Nawa Petaka Olahraga Nasional

0
199

Nusantara.news, Jakarta – Indonesia dengan jumlah penduduk 266,1 juta jiwa mengukir prestasi terburuk sepanjang perhelatan kompetisi olahraga se-Asia Tenggara, SEA Games. Indonesia menempati urutan ke-5 dari 11 negara peserta dengan perolehan 38 medali emas, 63 perak dan 90 perunggu.

Bahkan prestasi Indonesia kalah dengan Singapura, sebuah negara yang tidak lebih besar dari Jabodetabek dengan penduduk sekitar 7 juta jiwa. Negara kecil itu menempati posisi ke-4. Di atas Singapura ada Vietnam, Thailand dan Malaysia yang tampil sebagai juara umum. Ini adalah prestasi terburuk Indonesia yang sudah memenangi 10 kali juara umum sepanjang 21 kali penyelenggaraan SEA Games .

Padahal, sejak keikutsertaan Indonesia di Sea Games pada 1977, pada era kepemimpinan Soeharto, Indonesia tampil dominan dengan menyabet 9 kali juara umum dari 11 kali penyelenggaraan, dan di era Reformasi hanya 1 kali juara umum dari 10 kali penyelenggaraan. Indonesia menjadi juara umum saat Jakarta-Palembang didaulat menjadi tuan rumah pada 2011. Sepanjang keikut-sertaannya sejak 1977 dari 21 penyelenggaraan Indonesia sudah 4 kali menjadi tuan rumah.

Bahkan Indonesia pernah 2 kali menjadi juara umum 4 kali berturut-turut pada 1977, 1979, 1981 dan 1983. Setelah SEA Games 1985 juara umum dimenangkan tuan rumah Thailand, Indonesia kembali mendominasi 4 kali juara umum secara berturut-turut pada 1987, 1989, 1991 dan 1993. Terakhir kali juara umum SEA Games era Orde Baru pada 1997.

Artinya, sepanjang 11 kali SEA Games era Orde Baru, hanya dua kali Indonesia gagal menduduki singgasana juara umum dan berada di posisi kedua. Sedangkan dari 10 kali penyelenggaraan SEA Games era Reformasi, Indonesia hanya sekali juara umum, 4 kali menduduki peringkat ke-3, 3 kali menduduki peringkat ke-5 dan 2 kali menduduki peringkat ke-4.

Sebenarnya sudah sejak awal reformasi prestasi olahraga nasional cenderung menurun dan sempat bangkit pada 2011 karena kebetulan Indonesia sebagai tuan rumah. Setelah itu selama dua kali SEA Games kembali terkapar di urutan ke-5. Tapi antisipasi atas merosotnya prestasi tidak segera dilakukan sehingga pada Agustus 2017 ini Indonesia menorehkan sejarah terburuk sejak keikut-sertaannya pada SEA Games. Kado ulang tahun kemerdekaan yang paling pahit tentunya.

Paling tidak ada 9 persoalan mendasar yang membuat prestasi Olahraga nasional kembali terjungkal, bahkan pada SEA Games Kuala Lumpur kali ini terbenam di lumpur yang dalam karena untuk pertama-kalinya dalam sejarah Indonesia meraih medali emas di bawah empat puluh keeping. Ke-9 persoalan yang menjadi mala-petaka Olahraga Nasional, atau Nawa Petaka Olahraga Nasional itu meliputi :

  1. Gagal dalam pembinaan. Ini tidak terlepas dari pertanggung-jawaban Kementerian Pemuda dan Olahraga yang memiliki tugas, pokok dan fungsi mengembangkan prestasi olahraga nasional. Selain Kemenpora juga ada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olahraga Indonesia (KOI) yang bertugas melakukan pembinaan ke setiap Cabor, dan tentu saja Ketua Umum dan Sekjen dari masing-masing cabang olahraga (cabor) yang diduga tidak mengerti seluk-beluk, jiwa dan karakteristik cabor yang dipimpinnya.
  2. Tidak memiliki taktik dan strategi yang jitu dalam mengedepankan cabor yang menyediakan banyak medali seperti renang, angkat besi, karate, taekwondo, silat, wushu, senam, atletik, senam dan lainnya. Pembinaan di sejumlah cabor yang menyediakan banyak medali bisa dibilang mati suri, kecuali angkat besi.
  3. Organisasi-organisasi olahraga, sejak KONI hingga Asosiasi-asisiasi Cabang Olahraga menjadi pertarungan politik tersembunyi sehingga tidak diisi oleh insan olahraga yang berkompeten, melainkan justru yang lebih terlihat menonjol adalah konflik internal di tingkat kepengurusan sejak tingkat pusat hingga daerah.
  4. Kompetisi di tingkat lokal hingga nasional sebut saja Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga Pekan Olahraga Daerah diduga hanya berorientasi kepada kebanggaan semu kepala daerah yang bagaimana dengan segala cara menjadi juara umum sehingga membunuh bibit-bibit atlit potensial dan merusak pembinaan dan regenerasi. Tujuan diselenggarakannya kompetisi nasional dan lokal yang sesungguhnya menjaring calon atlit berprestasi tidak terjadi.
  5. Tidak tersedianya sumber pembiayaan yang memadahi baik dalam hal pembinaan, pelatihan maupun penyelenggaraan event-event kompetisi, khususnya untuk cabor yang kurang favorite seperti beberapa Cabor beladiri, angkat besi dan lainnya yang sesungguhnya potensial menyumbangkan banyak medali.
  6. Minimnya pembinaan secara dini, baik di lingkungan sekolah, masyarakat maupun asosiasi dari setiap cabor itu sendiri. Kalau pun ada kelas ekstra-kurikuler di sekolah biasanya olahraga-olahraga favorit seperti sepakbola, bola voli, basket yang hanya menyumbang sedikit medali.
  7. Tidak berfungsinya lembaga pendidikan seperti Fakultas Pendidikan Olahraga dalam mencetak guru olahraga datau pelatih-pelatih andal di setiap cabor, bahkan di setiap cabor juga minim dalam hal pembinaan atlet
  8. Maraknya kebiasaan korupsi baik di tingkat birokrasi yang mengurus olahraga maupun kepala daerah dan jajaran yang menjadi kuasa angaran pembinaan Olahraga, hingga di tingkat pelatihan di setiap cabor diduga juga turut andil merusak Olahraga nasional.
  9. Tidak jelasnya masa depan atlit dalam mengakses sumber penghidupan setelah tidak lagi menjadi atlit, padahal menjadi atlit itu usia produktifnya 17 hingga 35 tahun, turut merusak motivasi calon-calon atlit berbakat untuk menjadi atlit. Memang, penerima medali emas PON, SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade menerima beragam bonus yang memadai, tapi bagaimana dengan atlit-atlit lainnya?

Demikian Nawa Petaka Olahraga Nasional sebagai hasil riset dan pengamatan Nusantara.news atas hancurnya prestasi Olahraga Nasional yang sebenarnya sudah terdeteksi sejak awal reformasi.

Untuk memulihkan prestasi olahraga nasional memang diperlukan pembenahan besar-besaran, khususnya di lingkungan birokrasi olahraga dan pengurus-pengurus Cabor yang beberapa di antaranya lebih sibuk berurusan dengan konflik internal.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here