Naiknya Harga Beras di Kota Malang, Murni atau Permainan?

0
210
Ilustrasi Beras (Foto: Channel Indonesia)

Nusantara.news, Kota Malang – Memasuki awal tahun baru, beberapa bahan pokok di Malang Raya ulai merangkak naik. Pekan lalu harga cabai dan kacang-kacangan merangkak naik, kini Beras mulai merangkak naik. Berbagai hal dan alasan yang memicu kenaikan beberapa harga bahan dasar pokok tersebut.

Di Kabupaten Malang, harga beras tradisional merangkak naik sejak dua bulan terkahir. Terdata harga beras IR 64 pada bulan lalu sekitar Rp 10.000 per kilogram (Kg) kini pantauan terakhir harganya mencapai Rp 11.000 – Rp 12.000 per Kg.

Sulastri, Pedagang beras di Pasar Baru Kepanjen mengatakan kenaikan harga beras dipicu kenaikan harga dari penggilingan dan petani yang memakan waktu karena faktor cuaca ekstrim dan kurang bersahabat dalam pengolahan padi menjadi beras.

Hujan dengan intensitas tinggi menjadi penyebab kenaikan harga beras di pasar. “Iya memang dari  proses petaninya sendiri yang memberikan harga tinggi, jika harga terus naik, maka pembeli pasti keberatan membeli beras kualitas baik,” katanya kepada awak media, Senin (22/1/2018).

Sementara itu pedagang lain Suprapto berharap harga bisa kembali normal,  “Iya semoga bisa turun seperti harga awal Rp 10.000 per Kg, jika tidak kami khawatir penjualan beras menurun jika harga terus naik,” jelasnya.

Salah satu konsumen beras Pasar Besar Kepanjen, Aminah mengaku resah akan kenaikan bahan pokok dasar, salah satunya yakni beras. “Beras menjadi bahan dasar pokok pangan orang indonesia, jika terus melambung ini kan juga jadi masalah bagi masyarakat, jika tak mampu membelinya,” jelasnya.

Ia pun menjelaskan jika yang kualitas lumayan dan bagus terus naik dan tidak terjangkau masyarakat ini yang menjadi problem. “Lalu masyarakat kecil makan apa, degan kualitas rendah juga akan mengancam kesehatan gizi masyarakat,” tegasnya.

Aminah berharap jika fenomena ini bisa turun dan normal kembali agar setiap masyarakat dari berbagai kalangan dapat memenuhi kebutuhan pokok dasar guna keberlangsunag pangan dan hidup mereka.

“Semoga harga bisa kembali normal dan dapat terjangkauoleh masyarakt kelas menengah kebawah, hak masyarakat untuk memperoleh makanan, hak untuk hidup dan jangan sampai ada yang kelaparan di negeri kaya ini,” jelas mantan pengiat sosial di masa mudanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang, Nurcahyo memperkirakan gejolak harga beras akan sampai awal Maret 2018.

Untuk mengontrol agar tetap pada harga yang rasional, Disperindag akan melakukan operasi pasar beras di lima pasar besar di Kabupaten Malang dengan menggandeng Bulog Subdrive Malang selama tiga bulan ke depan.

“Untuk langkah itu pasti kami lakukan, dan sejauh ini kami masih koordinasi dengan Bulog terkait jadwal operasi pasar,” tutur Nurcahyo.

Sementara itu, di Kota Malang harga beras juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan, meskipun informasi yang diketahu bahwa stok beras di Buloh dinilai aman-aman saja dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Malang.

Dikonfirmasi oleh Kepala Bulog Sub Divre Malang, Dian Paramitha mengatakan, saat ini stok yang dimiliki Bulog sebesar 3.950 ton. Namun bulan ini memang ada penyaluran untuk beras sejahtera (rastra) di Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan sebesar 2.700 ton.

“Masih ada selisih sekitar 2.500 ton yang dapat digunakan sampai dengan akhir bulan ini,” ujarnya kepada wartawan.

Ia menampik, jika stok beras menipis yang kemudian mengakibatkan harga beras di pasar tidak stabil. Pihaknya bahkan akan menyalurkan bantuan rastra yang rencanannya akan diserahkan di bulan Februari, dengan kebutuhan kurang lebih seribu ton.

Dian menjelaskan jika stok beras di Bulog menipis, maka Bulog akan meminta stok dari kantor lain yang tidak kekurangan beras. Jadi saling isi, sehingga harga beras dipastikan dapat stabil melalui stok yang dimiliki.

“Bulog itu tidak berwenang menentukan harga, tapi dengan stok yang ada kami bisa menjamin kestabilan harga di pasar,” jelas Dian.

