Nasib Malang Angkot Kota Malang 

0
233
Para Relawan Ojek Khusus (Komunitas Peduli Malang)

Nusantara.news, Kota Malang – Dua kali melakukan aksi demonstrasi dan mogok kerja ribuan armada angkutan konvensional kota malang, membuat resah masyarakat Kota Malang. Beberapa penumpang di titik stasiun dan terminal banyak terlantar menunggu angkutan namun mereka mogok kerja, yang pada akhirnya Pemerintah Kota Malang dan beberapa Dinas terkait melakukan langkah antisipasi untuk menjemput penumpang yang terlantar di pinggiran jalan.

Demonstrasi pertama, pada Senin (27/2/2017) lalu, pihak Pemerintah Kota menerima semua aspirasi yang dilayangkan para demonstran, yang kemudian akan diproses lebih lanjut. Namun, selang dua  minggu kemudian tepatnya Senin (6/3/2017) lalu pihak angkutan konvensional menilai pemerintah kurang serius menanggapi hal ini, yang kemudian mereka menggelar aksi demonstrasi kembali.

Sangat disayangkan, demonstrasi para sopir angkot konvensional belum menemui titik terang karena aksi demonstrasi kedua ini mediasikan oleh pihak DPRD, dan Walikota Malang, H. M. Anton tidak hadir dalam mediasi tersebut. Beberapa sopir angkot  sempat mendatangi rumah Walikota. Sang Walikota mengaku memang sengaja tidak menemui para sopir angkot dan menginstruksikan  Dinas Perhubungan  untuk membubarkan para sopir.

Walikota Malang, H. M. Anton mengatakan, meskipun sopir angkot tetap ngotot agar ada kebijakan dari Pemkot Malang untuk menutup angkutan online, ia tetap berpegang teguh sesuai peraturan yang ada.

“Saya katakan tidak bisa menutup angkutan online. Karena  tidak ada yang berani menutup kecuali dari pemerintah pusat,” ujarnya kepada beberapa wartawan, Selasa (7/3/2017).

Hasil pertemuan dengan DPRD Senin lalu, yakni akan membawa permasalahan ini untuk diseleseikan di tingkat provinsi. Hasil tersebut, belum juga memberikan kepuasan para sopir angkot konvensional ini.

“Dari kemarin-kemarin, hasilnya ngambang,  dilempar ke sana-sini.  Pemerintah Kota seakan meninggalkan tanggungjawab untuk memutuskan sendiri kesejahteraan masyarakat di daerahnya,” ujar Subandi salah satu sopir angkot kepada Nusantara.news, Rabu (8/2/2017)

Sementara itu, sejak Senin-Rabu, (8/3/2017) ini ketika sopir angkutan konvensional mogok ada beberapa gerakan komunitas yang menjadi relawan khusus ojek gratis, diperuntukan untuk para penumpang yang terlantar karena angkutan kota mogok kerja.

Rivandy Arianto, Komunitas Peduli Malang yang juga salah satu relawan khusus ojek mengatakan bahwa tergerak hatinya untuk menjadi relawan karena ini memang sungguh kondisi yang sulit melihat peresetruan yang pelik.

“Kami dari Komunitas Peduli Malang, miris ya melihat konflik yang semain berlarut antara pihak pemerintah, angkutan konvensional, dan angkutan online. Permasalahannya semakin lama makin meresahkan masyarakat. Karena itu  kami tergerak untuk menjadi relawan ojek khusus ini,” ujar Rivandy kepada Nusantara.news, Rabu (8/2/2017)

Rivandy mengungkapkan terkait kebaradaan angkot yang kian lama tersingkirkan karena memang ada beberapa pandangan keresahaan masyarakat umum terkait dengan kondisi angkot hari ini

“Kondisi angkot tersingkirkan, memang banyak masyarakat yang juga resah akan kondisi angkot ini yang kerap ngetem lama sehingga  macet, harga dan tarif sering nembak, pelayanannya, dan fasilitas yang kurang memuaskan, keamanan kurang terjamin, ugal ugalan,” ungkapnya

Potret Angkutan Konvensional, Semakin Terpuruk

Apabila kita memandang kondisi Angkutan umum konvensional berbeda jauh dengan Angkutan online (baru). Permasalahan kondisi tersebut yang kemudian juga dipandang sebelah mata oleh masyarakat, terkait kenyamanan, kemanan, fasilitas dan pelayanan yang diberikan.

Kini jumlah trayek yang beroprasi hanya 17, padahal 5 tahun  terakhir jumlah trayek ada 27 trayek, yang kemudia tutup dan habis perlahan. Di lain sisi belakangan ini pemkot akan membangun monorail dan bus kota, yang dianggap mereka nantinya akan berpotensi mencaplok usaha mereka sebagai sopir angkot.

Beberapa permasalahan yang telah diungkapkan dan juga beberapa pembangunan  yang justru mematikan lahan angkutan konvensional tersebut membuat kondisi mereka (red) semakin tersingkir dan terpuruk.

Sementara itu, Rivandy Arianto, Komunitas Peduli Malang menambahkan fenomena ini permasalahannya ada pada penguasaan teknologi yang berbuntut pada kebutuhan ekonomi untuk kehidupan sehari –hari.

“letak masalah ada pada teknologi, terlihat bahwa hanya segelintir orang yang menguasi teknologi sehingga timbul kesenjangan. Teknologi sebagai modal, orang yang memiliki teknologi tinggi (modal tinggi), maka akan menggerus orang yang ”

berharap agar bisa cepat terseleseikan permasalahan ini, agar masyarakat kota malang juga tidak dirugikan

“Semoga cepat selesai, dan ada solusi yang berkeadilan, antar semua pihak, agar tidak pula berlarut merugikan dan meresahkan masyarakat malang (para penumpang angkot), dan angkot harus tetap ada dan kemajuan juga teap harus diterima.” Harapnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here