Narkoba dan Pencurian Masih Menjadi PR Besar Kota Malang di Tahun 2018

0
137
Ilustrasi Narkoba (Sumber: Ujang Zaelani/ANTARA-FOTO)

Nusantara.news, Kota Malang – Kasus pencurian dan narkoba masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Kota Malang di tahun 2018. Pasalnya, masih banyak beberapa catatan kasus tindak pencurian dan peredaran narkoba di Kota Malang sepanjang tahun 2017.

Tercatat kasus tindak kriminalitas di Kota Malang tetap didominasi dengan pencurian yang disebut 3C. Kasus pencurian 3C itu merupakan sebutan untuk pencurian kendaraan bermotor (curanmor), pencurian dengan pemberatan (curat), dan pencurian dengan kekerasan (curas).

Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri menjelaskan masih ada sekitar 2000-an kasus kriminalitas dan didominasi oleh pencurian 3C. “Tahun 2017 kasus yang mendominasi yakni kasus pencurian 3C,” ujarnya kepada wartawan.

Berdasar data analisa dan evaluasi (Anev) Polres Malang Kota 2017, ada 2.549 kasus kriminalitas selama 2017. Jumlah ini turun dibandingkan 2016 yang mencapai 4.408 kasus. Kasus curanmor selama setahun terakhir mencapai 892 kejadian. Kemudian curat sebanyak 235 kasus. Sedangkan curas sebanyak 33 kasus.Untuk menekan angka curanmor.

AKBP Asfuri menekankan untuk kesadaran pertama untuk keamanan juga perlu bagi pemiliki kendaraan bermotor untuk dilengkapi dengan beberapa alat penjagaan kendaraan agar terhindar dari tindak pencurian.

“Penjagaan paling terdekat dan utama ada pada pemiliki kendaraan bermotor, jangan sampai lengah. Karena pencuri bergerak karena ada korban yang tengah lengah atau lalu melakukan aksinya,” jelas dia.

Pihaknya terus berkomitmen untuk meningkatkan keamanan dan kenamana masyarakat Kota Malang. “Sudah menjadi tugas kami sebagai pengayom masyarakat, kami akan terus meningkatkan patroli wilayah untuk mencegah tindak kejahatan ini,” imbuh AKBP Asfuri.

Narkoba Masih Menjadi Momok

Melambungnya jumlah kasus narkoba di Kota Malang pada 2017 menjadi momok sekaligus PR besar bagi Polres Kota Malang. Mengingat narkoba merupakan salah satu benda yang merusak masa depan generasi bangsa jika sudah menjadi candu para pemakai.

Di tahun 2018 ini, Polres Malang Kota berupaya serius memetakan kawasan rawan narkoba, dan lokasi transaksi, kantong-kantong pengedar narkoba di Kota Malang.

Dilansir dari MalangTIMES hasil pemetaan di lima kecamatan di Kota Malang dari 2016 sampai 2017 semuanya merata mengalami kenaikan. Selama rentang dua tahun tersebut, angka kasus narkoba tertinggi terjadi di kawasan Lowokwaru, Jumlahnya 43 kasus  pada 2016 dan 77 kasus pada 2017.

Disusul  Kecamatan Blimbing pada peringkat kedua dengan 56 kasus,  Klojen peringkat ketiga sebanyak 46 kasus, Kecamatan Kedungkandang peringkat keempat sebanyak 42 kasus, dan Kecamatan Sukun peringkat kelima sebanyak 35 kasus.

Terlihat bahwa kawasan Lowokwaru menjadi zona merah dengan temuan kasusu narkoba tertinggi. Ini yang kemudian akan menjadi fokus Polres Kota Malang untuk lebih meningkatkan kembali penindakan pengedaran narkoba.

Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri menjelaskan akan lebih banyak kembali mengusut dan menindak para bandar pemasok, pengedar dan pemakai narkoba.

Pihak Kapolres, sejauh ini jua sudah bekerjasama dengan BNN dan beberapa NGO, LSM Anti Narkoba untuk terus melakukan sosialisasi pendidikan terkait ancaman narkoba bagi masa depan di sekolah dan di masyarakat.

“Kami juga terus memberikan imbauan dan juga penyuluhan kepada masyarakat dan kalangan mahasiswa, pelajar yang rentan menjadi sasaran barang haram tersebut,” jelas AKBP Asfuri

Kepala BNN Kota Malang, AKBP Bambang Sugiharto akan berupaya untuk mengurangi penyalahgunaan narkotika menurut Bambang akan terus dilakukan secara preventif. Dengan melibatkan berbagai elemen untuk memberantas narkoba.

Ia menjelaskan, BNN Kota Malang berencana untuk membentuk penguatan pada bidang pencegahan dan pemberdayaan masyarakat. Sebagai upaya preventif dalam pengemasan penyalahgunaan Narkotika yang diharapkan dapat lebih efektif dalam menekan jumlah peredaran obat terlarang.

“Berbagai usaha kami lakukan untuk memberantas narkoba, salah satunya kami akan menguatkan pencegana dan pemberdayaan masyarakat. Partisipasi elemen masyarakat sekitar menjadi penting untuk bisa salin bekerjasama memerangi narkoba,” tandas AKBP Bambang Sugiharto.

Sementara itu, Kapolsek Lowokwaru, AKP Pujiono menanggapi hal tersebut akan lebih mengintensifkan patroli jajaran anggotanya. Selama ini pihaknya sudah berusaha maksimal dengan memerintahkan anggota berpatroli sebanyak tiga kali di daerah pemukiman.

“Selain kami sudah melakukan patorli dengan intensif dan masif, kami ini keterlibatan masyarakat turu membantu untuk memberikan informasi terkait tindak kejahatan terutama narkoba dan pencurian,” tegasnya.

Untuk diketahui, peningkatan jumlah kasus narkoba bersamaan dengan peningkatan usia pemakai.

Terlihat dalam daftar gambar jumlah pemakai di usia 16-19 tahun pada 2016 ada 12 orang, naik menjadi 28 orang pada 2017. Usia 20-24 pada 2016 ada 76 orang, kini naik menjadi 98. Usia 25-29 pada 2016 ada 45 orang dan pada 2017 menjadi 63 orang. Disusul usia di atas 30 pada 2016 sebanyak 87 orang dan  2017 menjadi 126 orang.

Jika ditilik dari beberapa profesi pekerjaan. Paling tinggi yang medominasi sebagai pemakai narkoba adalah mereka yang bekerja sebagai swasta, disusul wiraswasta, mahasiswa, pengganguran dan lainnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here