Musisi Cantik ini Lantunkan Bahasa Ibu yang Hilang

0
443
Gwenno Meriad Saunders, penyanyi solo yang melantunkan tembang dengan bahasa ibu "Welsh" dan "Cornish" di negaranya/ Foto Welshnot

Nusantara.news, London – Sangat ironis. Tatkala bahasa Inggris digunakan secara internasional – dengan beragam dialek tentunya – di tanah United Kingdom sendiri banyak bahasa minoritas yang nyaris hilang. Banyak di antaranya karena sikap represif “pemerintahan Inggris” di masa lalu. Satu di antara bahasa yang nyaris punah itu adalah “bahasa Cornish” yang kini hanya dipercakapkan oleh sekitar 1000 pengguna.

Menjadi sangat luar biasa tatkala musisi yang biasa merilis lagu-lagu “berbahasa daerah” Welsh – Gwenno Saunders – melantunkan kembali bahasa ibu “Cornish” yang biasa diucapkan ayahnya dalam album barunya. Cornish yang oleh UNESCO nyaris punah itu seolah terlahir kembali lewat lantunan merdu Gwenno Saunders.

Karunia Keberagaman

Maka Holly Williams kolumnis budaya Inggris menuliskan judul “The Rebrith of Britain ‘Lost’ Languages” – atau kelahiran kembali bahasa Inggris yang nyaris punah”. Berikut ini cuplikan artikel Holly Williams yang nusantara.news terjemahkan dengan adabtasi penulisan yang semoga mudah dimengerti oleh khalayak berbahasa Indonesia.

Gwenno Saunders Photograph © Rob Watkins 2003

“A eus le rag hwedhlow dyffrans”. Demikian judul lagu pertama pada album “Le Kov” – atau album kedua dari penyanyi Welsh – Gwenno Mererid Saunders yang kelahiran 23 Mei 1981. Tapi itu bukan lagu berbahasa “Welsh” melainkan lagu berbahasa Cornish – dan judul lagu itu apabila diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti “apakah ada ruang untuk cerita yang berbeda?” Kalimat itu tercatat dari relung hatinya untuk merayakan perbedaan dalam bahasa, budaya, dan identitas.

Lagu ini melantunkan tentang pentingnya mendengar dari “orang-orang yang tidak menang”. Dan di atas permukaan terlihat, bahasa Cornish jelas kalah dalam “pertempuran budaya” – pembicara monoglot terakhir meninggal pada tahun 1777. Album Saunders adalah satu di antara tanda-tanda kebangkitan baru itu.

Sebenarnya Inggris kaya dengan bahasa minoritas – dan ada kesadaran yang tumbuh dari mereka – yang mungkin mencerminkan keinginan orang-orang Inggris pada umumnya – sebagai budaya yang tumbuh semakin global – untuk terhubung kembali dengan apa yang lokal – atau hanya untuk memperluas identitas multi-kultural Inggris.

Welsh adalah bahasa minoritas yang paling dikenal dan paling banyak diucapkan, tetapi ada juga tiga versi Gaelic yang berbeda – acap kali digunakan di Skotlandia, Irlandia dan Isle of Man. Semua telah melihat jumlah penutur yang menurun dalam jangka panjang – tetapi semua juga menikmati kebangkitan rohani dalam beberapa dekade terakhir di tengah lambannya minat (pemerintah Inggris) dalam melestarikan dan mempromosikan bahasa pribumi.

Cornish masih satu rumpun Brythonic dengan bahasa Celtic lainnya – seperti Welsh dan Breton – pernah menjadi bahasa Brittany. Wilayah Cornwall – lokasinya di paling barat daya Inggris – menolak anglisisasi hingga masa reformasi.

Monumen buku Doa Pemberontak yang dihancurkan penguasa Inggris/BBC

Pemaksaan bahasa Inggris sebagai bahasa gereja ditentang keras oleh Cornish – sehingga “Buku Doa Pemberontakan” mereka dihancurkan oleh penguasa dengan kejam. Tercatat setidaknya 4000 warga Cornish terbunuh. Itulah perlakuan represif penguasa Anglo Saxon terhadap bahasa. Jumlah penuturnya terus menurun hingga tersisa sekitar 1000 pengguna di ujung barat daya Inggris.

