Napak Tilas Jejak Tan Malaka di Purwokerto

0
678
Ilustrasi Madilog Tan Malaka

Nusantara.news, Jakarta – Sebagai sosok pengembara, Ibrahim Datuk Tan Malaka memang dikenal di berbagai tempat di Indonesia. Termasuk Purwokerto yang merupakan basis perjuangan Jenderal Soedirman.

Memang, Tan Malaka dan Jenderal Soedirman adalah dua sahabat karib yang sama-sama menginginkan kemerdekaan 100%. Maka keduanya memilih melanjutkan perang gerilya ketimbang bertekuk-lutut di bawah kekuasaan NICA yang diboncengi kepentingan kolonialis Belanda.

Demikian ungkap Direktur Eksekutif Tan Malaka Institute Khatibul Umam Wiranu. Pemikiran Tan, ujarnya, lahir di tengah perjuangan rakyat mulai dari pertempuran November di Surabaya  hingga gerilya di hutan-hutan Gunung Wilis.

Selama melakukan pergerakan di berbagai wilayah Indonesia, Purwokerto menjadi bagian penting. Di kota yang merupakan Ibukota Kabupaten Banyumas itu, Tan Malaka mengupayakan konsolidasi 138 organisasi baik sipil maupun militer serta mengkampanyekan jalan non diplomasi demi meraih kemerdekaan 100% Indonesia.

Dalam pidatonya yang berapi-api di Societet yang kini menjadi gedung RRI di Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto, tamsil politik non diplomasi lantang diteriakkan Tan bahwa orang tak akan berunding dengan maling di rumahnya sendiri.

“Di Purwokerto ini, Tan mendapat dukungan Jenderal Soedirman. Mereka dua sekawan yang menolak jalan diplomasi, memilih bergerilya melawan kolonial Belanda,”terang Umum yang juga politisi dari Partai Demokrat ini.

Diskusi Napak Tilas Tan Malaka di Purwokerto, Sabtu (4/3) malam

Hal senada diungkap akademisi Universitas Jenderal Soedirman Lutfhi Makhasin. Dia menilai Purwokerto menjadi pilihan digelarnya rapat politik Persatuan Perjuangan, 4-5 Januari 1946, bukan karena daerah itu basis kuat dari Partai Murba. Melainkan karena pertimbangan, konteks sosial Purwokerto pasca-revolusi kemerdekaan dianggap paling minim potensi kerawanan.

Kala itu hanya di Purwokerto transisi kekuasan dari Jepang ke pemerintah RI berjalan tanpa gejolak. Pasukan Divisi V Banyumas juga dikenal sebagai organisasi militer yang kuat dan lengkap persenjataannya.

Konteks sosial Purwokerto tahun itu paling memungkinkan untuk menggelar konsolidasi politik serta mendukung seruan Tan tentang tujuh program minimum yang benang merahnya kemerdekaan 100% sebagai tuntutan mutlak,” katanya.

Selain itu Lutfhi juga menambahkan, Tan Malaka tidak pernah mau membungkuk kepada asing. “Di Purwokerto ini Januari 1946 Tan Malaka dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman mendirikan Persatuan Perjuangan dengan Minimum Program untuk melawan politik kompromi pemerintah waktu itu,” katanya.

Jadi, tandas Lutfhi, sangat layak Tan Malaka ditempatkan di tempat yang terhormat di negeri ini ” Beliau adalah salah satu pendiri bangsa,” kata Lutfhi yang menyelesaikan doktornya di salah satu universitas ternama di Australia.

Lutfhi menambahkan, gagasan Tan Malaka juga brilian dan buku-bukunya masih sangat relevan hari ini.

“Catatan terpenting dari saya Tan Malaka itu adalah seorang yang berjuang dengan panji PAN Islamisme dan ditentang oleh komunis Internasional. Tan Malaka itu musuh PKI, jadi aneh kalau ada yang bilang beliau PKI,” kata Lutfhi.

Sementara itu, Ben Ibratama Tanur mengajak publik mempelajari sosok dan pemikiran politik Tan Malaka. “Harusnya profil dan pemikiran Tan Malaka masuk dalam kurikulum pendidikan Nasional,” kata mantan Ketua DPP Partai Murba ini.

Ben Tanur membagi perjalanan politik Tan Malaka dalam beberapa episode. Masa kecil dan masa remaja di Suliki dan Bukittinggi. “Tan Malaka dibesarkan dalam lingkungan Islam yang taat. Beliau belajar agama di Surau (mushala),” kata pria asal Minangkabau ini.

Periode remaja Tan Malaka dihabiskan di Bukittinggi saat di Sekolah Raja. “Selanjutnya Ibrahim karya kecerdasan nya yang luar biasa, disekolahkan guru Belanda-nya (Horensma) ke Negeri Belanda.”

Pada tahun 1918 – satu tahun setelah Revolusi Bolshevik pecah di Rusia – Tan Malaka pulang ke Indonesia dan jadi guru di Perkebunan Sanembah My Deli.

” Disinilah Tan Malaka marah terhadap kejamnya kolonialisme dan dia berontak atas penderitaan bumi putera. Tan keluar dari kehidupan dengan gaji Eropa dan turun ke Jawa untuk mendirikan Sekolah Syarikat Islam yang dikenal dengan Sekolah Tan Malaka” Ben Tanur menjelaskan.

“Tan Malaka itu seorang guru. Makanya dia berjuang untuk mencerdaskan bumi putera Indonesia lewat sekolah-sekolah yang ia dirikan” kata Ben Tanur.

Namun rupanya upaya Tan Malaka ini menjadi ancaman bagi kelangsungan kolonialisme Belanda di Indonesia, makanya Tan Malaka ditangkap dan kemudian dibuang ke Negeri Belanda.

“Tak cukup waktu dua tiga jam menjelaskan sosok apalagi pemikiran Tan Malaka, ” kata Ben Tanur dan dia menambahkan untuk bisa mendalami siapa Tan Malaka dan apa kontribusi nya terhadap republik ini, lelaki berkacamata minus ini menyarankan publik membaca biografi Tan Malaka : Dari Penjara ke Penjara dan buku karya sejarawan Belanda Harry A. Poeze : Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik dan Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia.

Secara faktual, imbuh Ketua AJI Kota Purwokerto Rudal Afgani Dirgantara, gagasan indipendensi Tan Malaka sangat relevan diterapkan di dunia wartawan, terutama dalam menghadapi fenomena amplop yang sudah berlangsung sejak lama sehingga wartawan tidak bisa lagi independen dalam menulis berita

“Kampanye soal independensi perlu digalakkan terus. Gagasan Tan Malaka bisa menjadi panduan bagi independensi jurnalis. Bagaimana mungkin seorang wartawan mampu membongkar kebobrokan, merekonstruksi suatu kejahatan atau mengungkapkan pendapat kritis demi perbaikan soisal ketika ia sangat berpotensi tak bisa menuliskan fakta sebab rayuan sogokan,” tandasnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here