Sedangkan di Kota Batu, selama tiga pekan terakhir kenaikan harga komoditas pokok beras juga terjadi. Harga beras premium yang sebelumnya seharga Rp 11.500, kini naik menjadi Rp 12.500. Sementara, untuk beras standart yang sebelumnya seharga Rp 10.500, sekarang naik jadi Rp 11.500.

Berdasarkan beberapa informasi dan keterangan diatas memang fenomrna kenaikan harga beras hampir merata di Malang Raya, bahkan sebagian besar juga merata terjadi di Indonesia. Belum stabilnya harga beras tersebut membuat adanya wacana dari Pemerintah Pusat untuk melakukan impor beras. Namun, hal itu ditolak mentah-mentah oleh banyak pihak.

Beras Indonesia di Mata Asia Tenggara

Beras yang menjadi salah satu komoditas dasar pokok masyarakat di Indonesia mengalami kenaikan dan penurunan. Hal tersebut menjadi sorotan berbagai kalangan masyarakat. Akhir ini, harga beras tertinggi di Indonesia telah mencapai sekitar angka Rp. 13 ribu sampai Rp. 15 ribu per kilogram. Patokan harga yang cukup tinggi di negara agraris, oleh karenanya ada celotehan‘Miris di Negri Agraris’.

Dilansir dari Liputan 6, tercatat indeks harga beras premium di Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta terus meroket hingga Rp. 13 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut menimbulkan pertanyaan, sebagai wilayah agraris terbesar di Asia Tenggara, berada di peringkat berapakah Indonesia jika disejajarkan dengan wilayah lain di Asia Tenggara?

Berdasrkan Numbeo, Situs Data Global melaporkan rata-rata harga beras di Indonesia dipatok di angka US$ 0,89 atau Rp 12.700 per kg. Namun ternyata masih ada beberapa negara lain yang mematok harga lebih mahal dibandingkan di Indonesia.

Negara tetangga Malaysia, beras di Indonesia masih lebih murah. Harga di Malaysia dipatok di kisaran angka US$ 1 atau Rp 13.300 per kg. Harga beras di Thailand juga lebih mahal, dipatok di angka US$ 1,15 atau Rp 16.428 per kg. Patokan harga tertinggi di Asia Tenggara ditempati oleh Singapura di angka US$ 2,06 atau Rp 29.428 per kg. Termurah, ada di Vietnam dengan harga US$ 0,74 atau Rp 10.571 per kg.

Harga beras di Asia Tenggara tentu masih jauh lebih terjangkau daripada di Asia dimana Jepang dengan harga beras paling tinggi yang mencapai angka US$ 3,83 atau Rp 54.714 per kg. Selnjutnya ditempati Korea Selatan dengan harga US$ 3,79 atau Rp 54.412 per kg. Selanjutnya ditempati Taiwan dengan harga mencapai US$ 3,29 atau Rp 47.000 per kg. Berikut daftar harga beras di Asia Tenggara:

Potensi Permainan Harga Beras

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyebut ada yang tak beres dalam tata niaga beras. Hal ini menciptakan disparitas harga yang tinggi antara harga gabah di petani dan beras yang sampai ke konsumen

Ketua KPPU, Syarkawi Rauf, mengatakan ada kecenderungan pola harga beras yang dikendalikan segelintir distributor beras besar sehingga margin beras di tingkat middle man (perantara) tetap tinggi.

Ia mencontohkan, model permainan seperti yang ada di Cipinan, dimnan ada pasokan yang melimpah namun hara tetap tak kunjung turun, hal tersebut merupakan kesepakatan dari para pemain besar di Cipinang

Ia menjelaskan tern seperti itu juga sama akan bisa terjadi di setiap daerah sentra beras, di mana ada segelintir distributor menguasai suplai beras dari petani sampai ke pasar.

Syarkawi menjelaskan, pemain besar tersebut tak bekerja sendiri, melainkan juga menggandeng tengkulak sebagai pengumpul gabah di tingkat petani.

“Jadi selain mereka memiliki penggilingan besar dan menyerap langsung, para pemain besar ini kan juga memanfaatkan penyerapan gabah lewat tengkulak-tengkulak yang jadi pengumpul. Jadi meski ada banyak pedagang tengkulak, pemain besarnya ya itu-itu saja,” tutur Syarkawi.

Selain ada pola kecenderungan yang mengarah ke kartel harga oleh pemain besar, yakni praktik curang seperti yang dilakukan distributor beras yang digerebek Satgas Pangan di Bekasi.

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here