Mulai Muncul Istilah Asal Bukan Jokowi vs Asal Bukan Prabowo

1
194
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kedua kiri) menyapa wartawan saat menunggang kuda di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Senin (31/10). Pertemuan tersebut dalam rangka silaturahmi sekaligus membahas masalah bangsa, politik dan ekonomi. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/aww/16.

Nusantara.news, Jakarta – Jika bertemu, Prabowo Subianto dan Joko Widodo  memperlihatkan sikap negarawan, keduanya tampak kompak misalnya naik kuda berdua, dan saling memberi hormat dengan cara masing-masing.  Keduanya juga familiar dengan kalimat NKRI, Pancasila, UUD 1945. Tetapi di balik itu, persaingan kedua kubu mulai memanas. Hal ini  terindikasi dari mulai munculnya istilah asal bukan Prabowo (ABP) dan asal bukan Jokowi (ABJ).

ABJ vs ABP

Kemunculan istilah ABP dan ABJ memang belum santer. Istilah itu juga belum muncul di naskah tulisan media massa cetak, online  atau televisi. Istilah itu baru muncul secuil di satu dua tulisan yang di-upload di media sosial.

Tidak diketahui secara pasti siapa yang memunculkan istilah itu. Dilihat dari beberapa kali pertemuan antara Prabowo dan Jokowi yang akrab dan familiar dengan kata-kata NKRI, Pancasila dan UUD 1945, maka istilah itu kemungkinan dimunculkan oleh bukan orang di lingkaran inti Prabowo dan Jokowi, juga bukan oleh orang di lingkaran Partai Gerindra dan PDIP. Istilah itu kemungkinan dimunculkan oleh orang di lingkaran luar kedua tokoh dan partai pengusung.

Istilah dimunculkan sebagai propaganda dengan harapan keduanya saling mereduksi, dengan tujuan menggeser dominasi kedua tokoh dari bursa  calon presiden untuk membuka jalan bagi masuknya capres alternatif.

Tetapi ada juga kemungkinan istilah itu dimunculkan oleh simpatisan tetapi simpatisan yang berada di lingkaran jauh kedua tokoh. Tujuannya adalah saling mengkristalisasi dan saling mereduksi masing-masing tokoh.

Aksi para simpatisan di lingkaran jauh ini sangat dapat dipahami, karena persaingan antara kedua tokoh pada Pilpres 2014 lalu memang berlangsung sangat ketat seolah membelah masyarakat Indonesia ke dalam dua kelompok, yang ketika itu dikenal dengan istilah Koalisi Merah Putih (KMP) untuk Prabowo-Hatta dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) untuk Jokowi-JK.

Sedemikian ketatnya persaingan sehingga media sosial ketika itu ramai dengan aneka ujaran pujian dan ujaran kebencian.

Selisih Suara Tipis

Pilpres 2019 yang digelar April 2019, masih lebih setahun lagi. Namun suasana persaingan antara kedua tokoh sudah mulai terasakan. Hal ini juga dapat dipahami karena selisih suara antara Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 itu terpaut tidak jauh, yakni hanya 8.421.389 suara. Prabowo-Hatta meraih 62.576.444 suara (46,85 persen), sedang Jokowi-JK meraih 70.997.85 suara (53,15 persen).

Selisih perolehan suara yang tipis ini membangkitkan optimisme di kubu Prabowo di satu sisi dan di sisi lain mendorong kubu Jokowi semakin giat berupaya untuk mengamankan kemenangan dengan memperbesar selisih perolehan suara pada Pilpres 2019 mendatang.

Peluang kubu Prabowo memperbesar perolehan suara sudah tampak. Salah satunya di daerah pemilihan DKI Jakarta. Kemenangan Anies-Sandi yang didukung koalisi Gerindra dan PKS di Pigub DKI Jakarta, sudah barang tentu menjadi peluang bagi Prabowo untuk meningkatkan perolehan suara di DKI Jakarta.

Pada Pilpres 2014 lalu Prabowo-Hatta kalah tipis di DKI Jakarta. Prabowo-Hatta ketika itu memperoleh 2.528.064 (46,92 persen) sedang Jokowi-JK memperoleh 2.859.894 (53,08 persen).

Setelah kemenangan Anies-Sandi, situasi bisa berbalik di mana Prabowo berpeluang meraup suara lebih besar dari Jokowi.

Jika Prabiowo berhasil menambah perolehan suara di DKI Jakarta sekitar 500.000 suara saja, maka pengaruhnya akan signifikan. Sebab dengan sendirinya, perolehan suara Jokowi akan mengalami penurunan.

Untuk menutupi selisih suara selebihnya, Prabowo bisa menggenjot perolehan suara terutama di Jabar. Pada Pilpres lalu Prabowo-Hatta menang telak dari Jokowi-JK di Jabar. Selisih suara antara keduanya tidak tanggung-tanggung, yakni mencapai 4.937.066 suara, Prabowo-Hatta memperoleh 14.167.381 (59,78%), sedang Jokowi-JK memperoleh 9.530.315 (40,22 %).

Masih ada 10 juta suara lagi yang bisa diperebutkan di Jabar. Sebab, pada Pilpres 2014 lalu, suara sah hanya mencapai 23.697.696. Sementara  DPT Jabar mencapai 33.821.378 pemilih. Ini berarti masih ada sekitar 10 juta suara mengambang.

Jika pada Pilpres 2019 mendatang, Prabowo berhasil menggenjot perolehan suara di Jabar, misalnya dengan mencuri perhatian 10 juta suara massa mengambang (golput), maka Prabowo dan wakilnya berada di ambang kemenangan, dengan catatan dapat mempertahankan suara di daerah pemilihan lain.

