Narasi Besar Prabowo-Sandi di Jawa Timur

1
394
Prabowo-Sandi berziarah ke makam Kiai Hasyim Asyari, di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, Senin (23/10/2018).

Nusantara.news, Jakarta – Pasangan Capres Cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno belakangan cukup intensif mengunjungi Jawa Timur. Wilayah ini begitu penting karena menjadi barometer politik nasional. Ya, pertarungan sesungguhnya berada di sini.

Bahkan seorang Ma’ruf Amin harus mengklaim bahwa dia keturunan Madura. Hal ini disampaikan Ma’ruf saat bertemu ribuan tokoh masyarakat dan warga Bangkalan, Madura, Jumat (19/10/2018), di Pesantren Hidayatulloh Al-Muhajirin, Arosbaya, Bangkalan.

Di hadapan tokoh dan warga Bangkalan, Ma’ruf menyatakan kecintaannya kepada Madura. Ia menceritakan bahwa dia mempunyai darah Madura dari para tokoh dan raja di Madura pada masa lampau.

“Saya keturunan Madura dari Kiai Demang Plakaran, Arosbaya, Bangkalan. Beliau mempunyai anak bernama Raden Kiai Pragalba. Lalu cucu beliau yang di Pamekasan kemudian diperistri Raja Sumedang Larang yang kemudian diberi gelar Nyai Ratu Harisbaya yang diambil dari Arosbaya. Dari sana kemudian lahir mbah-mbah saya. Karena saya berdarah Madura, mana mungkin saya lupa Madura,” ujar Ma’ruf.

Tentu, ini merupakan narasi baru. Publik baru tahu Ma’ruf keturunan Madura. Tidak ada yang menyangka. Ada yang senang, tapi ada yang menganggap itu bentuk ketakutan Ma’ruf atas massifnya dukungan warga Madura terhadap pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Apalagi sebelumnya ada kelompok masyarakat Madura yang mendeklarasikan mengharamkan memilih Jokowi pasca pemberi harapan palsu (PHP) Mahfud MD yang notabene keturunan Madura asli.

Klaim Ma’ruf Amin ke Madura bisa dibilang bagian dari strategi untuk menggerus pendukung Prabowo-Sandi. Pasalnya, banyak hasil hasil survei yang menyatakan suara Jokowi-Ma’ruf di Madura masih kalah dari Prabowo-Sandi. Hal ini terbukti pada Pilpres 2014 lalu, Prabowo menang telak di Madura atas Jokowi.

Keunggulan perolehan suara Prabowo sangat signifikan. Seperti di Kabupaten Bangkalan, Prabowo-Hatta meraup 644.608 suara dan Jokowi-JK dapat 149.258 suara. Untuk Kabupaten Sampang Prabowo-Hatta raih 474.752 suara, sementara Jokowi-JK dapat 162.785 suara.

Di Kabupaten Pamekasan, Prabowo-Hatta dapat 378.652 suara dan Jokowi-JK meraih 135.178 suara. Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Sumenep. Prabowo-Hatta dapat 332.956 suara dan Jokowi-JK raih 245.410 suara.

Bila ditotal perolehan suara Prabowo-Hatta se-Madura sebanyak 830. 968, sementara Jokowi-JK berjumlah 692.631 suara. Berarti Prabowo-Hatta unggul 138.337 suara dari Jokowi-JK.

Wajar saja Ma’ruf was-was hingga muncullah klaim keturunan Madura sebagai narasi baru untuk menggerus suara Prabowo.

Namun hal ini berbeda dari narasi baru yang dibawa Prabowo-Sandi di Jawa Timur. Bagi pasangan Capres Cawapres ini, wilayah Jawa Timur sangat penting dan menjadi penentu kemenangan, mengingat bila diasumsikan Jawa Barat akan dimenangkan Prabowo-Sandi dan Jawa Tengah akan dimenangkan Jokowi tapi dengan selisih tipis. Karena itu Jawa Timur perlu diatur strategi baru dengan narasi baru.

Pengamat politik, Mochtar W Oetomo mengatakan, Jawa Timur menjadi wilayah yang penting bukan hanya karena basis terbesar Nahdlatul Ulama (NU) dan kaum santri. Akan tetapi, ada perang narasi yang harus dibangun semaksimal mungkin. Tentunya dalam konteks keislaman yang dibawa oleh Prabowo-Sandi.

“Bukan semata dari sisi jumlah pemilih dari kalangan NU dan santri yang besar. Lebih dari itu, ini adalah perebutan narasi Islam yang dalam konteks kontestasi Pemilu 2019. Dan Jawa Timur adalah narasi yang sangat penting dan menentukan pasca Pilgub DKI dan seterusnya,” terang Direktur Surabaya Survey Center (SSC) ini.