Musik Bahasa Universal

Perjuangan memuliakan kembali bahasa lokal sudah dirintis sejak awal Abad ke-20 – meskipun gaungnya masih rendah. Namun dalam dua dekade terakhir perjuangan itu mendapatkan dukungan yang luar biasa di Uni Eropa. Tahun 2002, Cornish diakui oleh pemerintah Inggris di bawah Piagam Eropa untuk Bahasa Regional atau Minoritas – dan Dewan mulai menganggarkan program dwi bahasa. Terlebih setelah UNESCO tahun 2010 menyebut bahasa Cornish nyaris punah, sejak itu Cornish diajarkan di taman kanak-kanak dan sekolah dasar.

Gerbang masuk wilayah Cornwall yang memiliki bahasa asli Cornish/ BBC

“Saya merasa sudah ada perubahan sikap,” ulas Saunders – menunjukkan sejumlah kegiatan lokal yang menggunakan bahasa Cornish dan papan pelayanan umum dengan dua bahasa yang membuat perbedaan besar. “Orang dapat melihatnya, itu visual,” tandasnya. Dan ada komunitas yang lebih luas menggunakan Cornish sebagai bahasa sehari-hari dalam hal-hal kecil seperti salam. “Saya merasa itu benar-benar mendorong, dan itu terkait dengan mengapa saya memiliki keberanian melantunkan lagu dengan bahasa Cornish.”

Padahal Gwenno Saunders bukan dilahirkan atau dibesarkan di Cornwall – dia berasal dari Cardiff. Namun Gwenno dibesarkan dalam bahasa ibu “Welsh” dan “Cornish” dengan sama baiknya. Karena ternyata – ayahnya – Tim Saunders adalah seorang penyair Cornish.

Ketertarikan Gwenno dalam merekam album dengan bahasa yang memiliki jumlah pengguna kecil itu pernah disampaikan ke ayahnya. “Jika kamu nyaman menggunakan bahasa Cornish dan bisa mengekspresikan dengan baik, kamu bisa berbagi dengan yang lain.” Anda yang pernah mengalami masa kanak-kanak pasti membawa Anda ke masa kecil. Saunders menemukan dirinya terhubung kembali dengan lagu-lagu dan cerita-cerita Cornish. Cukup alami, itu dimasukkan ke dalam musiknya.

Namun ada tujuan yang lebih politis di sini – Saunders ingin meningkatkan kesadaran terhadap semua bahasa yang digunakan di sini, dan untuk mengeksplorasi keragaman budaya yang membentuk Inggris.

Dan ini ada dalam nuraninya secara turun temurun. Ibunya adalah seorang penggiat bahasa Welsh – anggota dari kelompok penekan “Cymdeithas yr laith – yang pernah masuk penjara pada dekade 1990-an karena merusak kantor pemerintahan di Welsh. Perjuangan penggunaan bahasa Welsh sebagai bahasa resmi meningkat sejak itu – dan ketika sejumlah penutur bahasa Welsh menurun di bona pasogit – atau kampung halaman – tapi perlahan dan pasti jumlah penuturnya meningkat di daerah perkotaan.

Tentu saja Saunders melihat perbedaan di Cardiff sekarang. Dia bisa berbelanja dengan menggunakan bahasa lokal di Gymraeg. Bahasa Welsh juga diwajibkan di sekolah dan semua pelayanan umum diwajibkan menggunakan bahasa Inggris dan Welsh.

Budaya Mono-Lingual

Seperti halnya di beberapa kota besar Indonesia sekarang ini, dengan alsan praktis agar anaknya dapat mengikuti pelajaran di sekolah, banyak keluarga yang menggunakan bahasa Indonesia – bahkan yang tinggal di Surabaya – sehingga tidak sedikit anak-anak yang sulit berekspresi dengan bahasa ibunya. Hal itu juga terjadi di Inggris.

Untuk itu Saunders berusaha melawan dengan kekuatan musik dan cara-cara yang lebih lunak lainnya – dan itu sama efektifnya dengan kampanye politik. “Itu keindahan music, bukan? Ini adalah bahasa yang semua kita mengerti. Jika saya memakai kotak sabun dan mencoba memberi tahu anda betapa pentingnya Cornish bagi saya, mungkin akan lebih sulit untuk mengkomunikasikan hal itu. Musik pop hanyalah cara yang lebih cocok bagi saya untuk menyampaikan kedalaman emosi itu.”

Album yang dirilis Saunders memang hanya dapat dimengerti oleh para pendengar di beberapa kota – meskipun perlu dicatat pengguna bahasa Cornish terbesar sesungguhnya ada di London – namun Saunders telah menemukan ekspresinya. Bagi pendengar yang tidak asing dengan bahasa Cornish, melukiskan Saunders mampu menampilkan permainan kata-kata menarik yang menjadi bagian menarik dari albumnya. “Itu novel, bukan kuno.”

