Negara-negara G7 Desak Rusia Tinggalkan Suriah

0
94
Rex Tillerson dan Boris Johnson dalam pertemuan menteri luar negeri negara-negara G7 di Lucca, Italia (Foto:Reuters)

Nusantara.news, Lucca, Italia – Setelah Amerika Serikat menyerang Suriah dengan tuduhan penggunaan senjata kimia kepada warga sipil, kini giliran Rusia, sekutu Suriah, didesak untuk meninggalkan Suriah dan menarik dukungannya terhadap negara Bassar Al-Assad itu.

Para menteri luar negeri dari negara-negara G7 yang dipelopori Menlu AS dan Inggris mendesak Rusia agar meninggalkan Suriah. AS dan Inggris mengatakan, bahwa masih ada kesempatan untuk meyakinkan Moskow mengakhiri dukungannya terhadap Presiden Suriah Bassar Al-Assad.

Para menteri luar negeri negara-negara G7 mengadakan pertemuan di Italia pada Minggu hingga Senin (9-10/4), menyikapi serangan AS ke Suriah minggu lalu.

Menlu Inggris Boris Johnson mengatakan, pihaknya mendukung serangan AS ke Suriah, dan menekankan agar Rusia menarik dukungan terhadap Suriah sebagai “pembersihan” reputasi Rusia, karena Suriah terlibat penggunaan senjata Kimia.

Johnson juga menyarankan dalam forum G7, agar mendorong dijatuhkannya sanksi internasional kepada Rusia jika menolak untuk ‘mengubah arah’ terkait Suriah.

Menlu AS Rex Tillerson dijadwalkan melakukan perjalanan ke Moskow pada hari Selasa (11/4), setelah dua hari melakukan pertemuan negara-negara G7 di kota Tuscan Lucca yang dihadiri oleh Italia, Jerman, Perancis, Inggris, Jepang dan Kanada.

Dalam forum tersebut Tillerson mengatakan, AS tetap mendukung peta jalan internasional yang dikembangkan di Jenewa tahun 2012 untuk mengakhiri konflik di Suriah, yang pada waktu itu baru berlangsung setahun lebih. “Dan sejak itu telah menjadi bencana kemanusiaan yang sangat besar,” kata Tillerson, sebagaimana dilansir Aljazeera, Selasa (11/4).

Pernyataan Jenewa menyerukan UUD baru dan pemilu di Suriah, tetapi tidak menyebut tentang nasib Presiden Bashar al-Assad.

G7 juga mengundang para menteri luar negeri dari Turki, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Jordan dan Qatar untuk duduk bersama pada hari Selasa (11/4) untuk membahas soal Suriah. Semua negara menentang aturan Assad.

Tillerson mengatakan ISIS adalah fokus sekarang ini, dan masa depan Assad akan diserahkan kepada rakyat Suriah sendiri.

“Saya kira apa yang dikehendaki Amerika dan sekutu-sekutunya adalah memberdayakan rakyat Suriah untuk menentukannya,” kata Tillerson, sebagaimana dikutip dari CBS News, Minggu (9/4).

“Kita sudah melihat bagaimana pergantian rezim di Libya dan seperti apa kekacauan yang terjadi,” katanya.

“Apa yang kita coba lakukan adalah untuk memberikan mandat untuk Tillerson dari kami sebagai negara Barat, Inggris, dan semua sekutu kami di sini, untuk mengatakan kepada Rusia ‘ini adalah pilihan Anda: bersama dengan orang itu, tetap dengan tiran itu, atau bekerja sama dengan kami untuk menemukan solusi yang lebih baik’,” kata Johnson setelah pertemuan dengan Menlu AS tersebut.

Kelompok G7 (Grup 7) adalah sebuah kelompok negara yang terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris Raya, dan Amerika Serikat. Uni Eropa juga diwakili di G7. Negara -negara tersebut merupakan tujuh negara ekonomi maju utama, seperti dilaporkan IMF: Negara-negara G7 mewakili lebih dari 64% kekayaan bersih secara global (USD 263 triliun).

Terakhir, KTT G7 yang ke-41 diadakan di hotel Schloss Elmau di Krün, Jerman pada 7 – 8 Juni 2015.

Sementara itu, Rusia telah membantah tuduhan bahwa rezim Assad telah menggunakan senjata kimia untuk melawan rakyatnya sendiri. Rusia mengatakan, tidak akan memutus hubungan dengan Assad yang telah bekerja sama selama 6 tahun terakhir untuk memerangi kelompok pemberontak. Perang Suriah telah menyebabkan negara itu hancur dan separuh penduduknya menjadi pengungsi.

“Kembali ke kesalahan awal dalam upaya mengatasi krisis Suriah. Dengan mengulang mantra ‘Assad harus mundur’ tidak akan membantu (Suriah) keluar dari masalah,” demikian dikatakan Dmitry Peskov, juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, pada Senin (10/4).

Perdana Menteri Inggris Theresa May juga mendukung serangan AS terhadap Suriah. Dalam pembicaraan telepon dengan Presiden AS Donald Trump pada Senin (11/4), pemimpin Inggris dan AS itu sepakat bahwa masih ada peluang untuk meyakinkan Moskow agar mengakhiri dukungan untuk Presiden Suriah.

“Perdana Menteri dan Presiden setuju bahwa kesempatan masih untuk membujuk Rusia yang tidak lagi dalam kepentingan strategis dengan Assad,” kata juru bicara PM Inggris di Downing Street.

Lebih jauh, Inggris bahkan menginginkan sanksi dijatuhkan kepada komandan-komandan militer Rusia di Suriah.

“Amerika Serikat sudah mengenakan sanksi tambahan, dan kita akan membahas kemungkinan sanksi lebih lanjut terhadap beberapa tokoh militer Suriah dan tokoh militer Rusia yang terlibat dalam koordinasi upaya-upaya militer Suriah yang  terkontaminasi perilaku mengerikan rezim Assad,” kata Menlu Inggris Boris Johnshon sebagaimana dikutip BBC. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here