Nasib Tragis Penemu Terracotta yang Menyingkap Sejarah China

1
1134
Formasi Angkatan Darat Terracotta yang menjaga makam Kaisar Qin selama puluhan Abad / Foto BBC

Nusantara.news, Jakarta – Kini patung prajurit yang terbuat dari tanah liat – atau lebih dikenal dengan nama terracotta – itu sangat dikenal dunia. Harganya pun gila-gilaan. Sepuluh patung terracotta yang sedang dipamerkan di Museum Franklin dihargai 4,5 juta dolar AS.

Tidak mengherankan apabila pemerintah China marah saat ibu jari patung terracotta dicuri seorang pemuda yang aksinya terekam kamera CCTV (Close-Circuit Television Cameras). Kala itu, 21 Desember 2017,  terekam seorang anak muda – Rohana (24) – memasuki ruang pameran “Terracotta Warrior” di Institute of Franklin yang sudah tutup.

Ibu jari prajurit terracotta yang ibu jarinya terpenggal oleh seorang pencuri Amerika/ Foto BBC

Diduga Rohana menggunakan telepon genggam sebagai alat penerang. Dia selanjutnya dia Selfi bersama sebuah patung. Persoalannya, setelah Rohana pergi, ibu jari patung itu hilang. Petugas museum baru mengetahui hilangnya ibu jari pada 8 Januari 2018. Setelah FBI mencermati rekaman kamera CCTV memang diketahui Rohana lah pencuri ibu jari patung itu.

Senin Kliwon (19/2) kemarin, Direktur Pusat Warisan Budaya Shaanxi – organisasi yang meminjamkan terracotta ke Institute of Franklin – Wu Haiyun, mengecam keras kecerobohan panitia penyelenggara. Ke-10 patung yang dipinjamkan itu adalah bagian 8 ribu prajurit tanah liat seukuran manusia yang membentuk formasi Angkatan Darat Terracotta.

“Kami mendesak AS menghukum berat pelakunya. Kami telah mengajukan protes serius terhadap mereka,”kecam Wu Haiyun yang juga mengaku sudah mengirim dua ahli ke AS untuk menilai kerusakan dan memperbaikinya, sekaligus melakukan klaim ganti rugi.

Ditemukan Petani

Terracotta selain menjadi satu di antara ikon pariwisata China, kini juga menjadi benda bersejarah favorit yang sudah dipamerkan di sejumlah museum terkenal di dunia. Tapi sayang, keterkenalan terracotta berbanding terbalik dengan nasib para penemunya. Selain mereka harus kehilangan tempat tinggal, di antara penemunya ada yang mati bunuh diri, dan ada pula yang mati di usia 50 tahun karena tak mampu berobat.

Cerita patung terracotta bermula pada Maret 1974. Kala itu Yang Zhifa – seorang petani – bersama saudara laki-lakinya dan tetangga mereka – Wang Puzhi – sedang menggali sumur di sebuah ladang yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan bus di timur kota Xi’an – ibu kota Shaanxi yang merupakan satu di antara provinsi China.

Saat menggali, sekop yang dihujamkan ke tanah menabrak terracotta. Mereka mengira itu patung Buddha. Beberapa bulan berikutnya, tim arkeologi dan pejabat China berdatangan ke sana. Apa yang ditemukan para petani itu disebut-sebut sebagai penemuan arkeologi terbesar di Abad XX.  Dari penemuan itu tersingkap lebih jelas sejarah Kaisar China pertama – Qin Shi Huang – dari Abad III sebelum Masehi.

Ternyata di hamparan ladang milik petani itu tersimpan situs bersejarah. Pemerintah China yang berada di pengujung akhir Revolusi Kebudayaan di bawah kepemimpinan Mao Zedong itu segera mengambil alih tanah yang dikelola petani penemunya.

Yang Zhifa – seorang petani – bersama saudara laki-lakinya dan tetangga mereka – Wang Puzhi penemu situs terracotta/ Foto BBC

Beruntung, situs itu ditemukan pada 1974 atau menjelang fase terakhir Revolusi Kebudayaan pada 1976. Sebelumnya tahun 1969, pengawal merah secara brutal membinasakan makam bawah tanah Kaisar Ming Wanli (1563 – 1620 M) di luar Beijing. Kala itu tengkorak kaisar dan permai surinya diseret ke pintu makam, dimaki-maki dan dibakar di depan umum. Maklum, Namanya juga pemerintahan komunis yang anti kekaisaran.

Paska revolusi kebudayaan, tepatnya pada 1976, pemerintah China mulai berinvestasi di bidang pariwisata. Kala itu tak kurang dari 4000 patung terracotta diselamatkan. Sejarah China yang sebelumnya bersumber dari catatan literature mulai tersingkap lebih jelas melalui penemuan ribuan patung terracotta yang terkubur bersama Sang Kaisar.

