Momentum Populisme

0
186

Untuk sementara, menguatnya kecenderungan populisme yang terjadi di berbagai belahan dunia, terutama di AS dan Eropa, dapat dipandang sebagai ekspresi dari kekecewaan publik terhadap ekses negatif globalisasi. Bagi kapitalis, penguasaan pasar yang berskala global ternyata tidak selalu identik dengan keuntungan.

Besarnya keuntungan melalui cara meraup gerakan modal secara mondial juga diikuti oleh biaya pengamanan, termasuk semakin kuatnya tingkat risiko ekonomi dan politik.

Di sisi lain, globalisasi yang hampir se penuhnya dipimpin oleh negara-negara Barat, juga menghasilkan ketimpangan yang tajam. Menguatnya jurang antara negara kaya dan miskin serta negara Utara dan Selatan merupakan fenomena yang khas dari ekonomi global. Kondisi ini memicu ekspresi ketidakadilan, terutama bagi negara-negara berkembang, yang justru menjadi wilayah investasi kapitalisme global. Perasaan tidak diperlakukan secara adil sering kali memicu munculnya berbagai sentimen anti Barat yang dianggap memperoleh kemakmuran berkat investasinya di negara-negara berkembang.

Untuk sebagian, gejala menguatnya terorisme berbasis agama yang kerap menyerang berbagai fasilitas umum di negara-negara Barat yang berpuncak pada serangan 9 September 2001 terhadap menara kembar di New York memang bersumber dari rasa frustrasi dalam melihat ketidakadilan global. Dipilihnya kota New York sebagai titik serangan membuktikan bahwa pelaku mengidentifikasi kota tersebut sebagai sentrum sekaligus simbol kapitalisme global.

Para kapitalis dunia agaknya semakin menyadari bahwa globalisasi yang mereka ciptakan justru berbalik menjadi ancaman bagi mereka. Akibatnya, keuntungan yang diraih tidak sebanding dengan biaya menanggulangi teror dan risiko sosial-politik. Inilah salah satu faktor yang menjadi pertimbangan Trump untuk menarik diri kancah globalisasi, yang oleh banyak kalangan diistilahkan sebagai fenomena populisme.

Substansi Populisme

Populisme menuntut keterlibatan rakyat dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini menjadi paradoks dalam sistem demokrasi prosedural.

Demokrasi prosedural hanya menghasilkan kompromi elite, bukanlah manifestasi keinginan rakyat. Kelompok populis siap mengambil alih demokrasi jika janji demokrasi itu tidak terwujud (dari, oleh, dan untuk rakyat). Sehingga lebih tepat dianggap gerakan reaksioner, anti-elite, anti establishment, dan anti demokrasi prosedural yang dianggap cenderung menjadi oligarki.

Populisme sering merasa demokrasi dan pemilu tidak ada gunanya. Terdapat perbedaan kesenjangan penilaian terhadap sistem demokrasi.

Pandangan ekstrem populisme bisa menjadi racun demokrasi (paradoks) secara perlahan tapi pasti, jika bandulan tuntunan rakyat semakin dominan dan akan menjadi tirani mayoritas.

Jika menjadi suatu pemerintahan populis cenderung menjadi tirani mayoritas, cenderung otoriter jika lama berkuasa, walaupun awalnya sangat populis dan dipilih lewat sistem demokrasi prosedural. Kehadirannya mengancam demokrasi dan kapitalisme global, jika belum ada kritik secara ilmiah dan belum punya sistem, karena hanya berupa reaksi dari demokrasi dan kapitalisme.

Lahirnya sikap kritis rakyat karena kekuasaan tidak mewujudkan kesejahteraan rakyat. Demokrasi hanya prosedural dan hanya melahirkan elite yang tidak berbasis kerakyatan.

Elite dengan oligarki cenderung korup, dan rakyat dikhianati, padahal mereka berkuasa karena dipilih oleh rakyat, sehingga lahir sikap anti demokrasi. Parpol didegradasi karena menjadi tempat berkumpulnya kaum elite dan establish. Populisme menjadi solusi ketika rakyat merasa demokrasi menemui jalan buntu dalam menyelesaikan masalah-masalah kerakyatan.

Apakah Presiden Joko Widodo yang dipilih secara demokrasi prosedural berasal dari kalangan rakyat dan mempunyai gagasan Nawacita bisa dikatakan populis?

Namun melihat kebijakan awal tahun 2017 tentang kenaikan biaya STNK dan BPKB 200-300 persen (PP No 60/2017), PLN, pangan (di luar beras), PP 103/2015 tentang kepemilikan asing di bidang properti dan PP 58/2016 khususnya pasal diperbolehkannya Asing mendirikan ormas di Indonesia), apakah dia masih bisa dikatakan sebagai tokoh populis? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here