Mosi Integral 1950, Upaya Natsir Selamatkan NKRI

0
168
Muhammad Natsir

Nusantara.news, Jakarta- Hari ini 69 tahun lalu, tepatnya pada 3 April 1950 Mohammad Natsir menyadarkan seisi sidang parlemen di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara Republik Indonesia Serikat (DPRS RIS). Natsir geram dengan hasil keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dengan sengaja mengotak-ngotakkan bangsa menjadi negara boneka. Natsir tidak bisa menerima keputusan KMB yang memecah Indonesia ke dalam 17 bagian (negara federal).

Isi perjanjian KMB tersebut, berlangsung dari 23 Agustus-2 November 1949 menghasilkan empat hal. Antara lain, (1) Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia Serikat (RIS) setuju membentuk Uni yang longgar antara Negeri Belanda dan RIS dengan Ratu Belanda sebagai pimpinan simbolis, (2) Sukarno dan Mohammad Hatta akan menjabat Presiden dan Wakil Presiden, dan antara 1949-1950, Hatta akan merangkap menjadi Perdana Menteri RIS.

Butir berikutnya, (3) Belanda masih akan mempertahankan Irian Barat, sekarang Papua, dan tidak ikut dalam RIS hingga ada perundingan lebih lanjut dan terakhir (4) Pemerintah RIS harus menanggung hutang pemerintah Hindia-Belanda sebesar 4,3 miliar Gulden akibat pertempuran selama 1945-1949. 

Sebab itu, Natsir yang ketika itu sebagai Ketua Fraksi Masyumi di DPRS RIS mengajukan mosi yang kemudian dikenal dengan ‘Mosi Integral’. Lewat mosi integral Nasir tersebut cikal bakal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk.

Proklamasi Kedua Indonesia

Kondisi Indonesia pasca KMB memang penuh gejolak dan krusial. Hal yang telah disepakati dari KMB ternyata menimbulkan pertentangan di antara anggota partai, tokoh pergerakan, maupun sejumlah daerah di tanah air. Pertentangan dan konflik tersebut masih terus berkutat dalam persoalan menentukan bentuk negara bagi bangsa dan negara Indonesia. Natsir adalah salah satu yang keberatan dengan hasil KMB. Dia juga menolak masuk Kabinet RIS.

Natsir memandang, sistem federal dianggap sebagai warisan kolonial sehingga harus diganti. Sistem itu dipandang sebagai alat pengawasan dan peninggalan Belanda. Oleh karena itu, sistem federal merupakan halangan bagi tercapainya kemerdekaan Indonesia yang lepas sama sekali dari Belanda. Dengan dasar pemikiran itu, maka mempertahankan sistem federal berarti mempertahankan warisan penjajahan masa lampau yang tidak disukai rakyat.

Selain itu, Natsir juga merasa reaksi daerah terhadap hasil KMB bagai api dalam sekam. Benar saja, selang seminggu kemudian, pada 4 Januari 1950, DPRD Malang di Negara Bagian Jawa Timur memisahkan diri dari Negara Bagian Jawa Timur dan menginduk langsung dengan RI di Yogyakarta. Beberapa hari kemudian, 30 Januari 1950, Sukabumi juga keluar dari Negara Bagian Pasundan. Di Sumatera Timur bahkan pecah kerusuhan. Keadaan genting itu diperparah dengan meletusnya peristiwa perebutan kekuasaan oleh Westerling di Bandung dan Jakarta serta pembangkangan Andi Azis di Makassar.

Melihat situasi berbahaya itu, Natsir berpendapat harus ada jalan keluar. Dia melobi sejumlah fraksi di parlemen, menemui pemimpin RI di Yogya, dan mendekati para kepala negara bagian. Kepada mereka, Natsir mengatakan Indonesia harus dipersatukan. Caranya seperti apa? “Kita perangi mereka. Kalau mereka sudah kalah, kita persatukan. Atau, kita tak perlu berperang. Kita ajak mereka membubarkan negara-negara bagian itu untuk bersatu dengan RI,” jawab Natsir.

Lalu, apa kekuatan kita untuk menekan daerah-daerah itu? Natsir tegas menjawab, “Kita punya Soekarno-Hatta, negara-negara bagian itu tidak!”

Baca: https://nusantara.news/natsir-teladan-nyata-etika-politik-dan-kenegarawanan/

Berikut petikan pidato mosi integral Natsir: “Menganjurkan kepada Pemerintah supaya mengambil inisiatif untuk mencari penyelesaian atau sekurang-kurangnya menyusun suatu konsepsi penyelesaian bagi soal-soal yang hangat, yang tumbuh sebagai akibat perkembangan politik di waktu yang akhir-akhir ini, dengan cara integral dan program yang tertentu”.

Dalam kesempatan tersebut, lebih lanjut Natsir mengungkapkan dengan beberapa himbauan:

“Sekarang ini seluruh wakil rakyat negara bagian manapun semuanya menghendaki terwujudnya negara kesatuan, dalam hal ini tidak ada negara bagian yang satu merasa lebih tinggi dari yang lainnya, semuanya sama dari yang lain, marilah negara kesatuan kita dirikan bersama dengan cara semua negara bagian termasuk juga negara RI Jogja dilikuidasi sama sekali dan marilah atas dasar hak yang sama mosi integral ini sebelum dibicarakan dalam parlemen diperiksa oleh presiden dan menteri, dan parlemen secara aklamasi menyetujuinya”.

Singkatnya, pidato Natsir itu kemudian menjadi keputusan parlemen RIS. RIS dibubarkan dan Indonesia menjadi negara kesatuan.

Bagi wapres Mohammad Hatta, Mosi Integral Natsir ini bagaikan proklamasi kedua bagi Indonesia setelah proklamasi pertama yang dilakukan pada 17 Agustus 1945. Karena itu, ketika Indonesia diresmikan sebagai negara kesatuan—atau yang sekarang lebih dikenal NKRI—Natsir diangkat menjadi Perdana Menteri Indonesia di tahun 1950. Barangkali, amanah itu bagian dari pengakuan negara atas jasa dan kualitas kenegarawanan Natsir.

Mohammad Natsir, setelah Masyumi dibubarkan, mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).

Saat ini, untuk mengenang pentingnya Mosi Integral, Majelis Ulama Indonesia (MUI) berencana mengajukan peringatan Hari NKRI setiap 3 April. “Ya mudah-mudahan dengan adanya pencerahan, kemudian adanya Hari Nasional NKRI ini semakin jelas kita umat Islam tidak dituduh anti-NKRI dan kelompok intoleran,” ujar Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri Muhyidin Junaidi di acara Sarasehan Peringatan 69 Tahun Mosi Integral Mohammad Natsir di Jakarta, Senin (1/4). 

Senada, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Prof Jimly Ashiddiqie yang menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut, menerangkan bahwa penetapan 3 April sebagai hari NKRI bisa meredam isu yang mempertentangkan Islam dengan dengan NKRI. Sebab komitmen untuk menjaga NKRI dan Pancasila sudah final. Jadi jangan ada lagi sikap saling mengucilkan di antara anak bangsa. 

"Isu NKRI dan Pancasila selalu dipertentangkan dengan umat Islam. Padahal tokoh Islam justru menjadi penggerak terbentuknya NKRI. Karena itu pentingnya anak bangsa untuk mengetahui Mosi Integral Natsir," pungkasnya.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here