Narasi keislaman

Seperti diketahui, Prabowo dan Sandi mengunjungi Jawa Timur pada Senin (23/10/2018) atau bertepatan dengan Hari Santri Nasional (HSN). Di Jawa Timur, keduanya bertemu Gus Solah di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur dan kemudian dilanjutkan dengan napak tilas resolusi jihad 10 November dengan berziarah ke makam Kiai Hasyim Asy’ari.

Saat ziarah Prabowo-Sandi kompak bersilaturahmi secara bersamaan. Keduanya kompak mengenakan baju koko putih dan bersarung hijau.

Kepada wartawan, Prabowo menjelaskan bahwa kunjungannya kali ini selain untuk melakukan silaturahmi dengan para pengasuh Ponpes dan berziarah ke makam para tokoh dan pendiri NU juga melakukan napak tilas mengenang resolusi jihad sebagai langkah mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang dilakukan oleh Kiai Hasyim Asy’ari dan tokoh ulama Islam lainnya dengan melawan para penjajah.

“Hari ini adalah hari santri nasional dimana mengenang bahwa pernah lahir sebuah resolusi jihad untuk mendukung kemerdekaan dan itu bagian dari pertempuran 10 November. Jadi menurut kami peristiwa Oktober dan November 1945 adalah bagian penting dalam sejarah kita. Memang 17 Agustus itu adalah proklamasi tetapi ujian kemerdekaan itu ya di Jawa Timur ini pada Oktober dan November 1945,” papar Prabowo.

Prabowo menjelaskan, dengan keluarnya sebuah resolusi jihad yang dilontarkan oleh Kiai Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 lalu, merupakan dorongan yang kuat untuk memenangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan itu adalah ujian terberat bangsa Indonesia pasca kemerdekaan.

“Dan resolusi jihad itu adalah bukti bahwa ulama adalah pejuang kebangsaan pejuang kemerdekaan, dan ini sekaligus untuk mengingatkan generasi muda bahwa ulama memiliki peran penting dalam memenangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ini sangat penting dan saya merasa sangat dihormati saya bisa hadir di sini pada hari ini,” tandasnya.

Ya, saat ini Jatim bukan sekedar NU atau kaum santri memang benar. Sebab di balik itu, ada konteks keislaman yang jauh lebih besar. Prabowo paham betul bahwa penyebaran Islam di wilayah Jawa melalui Walisongo menggunakan pendekatan tasawuf (mistik Islam).

Dengan cara perlahan dan bertahap, dengan tanpa menolak dengan keras terhadap budaya masyarakat Jawa, Islam memperkenalkan toleransi dan persamaan derajat. Ditambah lagi kalangan pedagang yang saat itu mempunyai orientasi kosmopolitan, panggilan Islam kemudian menjadi dorongan untuk mengambil alih kekuasaan politik dari tangan penguasa sebelumnya. Nah, toleransi dan persamaan derajat dengan menggunakan polarisasi kebudayaan Islam yang ingin dikuatkan kembali oleh Prabowo-Sandi.

Sayangnya, kenyataan ini sudah jauh melenceng di era kepemimpinan Jokowi. Alih-alih bicara soal toleransi, semua menganggap diri paling benar, paling Pancasilais. Nyatanya, para ulama dikriminalisasi.

Gerakan Ganti Presiden 2019 mendapat persekusi dimana-mana. Rasa keadilan bagi publik sudah tercoreng. Pemerintah dengan mudahnya menggunakan alat negara untuk kepentingan kekuasaan. Sementara Banser dengan semangat Islam Nusantara menggelar pawai dari Aceh, rencananya sampai Papua. Namun di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Sumatera Barat justru dihadang oleh publik yang alergi dengan istilah Islam Nusantara.

Belum lagi baru-baru ini publik dikagetkan dengan pembakaran bendera berkalimat tauhid yang dilakukan oknum Banser. Alih-alih mengambil sikap tegas, pemerintah justru malah membuat runyam suasana. Pembakaran bendera tauhid yang membuat publik geram diklaim bukan bendera tauhid, melainkan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan pemerintah. Negara seperti diciptakan keluar dari konteks keislaman. Konflik horizontal dibiarkan berlaru-larut sehingga menjadi ancaman. Mana toleransinya, mana Pancasilanya?

Ijtihad ekonomi

Ijtihad ekonomi yang digaungkan Sandiaga Uno saat mengikuti rangkaian peringatan Hari Santri Nasional di Jawa Timur diyakini menjadi cikal bakal sebuah narasi besar yang dapat diterima oleh masyarakat luas.

