Mudik, Napak Tilas Dialektika Spiritual

0
159
Mudik, perjalanan mencari titik asal.

Nusantara.news, Jakarta – Hari-hari ini, jalan menuju ke luar kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya mulai dipadati para pemudik Lebaran Idul Fitri 2017. Sampai beberapa hari ke depan, kepadatan akan semakin bertambah. Puncak arus mudik Lebaran diperkirakan tanggal 23 Juni besok.

Bagi penduduk kota, kemacetan lalu lintas adalah hal yang paling menjengkelkan. Tetapi, bagi para warga kota yang hendak mudik ke kampung halamannya, mudik adalah bagian dari prosesi ritual tahunan. Meski harus berdesak-desakan dalam sarana transportasi yang tak memadai, dan dengan keringat membanjir di tengah jebakan kemacetan, itu semua dilalui dengan perasaan lapang. Jarang terdengar pemudik yang menyumpah-nyumpah karena terganggu hambatan di jalan.

Mudik memang fenomena sosial yang khas dalam masyarakat urban. Mudik sekaligus bermakna spiritual, karena ada prosesi napak tilas kembali ke asal. Dan napak tilas kembali ke asal adalah momen evaluasi jatidiri: Sudah sejauh mana kaki melangkah, sudah seluas apa samudera diharungi. Asal, atau kampung, dengan begitu berarti sebagai alam makrokosmos, alam acuan, alam yang menjadi awal dan akhir dari perjalanan kehidupan seorang anak manusia urbanis.

Rantau tiada lain hanyalah alam mikro yang kedudukannya menyempurnakan perjalanan dari dan kembali ke alam makro tadi. Mudik adalah bagian dari dialektika anak manusia. Dalam bahasa Yunani, dialektika secara etimologis berarti suatu seni bertukar pendapat untuk menyelidiki kebenaran.

Jika mengikuti dialektika Hegel, bahwa gagasan selalu berproses secara dialektik. Dan kampung adalah tesis yang disempurnakan dengan rantau sebagai antitesis. Dengan mudik, ikatan-ikatan kekerabatan yang selama ini terpenggal oleh jarak dan egoisme kota besar ingin dicoba dibuhul kembali.

Ikatan kekerabatan dalam habitat asalnya adalah barang asing di kota. Ketika ikatan yang putus itu terbuhul kembali sesampai di kampung, itulah suasana yang sukar dilukiskan kenikmatannya. Aman, damai, tentram, dan akrab. Bayangan kenikmatan itulah yang menguatkan setiap pemudik mengalahkan seberat apa pun hambatan yang mereka temui di perjalanan.

Suasana mudik yang sumpek, berdesak-desakan, dan senantiasa jadi korban buruknya pelayanan publik negeri ini, sebenarnya adalah suasana yang menjengkelkan bagi orang yang tak pernah berangkat dari udik. Sebab mudik bukan tamasya. Mudik adalah perjalanan spiritual kembali ke habitat asal.

Bagi orang yang lahir dan besar di kota, sudah pasti tak bakal involved dengan riuh rendahnya mudik lebaran. Karena jika mereka melakukan perjalanan ke kampung (yang bukan tanah kelahirannya) maka itu adalah perjalanan biasa. Dan perjalanan biasa dalam suasana seperti mudik lebaran jelas bukan perjalanan yang menyenangkan.

Mudik menjadi fenomena sosial dengan segala kegaduhannya karena terjadi di setiap Hari Raya Idul Fitri di sebuah negara yang mayoritas berpenduduk Muslim. Fenomena ini tak hanya ada di umat Islam di Indonesia. Tetapi, setiap bangsa dan agama juga mempunyai tradisi seperti itu.

Setiap Hari Raya Galungan, penganut Hindu Bali juga kembali tetirah ke ranah asalnya. Para penganut Kristiani juga melakukan hal yang sama setiap perayaan Hari Natal. Bahkan setiap Thanksgiving Day, masyarakat Amerika juga berduyun-duyun kembali ke kampung halamannya. Di Jepang, setiap Hari  Obon, orang juga berduyun-duyun pulang kampung untuk menyambut kedatangan arwah leluhur.  Orang Korea juga mudik ke kampungnya setiap hari Chuseok, atau hari panen. Begitu juga dengan orang Cina, setiap perayaan Tahun Baru Imlek.

Dengan mudik, segala “kekotoran” alam rantau bisa tercuci oleh nilai awal di habitat asal. Dan itu akan menjadi rambu-rambu baru untuk meneruka kembali kehidupan rantau setelah ritus mudik selesai.

Karena ini adalah perjalanan “mensucikan batin”, maka menjadi tak masuk akal jika ada pemudik yang justru merusak suasana itu dengan perilaku berbahaya. Misalnya, setiap arus mudik dan balik Lebaran, angka kecelakaan lalu lintas jadi melonjak.

Menurut data Kementerian Perhubungan, Lebaran 206 jumlah kecelakaan tercatat sebanyak 1.289 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 244 orang. Angka ini memang turun dibanding tahun 2015, yakni 328 orang tewas dalam 1.622 kali kecelakaan lalu lintas.

Angkanya memang turun. Tetapi, satu orang pun yang meninggal, toh tetap saja merusak suasana dan kemurnian diri yang hendak dicapai dengan berhari raya. Kalau celaka di jalan, “pensucian” apa yang akan didapat dari prosesi yang melelahkan tersebut.

Jadi, kalau boleh berpesan, suka cita mudik dengan segala kemeriahannya  itu perlu dilakukan dengan kedewasaan. Dewasa dalam memaknai esensi “kembali ke asal”, dan dewasa dalam proses menempuhnya.

Minal aidzin wal faidzin.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here