Membedah Korupsi Kemenpora (2)

Nasib Menpora Imam Nahrowi di Tangan Penyidik KPK

0
852
Menpora Imam Nahrowi sepertinya sedang dibidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan pintu masuk kickback dana hibah Kemenpora kepada KONI senilai Rp17,9 miliar.

Nusantara.news, Jakarta – Selasa (18/12) pukul 19:15 WIB merupakan malam yang sial bagi para pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan koleganya. Mengapa? Ya, malam itu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap 12 orang di sana.

Ada apa gerangan? Bukankah pesta Asian Games dan Para Asian Games telah usai? Ataukah ada kasus lain terkait olah raga? Semua pihak bertanya-tanya, belakangan ternyata OTT itu terkait kickback dana hibah Kemenpora untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) senilai Rp17,9 miliar.

Menyasar Menpora

Saut Situmorang juga mengendus dugaan keterlibatan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, terkait skandal akal-akalan penyaluran dana hibah dari Kemenpora terhadap KONI tahun anggaran 2018.

“Saya belum bisa simpulkaan itu, tetapi indikasinya memang peranan yang bersangkutan (Menpora) signifikan ya,” ujar Saut kepada media di kantornya.

Saut menggaransi, pihaknya tidak akan tebang pilih. Bila buktinya cukup seiring penyidikan ini, KPK akan langsung menjerat Menpora, ataupun petinggi KONI yang lainnya.

Indikasi yang disampaikan Saut memang benar adanya. Apalagi KPK dalam penetapan tersangka menyertakan istilah ‘dan kawan-kawan’. Istilah itu bisa melebar, meluas dan memanjang kemana-mana, sepanjang yang bersangkutan terlibat tentu akan dimasukkan ke dalamnya.

“Kekuatan buktinya yang paling penting. Tapi yakinlah, sekarang kalau buktinya cukup karena istilah ‘dan kawan-kawan’ (pada penetapan tersangka) akan ke mana-mana,” kata Saut

Melihat massifnya korupsi di Kemenpora, Gerakan Rakyat Tolak Aktor Koruptor (Gertak) mendesak KPK untuk mengusut tuntas dugaan penerimaan suap penyaluran dana hibah }Kemenpora kepada KONI.

Ketua Umum Gertak Tohenda meminta penyidik KPK segera memeriksa Menteri Pemuda dan Olaharaga (Menpora) Imam Nahrawi yang patut diduga mengetahui gratifikasi yang diterima oleh anak buahnya.

Apalagi, seperti yang disampaikan dalam jumpa pers KPK, lembaga antirasuah itu mengendus dugaan keterlibatan Menteri Imam Nahrawi terkait skandal akal-akalan penyaluran dana hibah dari Kemenpora terhadap KONI Tahun Anggaran 2018.

“Kami mendesak kepada KPK untuk mengusut tuntas tanpa tebang pilih kasus korupsi yang merugikan negara,” tegasnya.

KPK harus senantiasa menjadi garda terdepan penegakan hukum dalam pemberantasan korupsi di negeri ini. “Kami juga mengajak masyarakat untuk mengawasi dan mengawal kasus ini hingga tuntas,” demikian Tohenda.

Bahkan yang lebih mengejutkan ternyata KPK juga mengembangkan kasus dana hibah Kemenpora ke KONI itu hingga kemana-mana. Termasuk di antaranya menyelidiki hingga dana untuk Asian Games 2018.

“Kami masih dalami siapa saja yang akan terlibat kemudian rangkaiannya kemana,” ujar Ketua KPK Agus Rahardjo.

“Kalau Kemenpora pasti tak hanya dana hibah ke KONI, ada juga yang ke International Olympic Committee (IOC). Ya kami bisa men-trace juga misalnya penggunaan dana Asian Games kemarin ya,” tegas Agus.

Kendati demikian Agus enggan menyampaikannya secara detail mengingat hal itu saat ini tengah dalam penelusuran tim KPK.

“Jadi kami akan telusuri itu. Kami belum bisa melaporkan secara komplit, secara jelas,” katanya.

