Muncul Retakan Baru, 269 Jiwa Warga Ponorogo Mengungsi

0
134
Seorang anak mengamati lantai rumahnya yang retak akibat pergeseran tanah di Desa Dayakan, Ponorogo, Jumat (7/4). ANTARA FOTO.

Nusantara.news, Surabaya – Tanah retak berpotensi longsor kembali terjadi di Ponorogo. Di saat proses evakuasi untuk mencari 25 orang korban longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung yang masih belum ditemukan, tanah retak tersebut terjadi di wilayah lain di Ponorogo, Jawa Timur.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menyebut tanah retak disertai bunyi gemuruh menyebabkan warga panik di Dusun Watu Agung Desa Dayakan, Kecamatan Badegan, Ponorogo itu terjadi pada Rabu (5/4/2017) pukul 16.00 WiN.

“Sebanyak 78 KK yang terdiri dari 269 jiwa diungsikan ke tempat yang lebih aman. Pengungsi menempati 4 lokasi. Dan, warga belum berani kembali kerumahnya. Mereka takut akan terjadi longsor seperti yang terjadi di Desa Banaran pada 1/4/2017 lalu,” tulis Sutopo kepada Nusantara.news.

Tanah retak di Dusun Watu Agung,  Desa Dayakan semula lebarnya hanya 30 centimeter, tepatnya di lingkungan Salam, dan terus melebar. Hingga saat ini keretakan tanah ada yang mencapai lebar 1 meter dengan kedalaman kurang lebih 3 meter, posisi ketinggian 300 meter. Makin melebarnya retakan tanah menyebabkan masyarakat takut terjadi longsor susulan sehingga masih mengungsi. Beberapa dinding rumah dilaporkan telah terjadi keretakan akibat tanah yang bergerak.

Terkait itu, BPBD Kabupaten Ponorogo mengeluarkan himbauan melalui Camat Badegan yang ditandatangi Kalaksa BPBD agar warga tetap waspada dan mengungsi ke tempat yang lebih aman dengan Koordinator Kepala Desa Dayakan. BPBD juga telah menyiapkan tenda pengungsi dan kebutuhan logistik yang diperlukan.

Bangunan rumah warga yang retak akibat pergeseran tanah di Desa Dayakan. ANTARA FOTO

Sementara itu, tim SAR hingga siang tadi masih melakukan pencarian korban yang tertimbun longsor di Desa Banaran. Sebanyak 25 orang korban masih dinyatakan hilang. Operasi SAR pada hari Jumat (7/4/2017) dimulai pukul 07.00 WIB. Tim SAR gabungan sebanyak 686 orang terbagi menjadi 4 sektor yaitu A, B, C, dan D. Penambahan sektor D bertugas mengurai material longsoran yang menutup aliran sungai dan mencari korban.

“Pencarian korban longsor akan terus dilakukan hingga tanggal 15 April 2017,” terang Sutopo.

Pihaknya menyebut, tidak mudah mencari korban karena tebalnya material longsor mencapai 30 meter di lereng bawah makota longsor. Volume material longsoran diperkiran mencapai 2-3 juta meter kubik dengan panjang dari bukit asal longsor hingga titik terakhir longsor mencapai 1,22 kilometer. Kendala lain adalah cuaca yang sering hujan pada siang hari.

“Hampir setiap hari hujan sehingga operasi SAR dihentikan pada pukul 14.30 WIB. Sebanyak 10 alat berat masih dikerahkan mencari korban. Dan, aksesibilitas lokasi longsor yang cukup sulit dijangkau. Selain itu juga petugas SAR sudah mengalami kelelahan setelah bekerja selama 6 hari sehingga perlu diganti dengan petugas yang baru,” katanya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui BPBD telah mendirikan tenda pengungsian di Desa Dayakkan, Kecamatan Badegan yang tanahnya retak. Selain itu, juga memberikan pendampingan kesehatan dari puskesmas terdekat serta ketersediaan makanan bagi masyarakat yang mengungsi di rumah penduduk sekitar.

“Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah mendirikan tenda di lokasi yang aman untuk para pengungsi,” ujar Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim, Benny Sampirwanto, saat ditemui di Kantor Gubernur Jawa Timur, Jumat (7/4/2017).

Langkah cepat tersebut, jelas Benny, dilakukan karena sebanyak 56 Kepala Keluarga atau 285 orang telah mengungsi akibat terjadinya retakan tanah didaerahnya. Pihaknya membenarkan telah terjadi retakan pada Rabu sore kemarin, tanggal 5 April 2017, selebar 30 centi meter di ketinggian bukit 300 meter. Dan, sore harinya keretakan tanah menjadi selebar 1 meter dengan kedalaman 3 meter. Lokasi itu berjarak 3 kilometer dari balai desa tempat pengungsian.

“Warga trauma terhadap kejadian longsor yang mengakibatkan korban jiwa. Selain itu, mereka juga takut terhadap retakan baru yang muncul,” ujar Benny mengutip pernyataan Kepala BPBD Jatim Sudarmawan.

Untuk mengantisipasi terjadinya korban jiwa, diperlukan kesigapan perangkat desa dan lainnya dengan cara menyiarkan melalui pengeras masjid di mushala.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here