Narkoba China Makin Ganas Merusak Indonesia

3
503

Nusantara.News, Jakarta –  Fakta penyalahgunaan narkoba di Indonesia sudah masuk kategori mengerikan. Sebab satu dari 50 penduduk adalah pengguna narkoba. Bukan hanya merugikan dari segi ekonomi tetapi juga merusak bangsa Indonesia. China menjadi biang kerok dalam hal ini, karena 80 persen narkoba yang masuk dan beredar di Indonesia berasal dari China. Oleh sebab itu, harus ada upaya ekstra untuk menghentikan penyuludupan narkoba dari China. Inilah pekerjaan rumah Heru Winarko yang resmi menggantikan Budi Waseso sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) mulai Kamis (1/3/2018).

Makin Ganas

Upaya ekstra menghentikan penyeludupan narkoba dari China harus menjadi prioritas tinggi. Sebab daya rusaknya sudah mengerikan.

Tahun 2016, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso mengatakan, jumlah pengguna  narkoba di Indonesia sudah mencapai sekitar 5 juta jiwa. Ini berarti satu dari 50 orang menjadi pengguna. Sementara jumlah yang meninggal karena mengonsumsi narkoba mencapai 40 sampai 50 orang per hari.

Itu dikemukakan Budi Waseso di awal tahun 2016. Data-datanya tentunya berasal dari data-data tahun 2015.

Perkembangannya sangat pesat. Jika pada tahun 2015 itu jumlah narkoba yang diseludupkan masih dalam batas-batas puluhan kilogram dan oleh sebab itu mengambil jalur udara, maka tahun-tahun berikutnya makin dahsyat. Penyeludupan tidak mengenal puluhan kilogram tetapi sudah masuk ratusan dan belakangan masuk angka ribuan kilogram atau ton. Dengan jumlah  itu penyeludupan bergeser dari jalur udara ke jalur laut.

Menurut Budi Waseso mengatakan, sepanjang tahun 2016 ada sebanyak  250 ton narkotika jenis sabu asal China masuk ke negeri ini.

Itu narkoba siap konsumsi atau siap pakai. Sementara jumlah narkoba dalam bentuk prekursor (bahan baku untuk obat-obatan narkotika) yang diseludupkan ke Indonesia  sepanjang 2016 mencapai 1.097,6 ton.

Kalau sepanjang tahun 2016 angka 250 ton maka, maka pada tahun 2017, jumlah narkoba yang diseludupkan semakin menggila. Pada Juli 2017, polisi berhasil menangkap penyeludupan sabu sebanyak satu ton di Anyer Banten. Ini adalah tangkapan terbesar. Penangkapan ini sekaligus menjadi awal penyeludupan narkoba tidak lagi dalam ukuran puluhan kilo tetapi sudah masuk angka satu ton dalam sekali kirim.

Penyeludupan tahun 2018 lebih menggila lagi. Awal tahun 2018, berhasil ditangkap penyeludupan 1,6 ton sabu di Kepri.

Pada saat bersamaan juga terjadi penyeludupan prekursor mencapai 150 ton dalam sekali kirim, yang gagal masuk ke Indonesia karena ditangkap aparat Timur Leste. “Kami mendapat informasi dari Timor Leste bahwa bahan baku pembuatan narkoba sebanyak 150 ton itu hendak dikirim ke Indonesia. Semua barang bukti itu sudah diamankan di negara itu,” kata Kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) Nusa Tenggara Timur.

Itu penyeludupan yang berhasil ditangkap. Menurut Deputi Penindakan BNN Benny Josua Mamoto, jumnlah yang berhasil ditangkap itu hanya bagian kecil dari total narkoba yang diseludupkan ke indonesia.

Jumlah yang berhasil ditangkap itu menurutnya hanya berkisar 10 persen saja dari total narkoba yang diseldupkan. Ini berarti ada sekitar 90 persen yang lolos. Kalau yang berhasil  ditangkap 1,6 ton, berarti yang lolos mencapai 9 dikali 1,6 ton sama yakni mencapai 14,4 ton.

Dari angka-angka di atas jelas hahwa penyeludupan narkoba dari China makin mengganas. Daya rusaknya dengan demikian juga semakin menggila.

Jika dilakukan survei terbaru,  dapat dipastikan, perbandingan antara jumlah penduduk dengan pengguna narkoba meningkat. Demikian juga jumlah orang yang meninggal karena mengonsumsi narkoba, diyakini mengalami peningkatan drastis sesuai dengan derasnya arus masuk narkoba yang mulai masuk angka ton ton-an dalam sekali kirim.

Ini sekaligus menunjukkan bahwa daya rusak narkoba China terhadap Indonesia juga semakin menggila. Tidak saja karena penggunanya semakin meluas, tetapi penetrasinya atau tingkat ketergantungan terhadap narkoba juga semakin dalam.

