Natal dan Kerukunan Substansial

0
122

PERAYAAN Natal 2017 berjalan dengan aman. Kekhawatiran sejumlah kalangan, terutama aparat keamanan, tentang potensi gangguan keamanan selama Hari Raya Natal, tidak menjadi kenyataan. Di sejumlah pusat-pusat peringatan Natal, yang terlihat justru masyarakat yang bukan beragama Nasrani, bekerja sama menjaga keamanan dan kekhusyukan perayaan Natal. Tradisi ini sudah terbentuk sejak puluhan tahun lalu.

Tradisi ini makin mengukuhkan kesan bahwa hubungan antarpemeluk agama di Indonesia sebenarnya sangat mulus.

Amannya perayaan Natal tidak saja hal yang berharga bagi umat Nasrani. Tetapi juga sangat bernilai bagi bangsa ini. Tentu saja tidak hanya keamanan Natal, namun juga keamanan dalam perayaan hari-hari besar keagamaan lainnya. Terganggunya keamanan hari raya keagamaan membuat umat masing-masing agama tidak bisa merayakannya dengan tenang dan tenteram.

Amannya perayaan Natal perlu digarisbawahi. Bahwa konflik atau aneka bentuk salah komunikasi lainnya antarpemeluk agama, kalau ditelusuri, sama sekali nihil dari latar belakang agama.

Konflik-konflik itu sebetulnya berlatar belakang sosial-ekonomi-politik, lalu sengaja dilekatkan stigma agama, sehingga konflik mempunyai daya ledak tinggi, serta bisa dipelihara dalam jangka waktu yang lama. Jika muncul istilah konflik SARA, sebenarnya itu adalah konflik sosial biasa yang dibeli label SARA.

Umat beragama di Indonesia mempunyai ghirah dan sentimen yang tinggi terhadap simbol-simbol keagamaannya, meskipun secara pribadi mereka bukanlah orang yang taat menjalankan ibadat agamanya. Orang Islam, meski jarang shalat, akan tersulut emosinya mendengar ada mesjid diganggu. Orang Nasrani, kendati cuma sesekali datang ke gereja, akan segera naik darahnya mendengar ada gereja dilecehkan.

Kondisi emosional seperti itulah melahirkan kondisi rentan, karena kehidupan umat pemeluk agama di Indonesia dikelilingi oleh para pemimpin politik yang hampir semuanya berakal pendek.

Pemimpin yang tak punya cukup kreativitas untuk membangun soliditas pendukung politiknya, kecuali memanfaatkan sentimen SARA. Mereka senantiasa menggunakan sentimen agama untuk menjadi daya tarik politiknya. Padahal program dan visi mereka sama sekali jauh dari kepentingan memperjuangkan nilai-nilai agama. Agama bagi politisi macam ini hanyalah alat meraih dukungan, sekaligus senjata melawan jika kepentingan mereka terganggu. Memang ada satu-dua tokoh politik dengan ideologi agama yang kuat, dan mempunyai sikap sosial yang santun dan universal.

Hubungan antarumat beragama di Indonesia ibarat sebuah kristal kaca. Indah berkilauan, sehingga memukau bangsa lain. Tapi sekaligus juga mudah pecah.

Nah, jika dikatakan, hubungan antarpemeluk agama di Indonesia bagaikan api dalam sekam, itu mesti dipahami dalam konteks seperti kristal tadi. Dia akan indah, selama tak ada yang menyentuh. Pemerintah, para tokoh masyarakat, dan pemuka dari kedua agama, sudah berupaya keras menciptakan hubungan antarumat beragama yang harmonis. Hasilnya memang sudah terlihat. Hubungan pemeluk agama Islam dan Nasrani berhasil dibina dengan baik, setidaknya begitulah yang terlihat di permukaan.

Dikatakan “di permukaan” karena hubungan baik itu baru sebatas mencoba menahan diri terhadap isu-isu sensitif. Di bawah permukaan, isu-isu sensitif itu masih belum sepenuhnya padam di masing-masing pemeluk. Itu sebabnya, ketika ada upaya provokasi, keduanya dengan mudah terpancing dan menjadi agresif.

Provokasi itu tidak akan bersahutan dengan nilai agama, tetapi dengan kemiskinan, ketertinggalan dan kebodohan mayoritas bangsa ini. Selama tiga hal itu belum bisa dientaskan, apinya tidak akan pernah padam, dan bahkan sewaktu-waktu bisa berkobar jika ada lagi yang menyiramnya dengan minyak.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here