Mulut Pemimpin

0
91

KAMPANYE saat ini, terus terang, menggelikan. Ketika para pemimpin berapi-api menjual kecap nomor satu tentang dirinya, pada saat yang sama mereka melakukan kekeliruan yang justru merusak citra nomor satu itu. Mereka cenderung membuat lubang-lubang yang mudah dimanfaatkan lawan politiknya untuk menggiringnya ke dalam sasaran tembak.

Lihat saja misalnya, ucapan Presiden Joko Widodo tentang “Politisi Sontoloyo”, atau tentang ungkapan “Tampang Boyolali” yang terlontar dari mulut Calon Presiden Prabowo Subianto. Itu hanya dua contoh dari sekian banyak ungkapan yang membuka ruang tembak. Terbukti ketika istilah “Politisi Sontoloyo” atau “Tampang Boyolali” terlontar dan tersiar ke ruang publik, kedua ungkapan itu langsung diterkam oleh pihak yang berlawanan sebagai alat degradasi politik. Bahkan ada yang ucapan yang sampai diadukan ke penegak hukum –satu hal yang sebenarnya lebih sebagai upaya degradasi ketimbang penegakan hukum.

Presiden Joko Widodo mengaku “kelepasan” mengucapkan istilah “Politisi Sontoloyo” itu karena merasa sangat jengkel karena terlalu cara berpolitik tidak sehat yang sering dilakukan menjelang pemilu. Sementara Prabowo mengatakan tidak bermaksud merendahkan siapa-siapa dengan ucapannya itu. Dia hanya bergurau. “Saya bingung juga kalau ucapan bercanda dipersoalkan,” katanya.

Kelepasan atau tidak, bergurau atau tidak, yang jelas keduanya menjadi persoalan di lapis massa. Dan keduanya juga sekaligus menjadi tolok ukur bagi publik dalam melihat calon pemimpinnya.

Jika Presiden Joko Widodo mengaku kelepasan bicara karena sudah sudah sangat jengkel, maka itu menunjukkan lemahnya kontrol emosi sang petahana. Jika Prabowo hanya bermaksud bergurau dengan frasa di atas, berarti selera humornya payah. Kedua pemimpin ini seperti tidak menyadari jika sedikit saja kesalahan ucapan atau tindakan yang mereka lakukan, respon akan langsung bertubi-tubi.

Mereka sering sekali mengatakan bahwa di tahun politik ini hal sekecil apa pun akan dipolitisasi. Tetapi anehnya mereka sendiri yang justru rajin memproduksi “bahan baku” politisasi itu. Politisasi dilakukan massif oleh kedua belah pihak, baik politisasi degradatif terhadap lawan maupun degradasi promotif untuk kawan.

Biasanya setiap ada ucapan yang menjadi kontroversi itu, reaksi si empunya ucapan adalah “coba ditonton secara lengkap, jangan sepotong-sepotong”, dan kalimat sejenis. Dan begitu kontroversi meledak, tim sukses masing-masing tergopoh-gopoh mencari alasan klarifikasi.

Terus terang, sejak calon presiden dan calon wakil presiden peserta pemilu ditetapkan oleh KPU pada 20 September kemarin, wacana yang berkembang hanya seputar perkara remeh-temeh. Kualitas wacana seperti itu tentu sama sekali tidak bermutu dalam konteks perkara sepenting pemilihan presiden.

Wacana yang berkembang dalam masa-masa kampanye ini –kalaulah tidak semua—sebagian besar justru wacana yang memancing politisasi yang menjurus konflik. Padahal, semua pihak yang terlibat dalam Pemilu ini sudah bersepakat untuk berkampanye secara damai, seperti yang mereka tandatangani dalam acara deklarasi  Kampanye Damai di Monas, Jakarta, 23 September silam. Deklarasi itu akan menjadi penanda apakah semua peserta itu –calon presiden dan wakil presiden, serta partai-partai politik—berkomitmen atau tidak.

Komitmen inilah yang benar-benar perlu diuji. Komitmen itu sekaligus menghadapkan para kandidat di depan mahkamah rakyat yang sebenarnya. Rakyat akan menilai, apakah para pemimpin itu, atau para pemimpin partai politik yang berdiri di belakang mereka, benar-benar bisa memegang janji dengan menampilkan materi kampanye yang dewasa. Materi kampanye yang tidak memancing emosi kontestan lain. Materi kampanye yang mampu mendudukkan partai politik sebagai alat perjuangan kepentingan bangsa, dan bukan alat perjuangan kepentingan kelompok. Para pemimpin politik itu juga diuji kemampuan mereka untuk menumbuhkan iklim persaingan antarpartai yang kompetitif, dan bukannya permusuhan.

Dan semua itu, sejatinya, dimulai dari mulut pemimpin.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here