Mulut Kasar Si “Tiko” Steven Meniru Ahok?

0
288

Nusantara.news,  Jakarta,  –Kalau melihat gaya Steven yang menghina Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, yang diejeknya dengan sebutan “Tiko”, pemuda keturunan Tionghoa ini lagaknya seperti sedang ‘di atas angin’. Entah karena pengaruh gaya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atau memang wataknya seperti kebanyakan pemuda keturunan Tionghoa generasi Singapura. Yang jelas, penghinaannya sudah masuk dalam kategori “sentimen rasis”  alias SARA.

Peristiwa penghinaan itu sendiri terjadi ketika Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi sedang antri untuk check-in di depan Counter Batik Air Bandara Udara Changi, Singapura pada Minggu, 9 April 2017 sekitar pukul 14.30 waktu Singapura. Bersama istrinya, Zainul yang keluar sebentar dari barisan antri, tak lama kemudian masuk kembali ke antrian telah membuat Steven Hadisurya Sulistyo marah-marah sambil menghina Gubernur NTB itu dengan kata-kata yang tak pantas.

Steven melontarkan penghinaan dengan sebutan “Dasar Indon. Dasar Indonesia. Dasar Pribumi, Tiko!” Justru yang menyakitkan adalah arti kata “Tiko” yang merupakan singkatan dari “tikus kotor”. Bahkan lebih dari itu “Tiko” memiliki arti “Ti = babi” dan “ko =anjing”.

Penghinaan yang dilontarkan Steven sudah masuk dalam pasal penghinaan kepada  orang lain dan lebih khususnya lagi bernuansa SARA. Apalagi, ucapannya sangat merendahkan orang pribumi.  Dalam delik penghinaan, bahwa penghinaan tidak saja pada pribadi seseorang, tetapi juga bisa berkenaan dengan penguasa atau badan umum. Penghinaan terhadap penguasa atau badan umum itu sebagai diatur dalam pidana dalam Pasal 207 KUHP yang dirumuskan sebagai berikut: “Barang siapa dengan sengaja di muka umum dengan lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”.

Dari elemen pokok tindak pindana penghinaan yang dilakukan seseorang itu haruslah dilakukan dengan sengaja dan dilakukan di depan umum, baik dengan tulisan atau dalam bentuk lisan. Jika memperhatikan rumusan delik penghinaan dalam KUHP di atas, maka elemen pokok dari delik penghinaan itu adalah; (1) barang siapa; (2) dengan sengaja di muka umum dengan lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau badan umum yang di ada di Indonesia.

Dalam kaitan tersebut di atas, jika Steven melakukan penghinaan atas penguasa atau suatu badan, maka harus dibuktikan terlebih dahulu, apakah dilakukan dengan sengaja atau tidak. Kesengajaan Steven itu secara hukum yang terpenting adalah menemukan niat pelaku. Sementara terkait dengan elemen delik di depan umum, tentulah tidak sulit untuk membuktikannya, karena bisa dilihat di mana dan dihadapan siapa serta melalui media apa penghinaan itu dilakukan yang pada pokoknya dapat dipandang sebagai sesuatu yang tidak bersifat privat atau bukan area privat. Di sisi lain tentu ada beberapa kategori sesuatu yang dipandang sebagai di depan umum.

Artinya, ini bukan delik aduan. Jadi, kepolisian dapat segera bertindak mengusut kasus ini. Sampai saat ini belum ada pernyataan dari kepolisian terkait masalah ini.

Perbuatan Steven membuat warga Nahdlatul Wathan (NW) di Nusa Tenggara Barat marah. Kemarahan warga NW ini pula yang membuat Aliansi Umat Islam (AUI) NTB mengajak kepada umat Islam di NTB untuk berkumpul di Islamic Center seusai shalat Jumat, bersama-sama menyatakan sikap keberatan mereka terkait dengan penghinaan yang dialami oleh ulama sekaligus umara di NTB itu.

Perbuatan Steven yang tak punya etika ini sudah keterlaluan.  Hal ini seakan mengingatkan kebanyakan orang keturunan China Singapura yang memandang rendah terhadap orang Melayu di negeri itu.

