Namanya Dicapreskan, Ini Tanggapan Cak Imin

0
39
“Iya, saya tahu, itu usulan dari teman-teman wilayah bukan hanya di Jawa" (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Di sejumlah lokasi termasuk di Sidoarjo terpasang baliho yang menyebut nama Muhaimin Iskandar atau Cak Imin digadang maju sebagai bakal calon Wakil Presiden (Wapres) RI, 2019, oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ditanya soal munculnya usulan itu Cak Imin mengaku telah mendengar, dan menyebut itu datang dari pengurus wilayah se-Indonesia juga sebagian ulama.

“Iya, saya tahu, itu usulan dari teman-teman wilayah bukan hanya di Jawa,” kata Cak Imin di sela acara ‘Konsolidasi Bersama Ketua DPP PKB dukung Pasangan Gus Ipul-Puti Guntur untuk Pilgub Jatim 2018’ di Hotel Wyndham Surabaya, Jumat (16/2/2018).

Untuk kelanjutannya, sesuai ketentuan partai pihaknya akan menindaklanjuti dengan menyampaikan itu ke DPP PKB, sebagai pertimbangan. Dan, kewenangan melakukan desakan itu adalah mutlak di DPP. Soal itu, dirinya juga mengaku terharu dan menghargai semangat rekan-rekannya di partai.

“Saya sangat terharu. Itu dari teman-teman di seluruh Indonesia, bukan hanya di Jawa, mereka bersemangat sekali,” terangnya.

Dijelaskan, gambar yang terpasang diakui sebagai bentuk semangat dan bagian dari sosialisasi yang dilakukan. Dan, itu menjadikan dirinya menjadi termotivasi, namun semua ketentuan yang harus dijalankan adalah ketentuan partai.

“Saya sangat berterima kasih, itu sekaligus menjadi motivasi bagi saya. Namun, ketentuan yang harus dijalankan adalah ketentuan partai,” lanjut dia.

“Kelanjutannya, sesuai ketentuan partai akan ditindaklanjuti disampaikan ke DPP PKB, sebagai pertimbangan” (Foto: Tudji)

Seperti halnya sebuah partai politik, terkait aspirasi tersebut pihaknya mengaku akan membawa dan membahasnya dengan para kiai melalui rapat Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) di PKB.

Soal pembahasannya, lanjut Cak Imin, akan dilakukan sekitar awal Juni 2018. Agenda itu bersamaan dengan pembahasan serta mencari kandidat capres dan cawapres yang akan diusulkan oleh DPP PKB.

Dan, soal dorongan dia yang akan dicalonkan untuk maju di posisi cawapres, kembali itu menjadi kewenangan partai. “Itu akan kita bawa untuk dilakukan pembahasan, Juni mendatang, masih jauh,” katanya.

Menanggapi kemunculan namanya, dia juga akan melakukan silaturahim dengan para kiai, itu untuk mendapatkan masukan dan saran-saran dari mereka.

Mekanisme di internal PKB, lanjut dia masih harus dilakukan pembahasan panjang yakni melalui Musyawarah Pimpinan Nasional, dan itu masih belum dilakukan sebagai proses awalnya.

Cak Imin menyebut, selain namanya yang masuk dalam bursa pencalonan wakil presiden, ada beberapa nama lain yang juga diusulkan untuk pencapresan melalui PKB, di antaranya nama Joko Widodo.

“Itu aspirasi dari bawah, ingin menduetkan saya dengan Pak Jokowi. Tapi, saya belum tahu soal itu. Termasuk sejumlah kiai yang menginginkan munculnya figur alternatif,” ucapnya.

Dia kemudian menceritakan pengalaman lainnya, yakni di Jawa Tengah ada hal yang dianggap lucu karena memunculkan perdebatan, padahal itu belum apa-apa. “Itu lucu, sama-sama ngotot, saya bisa jadi cawapres jomblo,” ujarnya berseloroh.

Cak Imin mengaku heran, kenapa nama muncul untuk dicapreskan. Kenapa juga partai sebesar PKB hanya nyapres, kenapa tidak sekalian capres?

Intinya, nama siapa pun yang muncul itu semua akan dibahas lewat Muspimnas. Tentu, sebagai tradisi partai yang tidak pernah ditinggalkan adalah lebih dulu juga mempertimbangkan yang disampaikan oleh para kiai, sebagai panutan.

“Kiai bagi PKB merupakan konsultatif dan integratif. Kalau mau menang, harus zumhur ulama, artinya keputusan ulama yang terbanyak,” katanya.

Sejauh ini, pihaknya juga telah bertemu dengan banyak ulama dan mayoritas memintanya untuk maju menjadi capres.

“Namun, saya minta sabar dulu,” lanjutnya.