Kehidupan Kaisar

Setelah patung-patung itu ditemukan, sejumlah museum dunia memamerkannya. Pada September 2007, tentara Qin Shi Huang itu berbaris di British Museum. Tercatat 850 ribu pengunjung menghadiri pameran yang berlangsung selama 6 bulan. Hanya saja – BBC mencatat – angka itu masih kalah dibandingkan dengan jumlah pengunjung pameran “Treasures of Tutankhamun” pada 1972 di museum yang sama.

Prajurit Terracotta menyerbu museum London pada 1985/ Foto BBC

Pada pameran 2017 lalu, beberapa patung terracotta tampil bersama 160 karya seni lainnya yang dipinjam dari 32 museum dan lembaga arkeologi China – pada pameran “Age of Empires : Seni China Dinasti Qin dan Han di Museum Seni Metropolitan, New York, AS. Hadirnya terracotta masih menjadi perhatian utama para pengunjung.

Patung-patung para pejuang itu memang istimewa. Mereka dikubur dalam formasi di parit berlapiskan batu bata. Masing-masing wajah patung memiliki karakteristik individual – meski sebenarnya wajah “moustachioed” mereka – berasal dari 10 tipe dasar. Awalnya dilukis dengan warna cerah, biru, pink dan emas. Diperkirakan karena tertimbun di dalam tanah dalam waktu begitu lama warna-warna itu rusak.

Apabila dicermati dari proses pembuatan patung-patung itu – jumlah prajurit dan gudang senjata – mereka dibuat melalui bentuk awal produksi massal. Patung-patung itu juga mempertegas bukti-bukti literature tentang Kaisar Qin Shi Huang – raja muda yang menyatukan China pada tahun 221 SM.

Lukisan Kaisar Qin Shi Huang yang ingin hidup abadi / Foto BBC

Bukan saja menyatukan negara, Qin juga menyatukan huruf China, mata uang, standar timbangan, pembangunan infrastruktur, serta memulai pembangunan “Great Wall” yang juga menjadi ikon pariwisata China lainnya.

Kaisar Qin memang sangat ambisius. Dia ingin hidup kekal. Maka dia mengirim seorang menteri ke luar negeri – sayangnya tidak pernah kembali – untuk mencari ramuan ajaib. Mendapatkan informasi (sesat) bahwa raja-raja Tiongkok kuno bisa hidup 10 ribu tahun karena ramuan cinnabar (merkuri sulfida) – Kaisar itu mengambil secangkir anggur yang dimaniskan dengan madu dan dicampur merkuri.

Alih-alih hidup abadi, Kaisar Qin wafat di usianya ke-49. Sebelum wafat dia sudah menuntaskan pembangunan makam bawah tanah kolosalnya. Kaisar itu percaya, kalau tidak bisa memerintah di dunia dia akan menjadi kaisar hingga akhir zaman di akhirat. Dengan pelindung sekitar 8000 patung prajurit terracotta di hamparan pemakaman yang begitu luas tentunya.

Nasib Tragis Penemunya  

Yang ditemukan para petani di ladang yang digarapnya – sesungguhnya situs makam yang bertahun-tahun menjadi perdebatan para arkeolog – perlu dan tidaknya dibongkar dengan resiko kerusakan. Maka mereka sepakat tetap membiarkan situs itu sambil berharap menemukan teknologi yang tepat untuk membongkarnya.

Setelah makam berhasil dibongkar – sampel DNA tengkorak yang ada di sana ternyata beberapa di antaranya berasal dari Eropa. Diduga mereka berasal dari Yunani yang kala itu dikenal dengan seni pahatnya. Pada Abad V sebelum Masehi orang-orang Yunani sudah mengukir dekorasi “Parthenon” yang memang indah. Tapi patung tentara Kavaleri dan kuda-kudanya hanya ada di China.

Tapi bagaimana nasib 7 petani yang diakui sebagai penemu situs terracotta Kaisar Qin? Mereka harus tetap berjuang untuk bertahan hidup justru setelah menemukan patung-patung itu. Tanah garapan dan tempat tinggal – dengan alasan pengembangan pariwisata – diambil pemerintah. Karena terhimpit kemiskinan, Wang Puzhi – saudara Yang Zhifa – tahun 1997 ditemukan mati mengenaskan dengan cara gantung diri.

Dalam waktu 3 tahun, Yang Wenhai dan Yang Yanxin, hidup sebagai pengangguran bahkan tidak mampu membiayai pengobatan atas sakitnya akhirnya mati di usia 50-an tahun. Kepada surat kabar “South China Morning Post” pada 2007, Liu Xiquin – istri Yang Quanyi – mengungkapkan dirinya, suami dan saudaranya yang masih tersisa takut mendapatkan kutukan. “Mungkin (patung-patung itu) sebaiknya tetap sembunyi di bawah tanah,” ucapnya.

Dengan kata lain – ketujuh petani yang menemukan terracotta itu telah menjadi korban kekejaman pemerintah China yang kini setiap tahunnya menikmati devisa pariwisata dari patung-patung yang ditemukannya. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here