Momen Menarik Halal Bihalal’e Arek Suroboyo Bareng Cak Nun

2
1310

Nusantara.news, Surabaya – Alhamdulillah, puji dan syukur kepada Tuhan Maha Tunggal, sinau (belajar) kedaulatan bareng budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dengan Kiai Kanjeng-nya sukses digelar Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN). Tanpa halangan apapun, hajatan Maiyahan -sebutan pengajian jamaah Cak Nun- yang diselenggarakan di SHW Center, Jalan Imam Bonjol, Surabaya pada Rabu (19/7/2017), berjalan cukup khidmat.

Selain dihadiri tuan rumah Sigid Haryo Wibisono selaku pendiri YKN dan pendiri portal berita online Nusantara.news, turut diundang dua tokoh nasional legendaris. Keduanya yakni legenda intelijen tiga zaman Suripto Djoko Said dan aktivis Malari (Lima Belas Januari) 1974 Hariman Siregar.

Dalam kesempatan itu, ikut hadir pula tamu undangan Wakil Gubernur Saifullah Yusuf dan beberapa pejabat di lingkungan Pemprov dan DPRD Jatim beserta kepala daerah. Berlangsungnya Maiyahan sendiri dipenuhi hingga ribuan jamaah dari berbagai daerah. Mereka datang berbondong-bondong dari berbagai latar belakang berbeda-beda. Baik itu gender, usia, level pendidikan, pekerjaan, suku, hingga beda agama. Mereka melebur menjadi satu tanpa membedakan satu sama lain.

Berikut ini adalah foto-foto momentum menarik Maiyahan yang dikemas dalam tajuk Halal Bihalal’e Arek Suroboyo.

Check Sound: Beberapa personil Kiai Kanjeng -sebutan kelompok pengiring musik Maiyah- yang datang lebih dulu sedang check sound alat-alat musik dan kelengkapannya.

Sambut Sahabat: Pendiri YKN sekaligus pendiri portal berita Nusantara.news Sigid Haryo Wibisono (SHW) menyambut hangat kedatangan sahabatnya, budayawan Cak Nun, sebelum Maiyahan dan hajatan Halal Bihalal’e Arek Suroboyo digelar.

Kebersamaan: Para pendiri YKN tampak akrab saat bersama-sama di dalam kantor SHW Center, sesaat sebelum Maiyahan dan acara Halal Bihalae Arek Suroboyo dimulai. Mereka diantaranya Sigid Haryo Wibisono, Ketua YKN dan pemimpin umum Nusantara.news Eddy Junaedi, budayawan Cak Nun, praktisi intelijen Suripto Djoko Said dan aktivis Malari 1974 Hariman Siregar.

Kumpul Tokoh: Para pendiri YKN yang diantaranya terdiri dari para tokoh nasional berkumpul dengan sahabat-sahabat wartawan di ruang press conference SHW Center. Karena ada Cak Nun dan para tokoh, wartawan tak hanya bertanya soal acara yang digelar pada saat itu. Namun, wartawan juga mengorek konstelasi politik yang terjadi di Tanah Air saat ini.

Kritis: Suasana press conference dimoderatori atau dipandu oleh Ketua YKN Jawa Timur Yusuf Husni. Sesi tanya-jawab bersama sahabat-sahabat wartawan berlangsung cukup kritis dengan membahas isu-isu politik strategis yang kini tengah menjadi tantangan pemerintah, bangsa dan negara. Diantaranya soal ancaman efek politik Pilkada DKI Jakarta 2017 di Pilgub Jatim 2018 nanti, kebijakan pemerintah menyangkut Perppu Ormas, khilafah dan NKRI, hingga penanganan kasus korupsi E-KTP.

