Nama Badai Tak Boleh Asal-Asalan, ini Sejarah dan Aturannya

0
275
Petugas BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) menunjuk area sebaran gelombang tinggi akibat pergerakan badai Siklon Tropis Dahlia di Laboratorium BMKG Banten, di Serang, Sabtu (2/12). ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/pras/17

Nusantara.news, Jakarta – Selama pertengahan November hingga awal Desember 2017, Indonesia dua kali diterjang siklon tropis Cempaka dan Dahlia. Siklon tropis yang terdeteksi tumbuh di wilayah perairan selatan Pulau Jawa disebut siklon tropis Cempaka. Terakhir kali, siklon tropis juga terdeteksi tumbuh di perairan Bengkulu yang disebut Dahlia.

Sebelumnya tahun 2010 muncul siklon tropis Anggrek dan berlanjut siklon tropis Bakung pada tahun 2014. Badai yang muncul di Indonesia memang tidak sedahsyat angin tornado yang biasa mengintai negeri sub-tropis seperti Jepang, China, Filipina dan Amerika Serikat. Kecepatan angin akibat siklon tropis hanya sekitar 5 – 65 knot (10 Km per jam hingga 130 Km per jam). Dampaknya baru sebatas merobohkan rumah dan pohon.

Kalau dicermati huruf awal dari nama siklon tropis di Indonesia berurutan dari A, B, C dan D. Mestinya badai ke-5 berawalan huruf E. Namun karena sulit mencari nama bunga berawalan huruf E, maka badai ke-5 yang belum muncul langsung berawalan F atau Flamboyan. Begitu juga nama kembang huruf G, H, I, J sulit dicari, maka penamaan langsung loncat ke huruf K atau Kenanga.

Berikut ini 10 nama bunga yang sudah disiapkan untuk memudahkan komunikasi dan proses mitigasi bencana : Anggrek, Bakung, Cempaka, Dahlia, Flamboyan, Kenanga, Lily, Melati, Seroja dan Teratai. Sejauh ini siklon tropis yang menyebabkan gelombang tinggi lautan, angin kencang dan hujan lebat tiada henti sejak 2010 baru empat kali terjadi.

Setelah nama siklon tropis yang disiapkan itu habis digunakan, maka giliran berikutnya menggunakan nama buah-buahan, meliputi :  Anggur, Belimbing, Duku, Jambu, Lengkeng, Mangga, Nangka, Pisang, Rambutan dan Sawo. Nama siklon tropis itu bisa diulang lagi dengan nama bunga. Atau dengan lain misal kayu-kayuan atau lainnya. Tergantung kesepakatan.

Siklon tropis terbentuk akibat perbedaan suhu atau tekanan udara antara perairan dan daratan. Air laut menguap akibat suhu yang panas membentuk gumpalan awan. Perbedaan suhu akan meniupkan angin dari kawasan bertekanan udara tinggi (lautan) ke kawasan bertekanan udara rendah (pantai atau daratan) yang memicu hujan lebat, angin kencang dan tinggi gelombang.

Meskipun tidak sedahsyat badai di negeri-negeri sub-tropis, namun siklon tropis Cempaka membuat lumpuh total Kabupaten Pacitan, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Gunungkidul, Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulonprogo. Itu karena di wilayah itu berdekatan letaknya dengan kawasan perairan tempat terbentuknya siklon tropis Cempaka.

Otoritas Penamaan Badai

Sebelumnya penamaan badai memang asal-asalan. Karena wujudnya menyerupai puting maka disebut puting beliung. Namun kini tidak bisa asal-asalan. Sebab sudah ada peraturan standar yang ditetapkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO/World Meteorilogical Organization) menyangkut kesepakatan nama yang dibolehkan dan kode etik yang harus dipatuhi.

Setiap nama badai memang diwajibkan dengan alfabet secara berurutan dan tidak asing di telinga masyarakat. Tujuannya memang agar mudah diingat. Di Indonesia otoritas penamaan badai diserahkan kepada Jakarta Tropical Cycole Warning Center (JTCWC) yang dibentuk pada 2008 dan WMO yang diakui secara formal pada 1979. Penamaan badai dengan menggunakan nama bunga juga atas persetujuan JTCWC dan WMO.

Lain dengan Indonesia yang penamaan badai secara lebih teratur baru dimulai 2008 dan dipraktekan pertama kalinya pada 2010 setelah terdeteksinya siklon tropis Anggrek di Kepulauan Mentawai, di sejumlah negeri sub-tropis penamaan badai secara lebih teratur sudah dimulai sejak akhir Abad ke-19. Orang pertama yang menamai badai dengan nama-nama perempuan adalah Clement Wragge, seorang ahli meteorologi asal Australia.

Sebelumnya penamaan badai dilakukan berdasarkan titik koordinat asal muasal badai terbentuk. Setelah Wragge memulai dengan nama-nama perempuan, dengan alasan mudah diingat dan lebih memudahkan komunikasi dalam menggerakan sumber daya, sejak itu penamaan nama-nama perempuan itu diadopsi oleh Pusat Badai Nasional Amerika Serikat (NHC/National Hurricane Center). Karena nama lebih mudah diingat ketimbang angka atau istilah teknis meteorologi.

Namun penamaan dengan nama-nama perempuan itu diprotes sejumlah kalangan karena dinilai bias gender. Maka saat WMO diberikan otoritas penamaan badai di seluruh dunia pada 1979, sejak itu pula nama badai bergantian antara nama perempuan dan nama laki-laki. Misalnya badai yang muncul belakangan ini dinamakan Harvey (laki-laki), Irma (Perempuan), Jose (Laki-laki), Katherina (Perempuan), Luis (Laki-Laki) dan Maria (Perempuan).

Peraturan lainnya yang harus ditaati, penamaan badai tidak boleh berkonotasi nama pembunuh atau mengesankan jahat. Nama badai Isis, padahal diambil dari nama dewi kesuburan Mesir kuno, dicabut dari daftar badai yang diperkirakan muncul 2016 oleh WMO pada April 2015 dengan asalan Isis berkonotasi dengan kegiatan terorisme.

Nama badai yang pernah digunakan namun memunculkan luka mendalam karena banyaknya korban jiwa, seperti Katherina tidak boleh lagi digunakan. Maka nama badai Katherina diganti Katia untuk nama badai yang akan datang.

Kini WMO mewajibkan setiap negara mengirimkan 10 calon nama, boleh dari nama-nama bunga seperti sekarang berlaku di Indonesia, boleh pula nama buah-buahan, dan lainnya. Sehingga begitu siklon tropis itu terbentuk nama-nama yang disetujui WMO bisa langsung digunakan untuk publikasi, peringatan dini, evakuasi atau penanganan bencana lainnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here