China menjadi kerok dalam hal ini karena 80 persen narkoba yang masuk ke Indonesia berasal dari China. Narkoba China menjadi “aktor” yang paling hebat merusak Indonesia.

Upaya Ekstra

Kamis (1/3/2018) Heru Winarko resmi menggantikan Budi Waseso menjadi Kepala BNN yang baru. Sebagai Kepala BNN Budi Waseso terkenal keras. Kinerjanya juga tampak nyata. Tetapi fakta menunjukkan hasil tangkapan yang heboh itu ternyata hanya 10 persen dari seluruh narkoba yang diseludupkan.

Oleh sebab itu, harus ada upaya ekstra dari Heru Winarko. Upaya ekstra seperti apa? Inilah adalah bagian dari pekerjaan rumah Heru Winarko dengan jajarannya.

Yang jelas adalah bahwa masih terdapat sejumlah fakta yang membuat bangsa ini gelisah dengan perdagangan narkoba. Misalnya, soal gembong narkoba. BNN di masa Budi Waseso mencatat ada sekitar 72 gembong narkoba yang beroperasi di Indonesia. Omzet mereka diperkirakan antara Rp1 sampai Rp3 triliun per tahun per gembong.

Pertanyannya adalah, apakah 72 gembong narkoba itu sudah ditangkap semuanya? Tentu saja belum, karena yang muncul dalam pemberitaan adalah penangkapan pengedar atau badar-bandar kecil dan juga pengguna.

Kalau sudah ada data mengenai 72 gembong, maka logikanya sudah ada identifikasi terhadap mereka. Logika lain, gerak-gerik mereka juga sudah terdeteksi. Tetapi mengapa tak kunjung ditangkap? Ini juga menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi Heru Winarko sebagai Kepala BNN yang baru.

Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Supriyadi Widodo Eddyono mengemukakan, tahun 2017, terdapat sedikitnya 134 orang masuk dalam daftar tunggu eksekusi mati.

Berapa yang sudah diesekusi dan berapa yang belum? Terhadap yang belum dieksekusi, tentu ada masalah-masalah hukum yang masih mengganjal seperti misalnya terdakwa mengajukan banding atau mengajukan peninjauan kembali atau PK.

Mengacu pada semakiin ganasnya penyeludupan dengan daya rusak yang makin menggila, maka penting dipertanyakan, apakah prosedur hukum yang panjang itu tidak perlu disederhanakan khusus untuk kasus narkoba?

Penyederhanaan ini penting untuk menimbulkan efek jera secara kuat. Sebab, fakta juga menunjukkan bahwa para gembong atau bandar narkoba yang belum diekskusi itu masih terus beroperasi alias merusak bangsa selama berada di dalam sel tahanan.

Penyerhanaan prosedur hukum itu juga patut menjadi sebuah pemikiran, karena ada preseden seperti di Filipina di mana pengguna atau orang-orang yang terkait dengan narkoba ditembak mati bahkan tanpa melalui proses pengadilan. Di Indonesia sendiri sudah ada pernyataan dari Presiden Jokowi dan juga Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian agar menembak mati saja badar narkoba itu.

Satu hal yang perlu dijadikan prioritas adalah keberadaan China sebagai pemasok 80 persen narkoba ke Indonesia.

Kepala BNN Budi Waseso menandatangani memorandum of understanding dengan (MoU) National Narcotics Control Commission (NNCC) China. Keduanya sepakat meningkatkan kerja sama di bidang narkotika. Tetapi MoU itu tidak efektif.

Negara yang tergabung dalan ASEAN juga sepakat memerangi peredaran narkoba melalui ASEAN Seaport Interdiction Task Force (ASEAN SITF). Termasuk bersinergi bersama antar instansi seperti Bea cukai, imigrasi, PPATK, Polri, Bakamla dan lainnya. Dan ini sesuai instruksi Presiden Jokowi bahwa negara kita sudah darurat narkoba. Lagi-lagi hasilnya tidak efektif.

Kalau langkah A, B tidak efektif, maka harus ada langkah C atau langkah yang berbeda. Apa bentuknya?

Ada yang menduga China meletakkan narkoba dalam kerangka proxy war, di mana narkoba dijadikan sebagai komoditi perang untuk menguasai Indonesia. Jika dugaan ini benar adanya maka BNN tentunya harus melibatkan TNI dalam pemberantasan narkoba.

Tetapi apapun kendala-kendala yang dihadapi, China harus menjadi perhatian dengan prioritas tinggi.

Menghentikan atau sedikitnya mengurangi pasokan narkoba dari China harus diupayakan dengan kerja yang lebih keras, agar daya rusak narkoba China terhadap Indonesia yang semakin mengganas dapat dihentikan, sedikitnya dikurangi. []

3 KOMENTAR

  1. Cek kontainer dari importir atau negara china. biarpun isinya barang elektronik murah. karena bisa jadi harga elektronik murah dari china karena disubsidi barang haram narkoba.
    waspadalah.
    #Boikot produk china#

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here