Motor Listrik Karya ITS Siap Dijual Massal Awal Tahun 2018

0
92
Menristekdikti Prof M Nasir menjajal naik motor Gesits didampingi Rektor ITS Prof Joni Hermana, Dr Nur Yuniarto dan Dr Ir Jumain Appe.

Nusantara.news, Surabaya – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya resmi mendirikan sebuah teaching industry pertama di Indonesia yang berfokus pada pengembangan industri perakitan sepeda motor listrik. Pengembangan yang ditunjukkan ITS ini dilakukan sebagai langkah membawa motor listriknya, Gesits (Garansindo Electric Scooter ITS), ke tahap komersialisasi.

Ya, Gesits bakal segera diproduksi massal. PT Garansindo Inter Global, sebagai industri partner, menyatakan siap meluncurkan di pasaran sekitar akhir 2017 dan awal 2018. Motor skuter listrik ini diklaim paling canggih dan paling inovatif di kelasnya.

Penampilannya memang tak jauh berbeda dengan motor skuter matic, yang kini beredar di masyarakat. Bedanya, karena bertenaga listrik, Gesits edisi Merah Putih ini lebih ramah lingkungan, tak menghasilkan polusi, dan tak berisik.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI Mohamad Nasir bahkan berjanji siap menfasilitasi berbagai masalah pengembangan industri otomotif listrik di Indonesia.

“ITS adalah bagian tidak terpisahkan dari sejarah industri motor listrik di Indonesia,” ujar Nasir dalam sambutannya saat meresmikan teaching industry yang berlokasi di Gedung Riset Mobil Listrik ITS, belum lama ini.

Menurut Nasir, teaching industry yang didanai Kemenristekdikti ini nantinya dapat menjadi pelecut bagi peneliti perguruan tinggi untuk merealisasikan riset yang mereka miliki. “Riset yang hanya sebatas publikasi dan tidak bisa diserap industri bukanlah inovasi. Inovasi harus mampu dihilirisasi dan komersialisasi,” ungkapnya.

Nasir juga mengapresiasi teaching industry yang dinaungi Pusat Unggulan IPTEK Sistem dan Kontrol Otomotif (PUI SKO) ITS. Karena itu pihaknya berharap ITS berhasil menciptakan motor listrik dengan harga kompetitif dan kualitas terbaik. “Harapannya, kehadiran motor listrik dapat menggeser kebutuhan motor di Indonesia selama ini, terlebih seluruh desainnya berasal dari anak negeri,” tandas mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) ini.

Nasir juga menjelaskan saat ini pihak Kemenristekdikti sudah berkoordinasi dengan Kementerian lain seperti Kementerian Perhubungan dan Kementerian Industri agar proses perijinan dan uji coba dapat selesai dengan cepat dan baik.

Menurutnya, nanti akan ada penelitian lebih dalam untuk menghasilkan inovasi seperti Gesits. Tujuan penelitian ini untuk mengedukasi ke masyarakat bahwa perguruan tinggi mulai bergairah dalam mengembangkan inovasi.

“Biaya risetnya memang tinggi tapi ini akan berdampak baik untuk masyarakat Indonesia. Hasil penelitian jangan hanya berhenti di perpustakaan saja, namun harus dihilirisasikan ke masyarakat. Karena suatu produk yang tidak dihilirkan ke masyarakat, itu bukan merupakan inovasi,” terangnya.

Sementara itu Direktur Operasi PT Wijaya Karya Industri dan Konstruksi Oksarlidadi Arifin mengungkapkan bahwa pihaknya menargetkan semester II Tahun 2018 akan memproduksi 50.000 sepeda motor listrik Gesits dan di tahun berikutnya akan memproduksi 100.000 motor Gesits.

“Hingga saat ini sudah ada yang memesan sejumlah 37.000 di mana 50 persen dari corporate, dan 50 persen individu yang memesan melalui Garansindo,” ujarnya.

Motor listrik Gesits edisi Merah Putih karya ITS siap masuk ke tahap komersialisasi awal Tahun 2018. Pada semester II Gesits akan memproduksi 50.000 unit dan di tahun berikutnya akan memproduksi 100.000 unit.

Terkait permasalahan baterai motor listrik Gesits, Oksarlidadi menambahkan tidak perlu khawatir jika kehabisan baterai karena sudah bekerjasama dengan PT Pertamina dan PT PLN persero. “Nantinya akan ada tempat penukaran baterai di setiap SPBU se-Jabodetabek dan kota besar lainnya,” tambahnya.

Chief Operating Officer Garansindo Harun Sjech mengatakan motor listrik Gesits akan dipasarkan dengan harga yang terjangkau. “Harga motor listrik Gesits ini sekitar 15-17 juta,” ungkapnya.

ITS saat ini memang sudah siap mengembangkan dan mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal agar proses produksi masal dapat berjalan dengan baik. Teaching industry adalah bentuk keseimbangan dari peran perguruan tinggi.