Duet: Dua tokoh pendiri YKN yakni aktivis Malari Hariman Siregar dan budayawan Cak Nun dipersilakan berduet naik panggung oleh panitia sebelum kemudian disusul para tokoh lainnya untuk membaur bersama. Bagi Hariman Siregar, momentum ini menggugah kekaguman luar biasa karena dia akhirnya bisa berada dan berinteraksi secara langsung dengan ribuan jamaah Maiyah yang selama ini dibina dan dirawat istiqomah oleh Cak Nun.

Kontemplasi: Cak Nun mengajak seluruh jamaah Maiyah termasuk para tokoh pendiri YKN dan tamu undangan di atas panggung agar berdiri dan bermenung diri sesaat. Kemudian, seluruhnya diajak secara serentak menyanyikan lagu nasional kebangsaan Indonesia Raya dengan diiringi alunan irama khas Kiai Kanjeng sebagai tanda pembuka Maiyahan.

Menyentuh: Kontemplasi yang dipimpin Cak Nun mampu menggerakan alur pikir dan menggetarkan hati sanubari khayalak yang hadir. Itu setelah Cak Nun meminta tamu undangan dan jamaah Maiyah bersama-sama bernyanyi sekaligus mengilhami lagu nasional Syukur karya Husein Muhtar. Bahkan, karena getarannya yang semakin menyentuh, Cak Nun minta lagu wujud puji syukur ke hadirat Tuhan itu diulang hingga dua kali.

Bawa Berkah: Ribuan jamaah Maiyah yang datang dari berbagai penjuru daerah membanjiri lokasi pengajian di sepanjang Jalan Imam Bonjol, Surabaya. Mereka datang, mendengar dan menyimak pengajian yang disampaikan oleh Cak Nun dengan tenang dan tertib. Kedatangan jamaah yang sangat loyal dan kental dengan budaya toleren ini pun membawa berkah bagi para pedagang air mineral, jajan camilan, kopi, tikar dan lainnya.

Sambutan Sigid Haryo Wibisono: Pendiri YKN dan pendiri portal berita online Nusantara.news Sigid Haryo Wibisono memberi sambutan selaku penyelenggara acara Halal Bihalal’e Arek Suroboyo. Pada kesempatan itu, Sigid mengucapkan terimakasih kepada Cak Nun beserta Kiai Kanjeng-nya dan tamu undangan yang sudah menyempatkan hadir untuk halal bihalal bersama arek-arek Suroboyo.

Gus Ipul Hadir: Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf turut hadir. Kedatangannya yang sedikit terlambat sempat menyita perhatian jamaah. Dalam kesempatan itu, Cak Nun berpesan kepada Gus Ipul yang hendak maju sebagai calon gubernur Jawa Timur 2018 tidak serta merta hanya berambisi memburu jabatan atau kekuasaan semata. Melainkan, harus berangkat dari niat dan semangat pemimpin yang amanah dan apa adanya demi menyejahterakan warga Jawa Timur.

Demokrasi Kata Hariman: Aktivis Malari 1974 Hariman Siregar memenuhi permintaan Cak Nun untuk menggambarkan konstelasi politik yang terjadi Tanah Air. Menurutnya, roda demokrasi yang saat ini tengah berjalan di pemerintahan Indonesia sedang tersendat. Hal itu disebabkan karena demokrasi sekarang lebih cenderung prosedural bukan substansial. Alhasil, demokrasi tidak berjalan dengan semestinya sehingga menimbulkan keterpurukan ekonomi.

Dia mencontohkan, Brexit (pencabutan keanggotaan Britain Raya dari Uni Eropa) adalah akibat dari buruknya ekonomi Eropa dan terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden AS yang juga merupakan akibat ekonomi yang terpuruk.

Nation and Character Building: Di depan ribuan jamaah Maiyah, Suripto Djoko Said mengilustrasikan situasi politik pemerintah saat ini tengah mengalami kegaduhan. Semua ingin menang sendiri, sehingga mengabaikan ketimpangaan sosial-ekonomi rakyatnya. Menurutnya jika hal ini berlanjut, maka ini akan menimbulkan ancaman distabilisasi dan berpotensi chaos.

