Nah Lho, Ketua KPU DKI Hadir di Rapat Timses Ahok, Ada Hubungan Gelap?

0
203

Nusantara.news, Jakarta – Ketua KPUD DKI Jakarta Sumarno, komisioner bidang Pencalonan dan Kampanye Dahlia Umar, serta Ketua Bawaslu DKI Mimah Susanti terlihat hadir di rapat internal partai pengusung pasangan calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat di Novotel Jakarta Barat, Kamis, 9 Maret.

Ketiganya terlihat tiba sekitar pukul 15.30 WIB. Dia tampak kaget saat mengetahui banyak wartawan yang menunggu jalannya rapat internal tim sukses (timses)pasangan nomor urut dua ini. Tentu saja Sumarno diburu wartawan. Namun dia tidak memberikan penjelasan mengenai kehadirannya dalam rapat tersebut.

Dia menampik kedatangannya sebagai penyelenggara pemilu dapat menimbulkan persepsi keberpihakan pada pasangan calon nomor urut dua. Dia berdalih, kedatangannya tersebut sekadar untuk diskusi. “Diskusi saja. Persiapan putaran kedua,” katanya.

Setelah tiba di lobby hotel, Sumarno naik ke lantai 3 menggunakan elevator. Ia disambut oleh tim sukses Ahok-Djarot bagian kampanye, Merry Hotma. Namun kurang dari 5 menit berada di lantai 3, Merry meminta mereka bertiga beralih menuju lantai 6.

Menurut jubir timses Ahok-Djarot, Raja Juli Antoni, pertemuan tertutup tersebut merupakan rapat internal. Tokoh yang dikabarkan hadir antara lain Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, politisi Golkar Yorrys Raweyai, Nusron Wahid, Sekretaris timses Ahok-Djarot Ace Hasan Syadzily, dan Bendahara timses Ahok-Djarot Charles Honoris.

Menanggapi kehadiran Ketua KPUD dan Bawaslu, Komisioner Bawaslu DKI lainya, Muhammad Jufri mengaku tanpa sepengetahuan dirinya. “Setahu saya tidak ada agenda ke situ deh,” tutur Jufri.  Jufri menuturkan, sejak pagi hingga sore hari, dirinya beserta anggota Panwaslu dan komisioner lain sibuk melakukan rapat. “Kita mah rapat Mas. Tanyakan saja mereka berdua ngapain ke situ,” tuturnya.

Pakar hukum asal Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar mengkritik langkah Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno yang menghadiri pertemuan tertutup tim pemenangan pasangan calon gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

“Ketua KPU DKI seharusnya menyatakan keberatan dan wajib meninggalkan pertemuan. Jika itu tidak dilakukan maka pejabat tersebut telah melanggar etika,” kata Fickar.

Menurut Fickar, pertemuan tertutup yang digagas tim Ahok-Djarot dan dihadiri Ketua KPU DKI serta Ketua Bawaslu DKI bisa mempersepsikan hal negatif di masyarakat. Jangan heran, lanjutnya, ada ungkapan ‘hubungan gelap’ antara KPU DKI dengan salah satu pasangan calon.

Tanggapan lebih keras juga datang dari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono. Ia menyayangkan kehadiran Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno dalam pertemuan tertutup yang dilakukan timses Ahok-Djarot.

“Ini bentuk kecurangan awal untuk mengatur perolehan suara Ahok-Djarot yang dilakukan oleh KPU sebagai penyelenggara dan Bawaslu sebagai pengawas serta timses Ahok-Djarot,” ujar Arief.

Memang, pertemuan antara penyelenggara pemilu dengan tim kandidat yang diadakan secara tertetup, selain tidak patut juga memunculkan kecurigaan. Rakyat akan mempertanyakan integritas dan independensi KPUD dan Bawaslu. Mungkin, publik tak mempersoalkan Ketua KPU DKI memenuhi undangan pihak mana pun bila pertemuan tersebut berlangsung terbuka.

Kini mereka harus menjawab tudingan apakah KPUD dan Bawaslu ada “main mata”’ untuk memenangkan pasangan Ahok-Djarot? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here