Kemungkinan itu bukan suatu yang sulit untuk diraih, karena saat ini, Gerindra sudah menjalin koalisi dengan PKS dan PAN di Pilgub Jabar mengusung Sudrajat dan Ahmad Syaikhu. Koalisi ini diprediksi kuat karena dalam dua kali pilgub di Jabar, yakni Pilgub 2008 dan 2013, koalisi PKS berhasil mengalahkan calon yang diusung PDIP.

Namun kubu Jokowi juga tidak mau ketinggalan dalam upaya menggenjot perolehan suara di Jabar. Berbagai langkah dilakukan. Antara lain dengan menggaet Deddy Mizwar yang diusung oleh Partai Demokrat. Apa hubungan Partai Demokrat dengan Jokowi?  Jokowi dispekulasikan menjalin kerjasama khusus dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengantisipasi kemungkinan PDIP memaksakan kehendak terutama dalam menentukan wakil presiden yang akan dipasangkan dengan Jokowi pada Pilpres 2019.

Karena kerjasama itu pula dispekulasikan Partai Demokrat bisa dengan mudah menjalin koalisi dengan Partai Golkar yang sekarang dikendalikan Jokowi, di Pilgub jabar dengan mengusung pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi.

Deddy Mizwar yang merupakan petahana Wakil Gubernur Jawa Barat dinilai cukup kuat sebagai figur pendulang suara di Jabar. Kemenangan Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar yang diusung PKS dan PPP di Pilgub 2013, menurut beberapa analis, disebabkan oleh faktor Deddy Mizwar sebagai selebriti. Fator Deddy Mizwar-lah yang dianalisis sebagai kekuatan sehingga berhasil mengalahkan pesaingnya yang juga selebriti yakni pasangan Dede Yusuf – Lex Lesmana yang diusung Partai Demokrat dan pasangan Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki yang diusung PDIP.

Deddy Mizwar dinilai memliki modal sosial tinggi di Jabar karena perannya di film “Naga Bonar” yang terkenal dan sinetron “Mencari Tuhan” yang juga terkenal. Film “Naga Bonar” membuat Deddy Mizwar mudah diterma oleh pemilih masyarakat Pantura yang progresif, sedang melalui sinetron “Mencari Tuhan,” Deddy Mizwar mudah diterima oleh pemilih masyarakat Priangan yang santun.

Oleh sebab itu, pasangan Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi diprediksi akan menjadi lawan berat bagi pasangan Sudrajat-Syaikhu yang diusung koalisi Gerindra, PKS dan PAN. Jika berhasil memenangi Pilgub Jabar 2018, maka Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi dengan sendirinya akan menjadi endorser kuat bagi Jokowi untuk menggenjot perolehan suara di dapil Jabar pada Pilpres 2019 mendatang.

Jokowi sendiri saat ini berkali-kali turun ke berbagai daerah di Jabar. Jokowi misalnya ikhlas bermacet-macet menuju Taman Safari, Puncak.  Jokowi juga menyempatkan diri meresmikan berbagai proyek pemerintah di berbagai daerah di Jawa Barat. Tidak kurang Jokowi menyempatkan diri menghadiri pernikahan anak pengasuh rusa yang ada di Istana Bogor.

Sumatera Utara adalah dapil keempat terbesar di Indonesia setelah Jabar, Jatim, dan Jateng dengan total pemilih mencapai 9.468.360 suara. Pada Pilpres 2014 lalu Jokowi memenangi perolehan suara di Sumut. Pasangan Jokowi-JK meraih 3.494.835 (55,24 persen), sedang Prabowo-Hatta meraih 2.831.514 (44,76 persen).

Perolehan suara Jokowi-JK ini terutama berasal dari wilayah Toba, Karo, Simalungun dan sekitarnya yang didominasi masyarakat beragama Kristen. Sementara perolehan suara Prabowo-Hatta terutama berasal dari wilayah Medan dan sekitarnya yang didominasi warga beragama Islam.

Setelah Jokowi menghadiri pesta adat putrinya yang menikah dengan marga Siregar di Medan beberapa waktu lalu, maka perolehan suara Jokowi di daerah Medan dan sekitarnya berpotensi meningkat, sehingga pada Pilpres 2019 mendatang, akan menambah lagi perolehan suaranya di dapil Sumut.

Tipisnya selisih perolehan suara Jokowi dan Prabowo pada Pilpres 2014 lalu itu-lah yang membuat peta persaingan pada Pilpres 2019 cepat panas dan berlangsung ketat. Itu pula tampaknya yang mendorong kedua kubu tidak menyia-nyiakan even Pilkada 2018 untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi Pilpres 2019.

Peta persaingan ketat ini tak pelak semakin membuat bursa capres 2019 didominasi secara sepenuhnya oleh Jokowi dan Probowo. Nyaris tidak ada ruang bagi pihak tertentu untuk membuka ruang bagi capres alternatif. Semuanya tersedot oleh isu persaingan ketat kubu Jokowi dan Prabowo

Oleh sebab, tidak tertutup istilah asal asal bukan Jokowi (ABJ) dan asal bukan Prabowo (ABP) kemungkinan merupakan propaganda yang dimunculkan oleh orang di lingkaran luar kedua tokoh dan partai pengusung dengan harapan terjadi upaya saling mereduksi antara kedua tokoh dan membuka ruang bagi masuknya capres alternatif.

Namun, tidak tertutup kemungkinan pula bahwa istilah itu dimunculkan oleh simpatisan kedua tokoh yang berada di lingkaran jauh, antara lain terdorong oleh tarik menarik atau pro kontra politik indentitas yang diperkirakan akan menjadi isu sentral pada Pilpres 2019 bahkan Pilkada 2018 mendatang. []

 

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here