Dan untuk mengembangkan bahasa minoritas, perlu upaya yang lebih dari sekedar perhatian akademis, atau dilihat secara murni sebagai sejarah. Hal-hal yang bersifat nostalgia untuk budaya tertentu justru bisa mematikan. “Orang-orang dapat mengabaikan tempat di dalam identitas budaya karena mereka berpikir itu sentimental,” papar Saunders. “Saya sema sekali tidak tertarik dengan sentimentalitas – saya tertarik dengan eksplorasi warisan budaya yang benar-benar berpikir ke depan.”

Ada banyak perkembangan budaya di Cornwall saat ini yang menyalurkan tempat dan sejarah tetapi dalam “semangat yang benar-benar pelopor dan berpikir ke depan,” tandasnya.

Boneka Raksasa “the Man of Engine” / BBC

Dan sekarang banyak event yang memuliakan bahasa Cornish, sebut saja pembuatan video YouTube oleh remaja Cornish atau festival musik Boardmasters mendapatkan judul seperti Frank Turner bernyanyi dalam bahasa Cornish atau pertunjukan boneka raksasa “The Man Engine” yang mengintegrasikan lagu Cornish.

Memang Le Kov adalah album rekaman musik pop pertama berbahasa Cornish. Setidaknya di Wales yang masih masuk dalam Kerajaan Inggris, Le Kov diterima sebagai bagian dari album berbahasa lokal Welsh yang kini berkembang pesat. Sekarang ini banyak band atau musisi yang melantunkan bahasa Walsh seperti Bendith, 9Bach, Swnami, The Gentle Good dan Gwenno yang sukses dengan debut album berbahasa Welsh “Y Dydd Olaf”.

Welsh TV juga membangkitkan penggunaan bahasa Welsh dalam tayangannya, seperti mode untuk drama boxsets asing yang membuat kita semua nyaman dengan teks, pertunjukan dwi bahasa seperti drama kriminal “Hinterland” – menampilkan bahasa Welsh dan Inggris – yang bukan hanya menghibur pengguna bahasa Welsh, melainkan juga menghibur penggemar yang ingin mengetahui seluk beluk tentang Welsh.

Kelompok teater berbahasa Welsh “Theatr Genedlaethol Cymru” juga melihat karya-karyanya menjangkau khalayak yang lebih luas dengan penggunaan aplikasi terjemahan langsung “Sibrwd”.

Hentikan Superioritas

Sejatinya cita-cita Saunders bukan hanya untuk bahasa Cornish, melainkan juga bahasa minoritas lainnya – bahkan bahasa imigran. “Ini sangat sulit karena kita hidup dalam budaya mono-lingual,” ucapnya.

“Ada ratusan bahasa komunitas di London, misalnya, tetapi Anda tidak akan mendapatkan akses ke media mainstream. Ini menciptakan isolasi ketika Anda tidak berinteraksi dengan budaya lain. Saya tertarik dengan refleksi yang lebih benar dari kehidupan budaya dan bahasa Inggris, karena itu sangat bervariasi dan sangat menarik.”

“Ada komunitas besar Polandia yang tinggal di Cardiff misalnya, mengapa kita tidak bisa melihat kisah mereka, mendengar bahasa dan mudik mereka, di TV atau radio?” gugat Saunders.

Ketika Inggris di ambang krisis identitas eksistensial – Cornish akan menjadi pengingat betapa gagasan ‘Inggris’ yang kurang stabil ketimbang yang mungkin kita pikirkan: kemiripannya dengan Breton – itu adalah mata rantai yang hilang antara “Inggris” dan “Inggris Brittany” – sarannya sebagai pengingat bahwa Inggris tidak akan terlepas dari migrasi dan pergerakan orang.

Paska Brexit – orang-orang di Inggris harus “mendefinisikan kembali apa artinya hidup di pulau ini” – dan Saunders berharap masa depan Inggris yang beragam akan menumbuhkan sikap yang lebih terbuka dan positif terhadap karunia keberagaman negaranya.

Saunders menandaskan dengan identitas Inggris yang lebih cair dan lentur akan menghentikan perasaan terasing atau sebaliknya superioritas atau kemurnian. “Karena itu tak pernah benar-benar ada.”

Ada kemiripan kan dengan persoalan yang kita hadapi di tanah air? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here