Sementara dalam hajatan Maiyahan ini, Suripto mengaku sangat kagum dengan sosok Cak Nun yang mampu menggerakan dan menjaga jamaahnya secara konsisten. Bahkan, dia menyebut dari karakter, pola pikir dan sikap yang tercermin jamaah Maiyah pada malam itu merupakan contoh nyata Nation and Character Building sejati bangsa Indonesia.

Gayeng: Iringan perpaduan alat musik tradisional dan modern Kiai Kanjeng yang dikemas dengan harmonis mampu menghibur dan menghidupkan suasana Halal Bihalal’e Arek Suroboyo. Setiap lagu yang dilantunkannya selalu menyiratkan pesan moral maupun spiritual dan kritik sosial-politik. Dengan kreativitasnya, para personil Kiai Kanjeng tak jarang pula menyisipkan humor yang bisa membawa suasana malam itu semakin guyub, gayeng, bahkan sejuk.

Ketidakseimbangan: Pada pokok pembahasan dan kesimpulan Maiyahan pada malam itu, Cak Nun mengulas tentang ketidakseimbangan. Menurutnya, Indonesia saat ini sedang mengalami berbagai macam ketidakseimbangan. Itu diantaranya ketidakseimbangan berpikir, manajemen, komponennya, antar komponennya maupun komprehensinya.

Disinggung terbitnya Perppu Ormas adalah salah satu produk ketidakseimbangan pemerintah dalam menyikapi persolan dalam berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu, Cak Nun minta kepada jamaah Maiyah untuk tidak putus asa. Apalagi, dalam konteks karakter manusia Surabaya dan posisi historisnya dalam sejarah dan peta politik Indonesia, arek-arek Suroboyo punya semangat perjuangan yang luar biasa.

Tanya-Jawab: Seperti biasanya, dalam setiap Maiyahan di manapun tempatnya, Cak Nun membuka sesi tanya-jawab kepada jamaahnya yang mayoritas masih berusia produktif. Semua pertanyaan dijawab, dibedah dan diulas hingga tuntas oleh Cak Nun dengan cukup sabar.

Munajat: Menjelang detik-detik akhir Maiyahan, Cak Nun mengajak seluruh jamaah Maiyah dan tamu undangan yang hadir untuk bermunajat kepada Allah agar selalu tegar, bersabar, yakin dan tawakal. Tak pernah lupa, Cak Nun bersama jamaahnya juga selalu memanjatkan doa supaya bangsa dan negara Indonesia menjadi lebih baik, untuk saat ini dan di masa yang akan datang.

A New Nation of Indonesia: Cak Nun meladeni ribuan jamaah Maiyah yang sudah mengantre untuk bersalaman. Tradisi bersalaman langsung dengan Cak Nun sudah menjadi kultur Maiyahan, sebelum akhirnya jamaah membubarkan diri untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Bagi Cak Nun, sudah menjadi kewajiban untuk selalu tersenyum menyalami dan memeluk jamaahnya dengan penuh kasih sayang. Sudah menjadi komitmen Cak Nun untuk tidak mengurangi energi batin maupun fisiknya sedikit pun. Mulai berhadapan dari orang yang pertama hingga terakhir.

Dalam momentum itu, Cak Nun mengaku takjub pada kekuatan Allah yang sudah menggerakan hati jamaahnya untuk lebih bersabar dan tidak putus asa. Cak Nun pun lantas menyebut mereka adalah a new nation of Indonesia. Cak Nun meyakini, perubahan masa depan bangsa dan negara Indonesia untuk menjadi lebih baik ada di pundak “generasi fajar” yang saat ini sudah dibinanya. Jika Allah berkehendak: Innama Amruhu Idza Arada Sya’ian An Yaqula Lahu Kun Fayakun (Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.) []

2 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here