Tapi, ulah tak beradab anak muda ini kena batunya, karena orang yang dia hina di Bandara Changi Singapura itu adalah Gubernur NTB yang bergelar Tuan Guru Bajang (TGB), yang sekaligus Ketua Umum Nahdlatul Wathan (NW, ormas Islam terbesar di NTB). Tidak salah jika warga NTB meluapkan amarahnya karena TGB yang juga ulama adalah sosok yang dihormati di daerahnya.

Menurut Ketua AUI NTB Deddy AZ , hal ini merupakan marwah dan kepemimpinan Gubernur NTB yang sekaligus  seorang ulama. “Kita tidak boleh tinggal diam. Boleh saja Tuan Guru memaafkan pelaku proses hukum harus tetap berjalan,” ujarnya berapi-api.

Boleh saja Steven minta maaf dan agar tidak diproses secara hukum, seperti yang dituangkan dalam secarik kertas bermaterai. Tetapi, pasal penghinaan dengan menyebut-nyebut pribumi  sebagai “tikus kotor” di depan khalayak ramai, merupakan perbuatan pidana, apalagi yang dicaci-maki dan hinaan itu adalah seorang Gubernur NTB yang dihormati warganya.

Perbuatan Steven keturunan Tionghoa ini wajib dikenakan sanksi hukuman yang setimpal oleh aparat kepolisian agar tidak ada lagi orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia, yang sebenarnya “numpang cari makan” berhati-hati terhadap orang-orang pribumi.

Mereka harus tahu diri jika tidak ingin muncul kembali  rasa sentimen “anti China” di Indonesia. Sejarah membuktikan bahwa  WNI keturunan Tionghoa di  masa lalu seringkali kena amuk massa yang tidak bisa dibendung. Di tanah air, golongan  mereka termasuk rawan dan sensitif terhadap isu sentimen rasial. Beberapa peristiwa di masa lampau, seperti pada 1997 di Makassar, atau pada peristiwa 1998 banyak warga keturunan yang lari ke luar negeri dengan bekal seadanya, karena properti milik mereka menjadi sasaran kemarahan pribumi.

Mulut kasar Steven mengingatkan orang kepada cara bicara Ahok. Seperti pernah diperlihatkan ketika melontarkan kata-kata yang tak pantas kepada seorang perempuan bernama Yusri Isnaeni dari Jakarta Utara yang menanyakan soal Kartu Jakarta Pintar (KJP). Saat itu Yusri mengadu ke Ahok lantaran dipotong 10 persen ‎saat mencairkan dana KJP milik anaknya. Ibu muda itu disebutnya “maling”.

Mungkin adanya benarnya seperti yang dikatakan Jansen Sitidaon, Dewan Pakar jaringan Nusantara yang mengatakan, dari mana kira-kira Steven ‘belajar’ kata-kata berbau rasial tersebut? Mengingat  usianya yang masih tergolong “belia”, yakni kelahiran tahun 1991. Apa penyebabnya dia begitu benci kepada pribumi?

Padahal, kata Jansen, melihat surat pernyataan permohonan maafnya kepada Tuan Guru Bajang,  Steven sendiri berkewarganegaraan Indonesia. Apalagi, dilihat alamat KTP-nya, dia tinggal di Kedoya, Jakarta Barat. Bisa jadi hanya karena dia jebolan pendidikan luar negeri yang menjadikan dirinya seperti bukan warga negara Indonesia lagi. Jansen malah menduga, jangan-jangan Steven ini seperti kebanyakan warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang sesungguhnya tidak merasa sebagai orang Indonesia, apalagi merasa sebagai pribumi.

Namun, kelakuan tanpa etika ini bukan hanya dilakukan oleh si “Tiko” Steven saja, melainkan juga dilakukan oleh generasi tuanya. Masih ingat ucapan Taipan Soekanto Tanoto di televisi CCTV2 China? Di sana dia mengatakan, baginya Indonesia hanyalah ayah angkat, sedangkan ayah kandungnya tetap Cina. Ini satu contoh lain, di mana orang keturunan Tionghoa di Indonesia yang menggaruk kekayaan dari tanah Indonesia tetapi rasa nasionalismenya tidak pernah diberikan kepada Merah Putih. Padahal, dia lahir, besar dan cari makan hingga kaya raya di Indonesia.

Si “Tiko” Steven dan Soekanto Tanoto merupakan dua warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang berbeda generasi, walaupun WNI tetapi ironisnya tidak merasa menjadi Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here