Untuk mendalami keinginan yang muncul, pihaknya akan menyiapkan lembaga survei, itu guna untuk mengetahui tingkat keterpilihannya.

Siapa Cak Imin?

“Lahir di Jombang, 24 September 1966, sebelumnya sebagai staf pengajar di Pesantren Denanyar, Jombang”

Nama : Ahmad Muhaimin Iskandar
Tempat/Tgl. Lahir: Jombang, 24 September 1966
Alamat: Jln. Denpasar Raya Blok C III No. 5, Kuningan, Jakarta Selatan
Istri: Rustini Murtadho
Anak: 3 (tiga) orang – Mega Safira (4 Maret 1996), Rahma Arifa (29 Feb 2000), Egalita Az Zahra (26 Sept 2003)

Lantaran kemampuannya, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin pernah menjabat Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa di DPR, untuk yang pertama. Selanjutnya, naik jabatan menjadi Wakil Ketua DPR RI menggantikan Khofifah Indar Parawansa, yang saat itu oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dipercaya menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan, di Kabinet Persatuan Nasional.

Kemudian, di keanggotaan DPR periode 2004-2009, dengan dukungan Koalisi Kebangsaan, Muhaimin dipercaya duduk sebagai Wakil Ketua DPR, setelah mengalahkan kubu Koalisi Kerakyatan.

Lalaki yang lahir di Jombang, 24 September 1966 itu, sebelum aktif di dunia politik, tercatat sebagai staf pengajar di Pesantren Denanyar, Jombang (1980-1983). Juga sebagai Sekretaris Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LIKS) Yogyakarta (1989); Kepala Divisi Penelitian Lembaga Pendapat Umum Jakarta (1992-1994); Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Tabloid Detik (1993), aktif di Hellen Keller International (1998), serta dipercaya sebagai Sekretaris Yayasan Semesta Ciganjur (2001). Pada 22 Oktober 2009, dia dilantik untuk jabatan sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Cak Imin, memulai karir politik dengan masuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak pertama kali PKB berdiri tahun 1998. Cak Imin lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Organisasi yang diikuti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Da, awal karir dilakoni dari ketua umum tingkat komisariat sampai Ketua Umum Pengurus Besar PMII.

Dari pengalamannya di PMII, kemudian terpilih menjabat Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada tahun 1998.
Sebagai seorang sekjen partai, Muhaimin aktif tampil di publik dan menjadi juru bicara untuk PKB. Namanya pun semakin diperhitungkan di kancah politik di tanah air.

Tercatat pernah menjabat anggota DPR tahun 1999, dari daerah pemilihan Jawa Timur. Kemudian terpilih menjadi Ketua DPP PKB tahun 2000-2005. Di Muktamar II PKB di Semarang, April 2005, dirinya terpilih menjadi Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB untuk periode 2005-2010.

Riwayat Pendidikan:

• Madrasah Tsanawiyah Negeri, Jombang, 1979-1982
• Madrasah Aliyah Negeri I, Yogyakarta, 1982-1985
• FISIP UGM, Yogyakarta, 1985-1992
• Ilmu Komunikasi UI, Jakarta, 1996-1998

Karir dan Pekerjaan:

• Staf Pengajar Pesantren Denanyar, Jombang, 1980-1983
• Sekretaris Lembaga Kajian Islam dan Sosial, Yogyakarta, 1989
• Ketua Umum PC PMII Yogyakarta, 1991-1992
• Kepala Divisi Penelitian Lembaga Pendapat Umum, Jakarta, 1992-1994
• Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Tabloid Detik, 1993
• Ketua Umum PB PMII, 1994-1997
• Peserta “The Second World Congress of The Youth Federation for World Peace”, Washington DC, 1996
• Peerta “The International Council Meeting”, WCRP, Hidelsheim, Germany, 1997
• Hellen Keller Internasional, 1998
• Sekretaris Jenderal DPP PKB, 1998-2002
• Anggota DPR RI Pusat, 1999-2004
• Wakil Ketua DPR RI, 1999-2004
• Sekretaris Yayasan Semesta, Ciganjur, 2001
• Ketua Dewan Tanfidz DPP PKB, 2002-2005
• Wakil Ketua DPR RI, 2004
• Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB, 2005

Karya Tulis:

Editor buku: “Masyarakat Indonesia Abad XXI”, 1996

Penyusun buku:
– Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran, Kalimasada PMII, 1997
– Gus Dur yang Saya Kenal, LKIS Jogjakarta, 2004
– Membajak di Ladang Mesin, Yayasan Wahyu Sosial, 2004
– Melampaui Demokrasi (Reflaksi Sewindu PKB), Klik R Yogyakarta, 2006

Berbagai artikel kebudayaan, sosial politik, untuk berbagai media dan pertemuan ilmiah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here