Mungkinkah Ada Poros Tengah Baru di Detik Akhir Pencapresan?

0
161

Nusantara.news, Jakarta – Masa pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden di Komisi Pemilihan Umum (KPU) tinggal dua hari lagi. Batas akhir pendaftaran pada Jumat (10/8/2018) pukul 24.00. Meski begitu, hinga hari ini dipastikan belum ada satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang mendaftar ke KPU.

Kabarnya, dua kubu yang akan berkontestasi di Pilpres 2019 yaitu petahana Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, masih belum tuntas menentukan cawapres definitif yang disepakati koalisi. Bisa jadi, di detik-detik akhir ini akan ada kejutan.

Di kubu Prabowo, baru Partai Demokrat yang berkoalisi dengan Gerindra untuk mengusung Prabowo sebagai capres. Demokrat menyerahkan nama cawapres ke Prabowo meski dalam pembahasan bersama koalisi partai ini juga mengusulkan putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres. Tak beda dengan Demokrat, dua parpol yang merupakan kawan lama Gerindra, PAN dan PKS ingin nama usulan masing-masing mereka yang jadi cawapres.

PKS, misalnya, ingin kadernya, terutama Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Al-Jufri sebagai cawapres Prabowo sesuai rekomendasi ijtima’ Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama. Sementara PAN lebih condong ke Ustad Abdul Somad (satu nama lain dari dua cawapres usulan ijtima ulama), meski sebelumnya sempat menyorongkan ketua umumnya Zulkifli Hasan.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan sempat menyatakan jika tak juga mendapatkan titik temu dari PKS dan PAN soal cawapres, ia meyakini koalisi Demokrat-Gerindra sudah cukup. Dari sisi syarat, koalisi Gerindra dan Demokrat memang punya cukup suara untuk mengusung capres dan cawapres di Pilpres 2019. Suara mereka bila disatukan total 134 kursi (23,9 persen).

Pendiri lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saiful Mujani memprediksi jatah cawapres akan didapat Demokrat, meski partai besutan SBY itu datang di tikungan terakhir. “Menapa Demokrat? Mungkin Demokrat punya logistik untuk kerja. PKS dan PAN? mungkin kurang,” ujarnya.

Di kubu Jokowi yang sesumbar mengklaim mendapatkan dukungan dari sembilan partai, juga tampaknya belum yakin mendeklarasikan pasangan calon usungan. Meski selalu punya elektabilitas paling tinggi, pihak Presiden Jokowi belum bisa tidur dengan nyenyak. Hingga menit akhir, partai-partai pendukung Jokowi tampak belum mendapatkan kesepakatan nilai kontrak yang memuaskan. Sehingga, isu berbeloknya PKB dari koalisi petahana semakin berembus kencang.

Koalisi petahana ini juga sesungguhnya masih belum solid, sebab sejumlah partai koalisi saat ini sama-sama berambisi mengejar posisi cawapres. PPP dan PKB, misalnya, menginginkan kriteria cawapres Jokowi berasal dari golongan santri dan pemilih muda. Kriteria ini selaras dengan latar belakang Ketua Umum PPP Rommahurmuziy dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

Sementara itu, Nasdem dan Hanura menginginkan cawapres Jokowi adalah sosok dari etnis non-Jawa. Begitupun dengan Golkar, berharap ketua umumnya, Airlangga Hartarto, menjadi pendamping Jokowi. Kondisi seperti ini, bukan tak mungkin membuat koalisi Jokowi akan pecah kongsi di detik-detik akhir.

Dari kiri ke kanan: Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, dan Presiden PKS Sohibul Iman dalam suatu acara

Lalu ke mana pecahan koalisi dua kubu itu berlabuh? Bisa jadi mereka akan membentuk poros tengah baru. Kemunculan poros alternatif di detik-detik akhir ini memang nyaris mustahil karena harus membangun soliditas koalisi dan kesepakatan pasangan calon dalam waktu amat singkat. Meski begitu, kemungkinan masih tetap ada.

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno menilai, peta politik sampai akhir pendaftaran capres dan cawapres masih akan sangat dinamis. Ia menilai, tarik-menarik soal cawapres dapat menjadi pemicu pecahnya kongsi koalisi yang telah dibangun. “Baik kubu Jokowi maupun Prabowo masih galau menentukan posisi cawapres. Ini bisa memungkinkan terjadinya pecah kongsi,” kata Adi, Rabu (8/8/2018).

Di kubu Jokowi, Adi menilai PKB menjadi parpol yang paling mungkin untuk menarik dukungan. Sebab, PKB sejak awal ngotot meminta ketua umumnya Muhaimin Iskandar alias Cak Imin untuk menjadi cawapres Jokowi.

Sedangkan di kubu Prabowo, PKS dan PAN juga dinilai berpeluang hengkang dari koalisi. Kedua parpol yang sudah lama menjalin komunikasi dengan Gerindra, mulai merasa terganggu dengan kehadiran Demokrat. Apalagi, jika nantinya Prabowo lebih memilih cawapres dari Demokrat ketimbang PAN atau PKS.

PKB, PAN, dan PKS belum pasti akan menyeberang ke kubu sebelah apabila hengkang dari koalisinya saat ini. Sebab, apabila hengkang ke kubu sebelah, posisi calon wakil presiden yang diincar juga sulit untuk didapat. Sehingga, ketiga parpol berbasis massa Islam ini justru bisa saja membuat poros ketiga di luar koalisi Jokowi dan Prabowo. Bisa dibilang, ini koalisi parpol Islam. Tentu menarik menggabungkan  kekuatan NU, Muhammadiyah, dan massa “tarbiyah” PKS ke dalam satu wadah. Belum lagi jika PBB turut merapat ke koalisi ini.

Jika bergabung, ketiga parpol ini mengantongi 24,1 persen kursi DPR. Jumlah itu lebih dari ambang batas untuk mengusung pasangan capres dan cawapres, yakni sebesar 20 persen kursi DPR. Poros baru ini juga bisa membuat masyarakat semakin mempunyai banyak pilihan pada Pilpres 2019 sekaligus jadi “pemukul ombak” di tengah masyarakat yang terbelah ke dalam dua kubu akibat konflik Pilpres 2014 lalu.

Hanya saja, diprediksi poros ini juga akan deadlock di penentuan capres-cawapres. Di samping itu, poros ini tak cukup logistik yang bisa membantu ketiga partai untuk kampanye legislatif dan pilpres.

Namun lepas dari itu, jika poros tengah baru ini terbentuk, siapakah pasangan calon yang akan diusung poros baru ini? Kemungkinan, simulasi pasangan capres-cawapesnya bisa Gatot Nurmantyo-Ahmad Heryawan (Aher), Salim Segaf-Muhaimin Iskandar, Gatot Nurmantyo-Muhaimin Iskandar, Gatot Nurmantyo-Abdul Somad, atau sosok baru yang tak terduga. Mengapa ada nama Gatot? Sebab Gatot sejauh ini sosok yang selain punya popularitas dan elektabilitas, juga diyakini punya logistik yang kuat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here