Sementara Saut mengungkapkan institusinya telah menemukan indikasi-indikasi korupsi menjelang dan saat pergelaran Asian Games 2018.

Hanya saja, menurut Saut, KPK sabar untuk mengusut indikasi korupsi tersebut, lantaran alasan kelancaran event olahraga internasional tersebut.

“Kami sudah melihat indikasi-indikasi (korupsi) waktu itu, tetapi kami mau kelancaran acara (Asian Games 2018),” ujar Saut.

Setelah acara berlangsung, diungkapkan Saut, KPK baru menelusuri kecurigaan-kecurigaan indikasi tersebut. Hasilnya, dilakukan operasi tangkap tangan pada Selasa malam terhadap para pejabat Kemenpora dan pengurus KONI.

“Jadi, kami sudah ikuti, telusuri ini sejak lama,” kata Saut.

Sepertinya OTT kickback dana hibah Kemenpora hanya merupakan pintu masuk bagi KPK untuk membongkar korupsi yang lebih besar. Semua data, semua percakapan, termasuk mutasi rekening dan bukti-bukti lain sudah ada di tangah. KPK tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membongkar semuanya.

Sementara Menpora Imam Nahrowi menyatakan menghormati proses hukum yang dilakukan KPK ihwal kasus dana hibah. Ia masih menunggu kepastian status hukum pegawainya.

Imam mengaku terkejut dan prihatin atas kejadian yang menimpa Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Mulyana. Ia pun meminta maaf kepada semua pihak atas operasi tangkap tangan yang melibatkan pegawainya. “Saya kecewa atas kejadian semalam,” ucapnya di Gedung Kemenpora, Jakarta, Rabu (19/12).

Imam menuturkan belum mengetahui secara pasti dana apa yang menjadi persoalan. Saat ini, kata dia, kementerian masih menunggu proses pemeriksaan yang berjalan di KPK. “Ini soal teknis, saya masih telusuri,” tegasnya.

Dalam waktu dekat, Imam akan menyiapkan pelaksana tugas pengganti Deputi IV. Tujuannya, agar tugas yang menjadi kewenangan Deputi IV tidak terganggu.

Ia sendiri mendukung langkah KPK melakukan OTT atas dugaan penerimaan kickback atas hibah dana KONI.

Imam sendiri sejauh ini belum menjelaskan kemungkinan keterlibatannya, ia bahkan belum mengetahui dana apa yang di OTT KPK.

“Terus terang saya juga belum tahu ini dana yang mana karena setelah nanti saya sudah dapat pemberitahuan biasanya kami akan melihat bagaimana hasil proses dari awal pengajuan proposal, verifikasinya, pencairannya karena ini soal-soal teknis. Karena soal teknis tentu kami akan menunggu. Sabar sebentar. Malam ini pasti ada pengumuman. Dan dari situ kami akan mempercepat langkah kami untuk memberi tahu kepada wartawan,” demikian tutur Imam.

Saat ditanya tugas pokok Deputi IV Kemenpora Mulyana, Imam menyatakan tugasnya mengelola atlet yang berprestasi. Itu sebabnya ia segera menyiapkan personel yang akan mengambil alih tugas Mulyana mengurusi prestasi atlet.

“Jadi kami akan menunjuk pelaksana tugas sampai dengan kemudian petugas-petugas yang harus memproses percepatan penganggaran sekaligus percepatan persiapan 2019,” jelasnya.

Melihat mudahnya KPK mengungkap dan melakukan OTT atas dana hibah Kemenpora kepada KONI, dapat diduga KPK juga akan mudah memastikan terlibat tidaknya Menpora Imam Nahrowi dalam kasus tersebut.

Bahkan melihat pernyataan-pernyataan tegas Agus Rahardjo dan Saut Situmorang, nampaknya penetapan Imam Nahrowi sebagai tersangka hanyalah tinggal waktu saja. Karena isyarat-isyarat ‘keterlibatan yang signifikan’ menjadi titik terang ke arah mana penyidikan kasus ini diarahkan [bersambung].

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here