Melalui program pelatihan teaching industry ini, mahasiswa dapat memiliki bayangan terkait bagaimana sebenarnya industri otomatif berlangsung.

Rektor ITS Prof Joni Hermana mengungkapkan, dalam teaching industry tersebut, ada delapan station proses manufaktur yang dimiliki meliputi station rangka (chasis), steering system, drive train, aksesoris, dua station pemasangan body, waiting, tes fungsi dan performa.

“Hebatnya, di dalam teaching industry ITS ini berhasil menghasilkan sebuah motor listrik hanya dengan waktu tunggu selama 5 menit di setiap station dan keseluruhan proses hingga jadi memakan selama 45 menit lewat konsep modular assembly,” urainya

Sementara itu, Direktur PUI-SKO ITS, Dr Muhammad Nur Yuniarto ST, menambahkan konsep modular assembly ini sangat sesuai dalam mendukung proses pendidikan karena konfigurasinya dapat diubah sesuai kebutuhan. “Selain itu, hal ini juga didukung dengan seluruh fasilitas di teaching industry yang didesain sendiri sesuai kebutuhan,” tambahnya.

Dosen Teknik Mesin ITS ini menjelaskan, konsep modular assembly ini juga mendukung proses pengembangan varian baru dari Gesits yang dapat diujicobakan terlebih dahulu di teaching industry sebelum dilakukan produksi masal maupun bagi pihak lain yang bergerak di industri motor listrik.

“Selain melibatkan mahasiswa ITS dan lulusan perguruan tinggi, teaching industry dengan tim 25 teknisi ini juga melibatkan lulusan SD, SMP, dan SMK dalam proses pembuatannya. Berbagai lulusan jenjang pendidikan kami siapkan untuk berkontribusi di industri perakitan sepeda motor listrik Indonesia,” imbuh Ketua Tim Riset Mobil Listrik Nasional ITS ini.

Keunggulan Gesits Edisi Merah Putih

Apa saja keunggulan motor skuter listrik pertama buatan anak bangsa ini.  Disampaikan Yuniarto, Gesits menggunakan tenaga listrik bukan berarti motor listrik tidak aman. Dia mengatakan baterai sebagai sumber daya berada di bawah jok sehingga didesain terlindung dari hujan. “Kami jamin tidak akan ada masalah,” katanya.

Sebab, pada dasarnya sepeda motor biasa memiliki aliran listrik yang tersimpan di aki. “Itu hanya mitos. Bukankah setiap motor sekarang ada aki dan aliran listriknya?” ujar CEO PT Garansindo Inter Global Muhammad Al Abdullah.

Garansindo berjanji, harga Gesits tak jauh berbeda dengan motor skuter berbahan bakar minyak yang ada di pasaran sekarang. Al Abdullah mengatakan teknologi canggih yang digabungkan dengan inovasi justru membuat harganya lebih murah. Sebagai perbandingan, motor listrik Zero harganya sampai Rp 250 juta per unit. “Sedangkan kami bisa bikin dengan harga di bawah Rp 20 juta,” ujarnya.

Selain itu, motor bertenaga listrik dijamin lebih irit dalam hal perawatan. Alasannya, pemilik tak perlu repot-repot mengganti oli dan mengeluarkan bujet lebih untuk mengisi bahan bakar. Daya motor sebesar 5 KW itu setara dengan motor berkapasitas 110 cc. “Kalau diperbandingkan antara harga listrik PLN dan harga premium, motor kami 30-50 persen lebih murah,” kata salah satu anggota tim Gesits, Grangsang Sotyaramadhani.

Ditambahkan, Garansindo menawarkan jaminan bebas servis selama 5 tahun pertama pembelian, kecuali ban atau karena tabrakan. Motor listrik bakal lebih awet dibandingkan dengan motor berbahan bakar minyak. Yang jelas, tidak perlu mengganti oli.

Tim ITS juga memastikan, hampir seluruh komponen Gesits merupakan buatan sendiri. Sedangkan aksesori diambil dari produksi lokal yang sudah ada di pasaran. “Hanya baterai yang masih diimpor dari Jepang,” tutur Grangsang.

Bahkan motor penggerak skuter listrik itu buatan asli mahasiswa ITS, yang dinamai i-QM. Nama itu dipelesetkan dari bahasa Jawa, iki uteke motor alias ini otaknya motor. Lalu, spidometer ditampilkan digital, bukan konvensional dengan jarum penunjuk. Spidometer ini bisa dihubungkan ke ponsel cerdas atau gawai cerdas lewat Bluetooth.

Gambar rancangan motor listrik Gesits yang segera diproduksi massal.

Ke depan, ITS dan Garansindo menggandeng usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memproduksi bagian (sparepart) sepeda motor. Contoh komponen yang bisa dikerjakan ialah chasing, rotor, as, velg, kabel, plastik, dan lain-lain. Sedikitnya seratus UMKM dapat menyuplai komponen Gesits.

