebekan di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang yakni terorisme jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang merupakan salah satu jaringan yang berafiliasi dengan ISIS. JAD juga kerap melakukan aksi teror, salah satunya bom Kamping Melayu Jakarta, pekan lalu.

Dipilihnya Kawasan Malang Raya sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi persembunyian teroris bukannya tanpa alasan. Sebab, di kota ini memiliki corak kepariwisitaan dan banyak rumah kontrakan, losemen maupun vila yang tidak sulit untuk disewa oleh orang asing.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here