Istilah ijtihad diambil dari sumber hukum Islam yang memberi peluang untuk berkembangnya pemikiran umat Islam dalam menghadapi segala permasalahan di era globalisasi ini. Fungsi Ijtihad sendiri ialah sebagai solusi hukum jika ada suatu permasalahan yang harus diterapkan hukumnya, tetapi tidak dijumpai dalam Al-Quran maupun Al-Hadits.

Ijtihad tidak bisa dilakukan oleh setiap orang, tetapi hanya orang yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang boleh berijtihad. Sebab dalam ijtihad ada empat cara yang harus dilalui, yakni lisan, tulisan, isyarat, dan perbuatan. Nah, melihat kondisi ekonomi saat ini, tentu sangat layak jika Sandiaga Uno merasa perlu melakukan ijtihad ekonomi.

Melalui ijtihad ekonomi, Sandi bisa menjawab isu kedaulatan ekonomi, dan isu mahalnya harga sembako yang dihadapi masyarakat. Seperti ketika Sandi melakukan kunjungan ke Pacet, Mojokerto, Minggu, (21/10/2018) lalu, dia bertemu para petani bawang merah di Desa Sajen. Para pedagang secara kompak wadul ke Sandi soal anjloknya harga bawang merah. Para petani mengeluhkan sulitnya mendapatkan bibit yang unggul guna menghasilkan bawang yang baik.

Di kalangan ‘emak-emak’, sosok Sandi saat ini menjadi fenomena baru. Hal ini menunjukkan betapa besarnya harapan dan antusias masyarakat kepada sosok Sandi yang dipercaya dapat membenahi berbagai persoalan ekonomi yang dirasakan oleh emak-emak.

Mengutip Ketua DPW PAN Jatim, Masfuk, “Saya melihat ini satu fenomena yang luar biasa. Mas Sandi ketika turun, semua menyapa. Mereka juga ingin memperjuangkan mas Sandi menjadi wakil presiden, itu yang saya lihat ketika saya mengantar beliau ke seluruh Jawa Timur,” kata Masfuk, Selasa (23/10/2018).

Fenomena ini bentuk ungkapan perasaan ibu-ibu yang berharap pada pemimpin baru untuk melakukan pembenahan bangsa, khususnya masalah perekonomian. Apa yang dialami mereka bisa disampaikan melalui perasaan ingin bertemu pemimpin baru. Semua ini karena kondisi ekonomi yang tidak baik. Ya, daya beli masyarakat saat ini sedang turun. Dan kaum emak-emak yang paling terdampak langsung.

“Ibu-ibu ini kan masyarakat yang langsung terimbas masalah perekonomian. Saat semua harga naik, mereka orang pertama yang terimbas karena harus mengelola keuangan keluarga,” paparnya.

Salah satu gerakan konkret yang diusung adalah gerakan ‘Emas’ (Emak-emak dan anak minum susu). Gerakan Emas difokuskan pada kegiatan di bidang kesehatan anak-anak dan ibu-ibu. Gerakan Emas sebagai bentuk keprihatinan sekaligus kepedulian Prabowo-Sandi kepada anak-anak generasi bangsa. Sebab berdasarkan data bank dunia, 38 persen anak-anak di Indonesia mengalami stunting growth. Daerah terbanyak justru berada di Jawa Timur.

Kasus stunting growth di Jawa Timur hampir 50 persen. Di sini, masa depan anak-anak Jawa Timur merupakan bencana. Ini menjadi suatu bencana nasional kalau tidak diperbaiki atau ditanggulangi.

Hal inilah yang mendasari emak-emak antusias menyambut kedatangan Sandi di setiap kunjungannya, terutama di Jawa Timur. Dua hari kunjungannya di Jawa Timur, Sandi menjadi sasaran foto bersama para emak-emak. Mulai dari bandara, kunjungan ke sejumlah pondok pesantren, hingga pasar-pasar.

Ya, ijtihad ekonomi Sandi paling tidak bisa menjadi tawaran kongkret tentang visi dan program kerja Prabowo-Sandi mengingat ada tindak lanjut operasional. Jika narasi ijtihad ekonomi betul-betul diseriusi melalui tawaran konsep serta program yang relevan oleh Prabowo-Sandi, bukan hal mustahil dukungan masyarakat bawah akan berbondong-bondong pada pasangan Capres Cawapres nomor urut 02.

Sekali lagi, ijtihad ekonomi bisa menjadi momentum konstruktif bagi Prabowo-Sandi apabila bisa merawat narasi tersebut dengan tepat.[]

 

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here