Dan untuk mengisi daya motor skuter Gesits buatan ITS, sama dengan motor listrik buatan luar negeri yang sudah ada di pasaran. Tinggal dicolokkan ke steker listrik di rumah sekitar 1,5-2 jam. “Kami hitung bisa menjangkau 6 kilometer per KWh sehingga sekali mengisi daya bisa jalan sekitar 60-100 kilometer,” ucapnya.

Ke depan, Garansindo sebagai pabrikan akan memperbanyak kerja sama dengan pelaku usaha kecil sebagai penyedia fasilitas pengisian daya layaknya membeli pulsa. “Kalau kehabisan baterai, caranya seperti ganti elpiji. Cari saja warung atau SPBU, 3 menit selesai ganti,” pungkasnya.

Terpisah, Gubernur Jawa Timur Soekarwo  menyatakan siap membeli 100 unit sepeda motor listrik Gesits. Ini sekaligus untuk mengapresiasi karya anak ITS. Rencananya motor tersebut akan digunakan sebagai kendaraan operasional Pemerintah Provinsi setempat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur Wahid Wahyudi ketika dikonfirmasi awak media di Surabaya, Senin (18/12/2017). “Pak Gubernur siap membeli 100 unit untuk operasional,” ujar

Niatan gubernur tersebut, lanjut Wahid, sudah disampaikan kepada Rektor ITS Surabaya Prof Joni Hermana untuk segera ditindaklanjuti. “Yang pasti, kalau sudah ada produksi massal maka Gubernur pesan 100 unit,” ucap birokrat yang juga Ketua Ikatan Alumni ITS Jawa Timur tersebut.

Sepeda motor listrik bernama Garansindo Electric Scooter ITS (GESITS) tersebut, lanjut dia, juga akan dipamerkan di hadapan Presiden RI Joko Widodo bersamaan dengan peresmian Jalan Tol Surabaya-Mojokerto pada Selasa, 19 Desember 2017.

Sebelumnya PT Triangle Motorindo telah meluncurkan motor listrik Viar Q1 ke pasar dengan harga 16,2 juta pada Mei 2017 lalu.

Meskipun daya jelajahnya masih sebatas 60 km, dengan kecepatan maksimal 60 km per jam namun skutik ini diklaim menjadi sepeda motor listrik pertama yang dipasarkan dengan kelengkapan STNK. Kehadiran Viar Q1 merupakan dukungan Viar kepada pemerintah yang menginginkan hadirnya alat transportasi tanpa polusi asap dan tanpa menggunakan bahan bakar fosil.

Skutik ini menggunakan tenaga dari baterai jenis Lithium- Ion berkapasitas 60 Volt- 20 Ah untuk menggerakkan motor berdaya 800 watt buatan Bosch, dengan charger input listrik 220 Volt dan charger power 50 Hz. Dibutuhkan waktu kurang lebih 5 jam untuk mengisi baterai hingga penuh, yang sanggup mejangkau jarak sepanjang 70 km dengan kcepatan maksimum hanya 60 km per jam.

Dari hitungan ekonomi Viar Q1 cukup tidak menguras kantong seperti kendaraan berbahan bakar fosil. Dengan hitungan biaya listrik per 1 kWh sebesar 1.467 rupiah menurut TDL 2017, maka untuk mengisi penu baterai hanya butuh 2.934 rupiah.

Dengan kemampuan menempuh jarak hingga 70 km, dengan demikian hanya butuh 42 rupiah untuk setiap kilometernya. Bandingkan dengan ongkos BBM bersubsidi jenis premium yang harganya 6.550 rupiah per liternya. Skutik teririt dengan 1 liter bensin mencapai jarak 70 km, misalnya jika dihitung per kilometernya membutuhkan ongkos bensin sebesar 93,5 rupiah. Apalagi skutik ini tidak butuh perawatan rutin seperti ongkos servis, ganti oli mesin, ganti oli garden, dan lainnya.

Merek Jepang yang selama ini diuntungkan dengan mesin konvensional juga tidak mau ketinggalan. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing pada akhir Oktober 2017 lalu juga telah mengenalkan Yamaha Electric Vehicle (YEV) dalam bentuk e-Fino. YEV telah disempurnakan daripada generasi sebelumnya, dan kali ini dalam bentuk skuter matik, yang ringan dan cocok digunakan di jalanan Indonesia. Skutik yang membutuhkan waktu isi ulang 3 jam dengan baterai 110 volts memiliki berat cukup ringan, hanya 66 kg saja.

Namun Viar Q1 dan YEV segera mendapatkan pesaing baru, yakni Gesits Merah Putih yang segera memasuki proses produksi di pabrik Wijaya Karya (WIKA) di Cileungsi, Bogor, dengan kapasitas 50.000 unit per tahun. Skutik Gesits mengaplikasi motor elektrik berdaya 5kW dengan torsi mencapai 15Nm pada 3.000 rpm dari sumber baterai Lithium-ion dengan sistem manajemen baterai yang seluruhnya merupakan produk dalam negeri. Dengan bermunculannya motor listrik ini, diprediksi era kendaraan listrik di Indonesia akan tumbuh dengan pesat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here