Negara Terhormat Tak Akan Tunduk Ancaman Trump Soal Yerusalem

1
285
Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley yang mengingatkan diberi tugas Presiden Trump untuk mencatat negara-negara pendukung resolusi, di Washington, Kamis (21/12) atas Rabu dini hari WIB

Nusantara.news, Washington – Donald Trump mengancam akan mencabut bantuan kepada negara-negara yang mendukung resolusi PBB. Tapi sejumlah negara pendukung resolusi seperti Turki balik menantang, negara terhormat tidak akan tunduk pada ancaman itu.

Konflik Palestina-Israel semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, bahkan telah memerintahkan Kementerian Luar Negeri untuk proses pemindahan keduataan AS di Israel, dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Langkah itu meskipun mendapat sambutan hangat dari warga Yerusalem Barat namun mendapatkan kecaman dari sejumlah negara, termasuk sekutu AS di Eropa dan negara-negara dunia ketiga yang merasa telah dibantunya.

“Mereka mengambil jutaan dollar dan bahkan miliaran dollar. Mereka memberi suara yang menentang kami,” keluh Trump kepada para wartawan di Gedung Putih. “Biarkan mereka bersuara menentang kami. Kami akan menghemat banyak. Kami tidak peduli,” lanjutnya.

Komentar Trump yang baru memenangkan RUU Pajak di senat negaranya itu disampaikan menjelang pemungutan suara di Majelis Umum PBB, Kamis (21/12) ini. Resolusi itu memuat penolakan terhadap pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley juga ikut-ikutan mengintimidasi perwakilan 193 negara di Majelis Umum PBB tentang Presiden Trump yang memintanya melaporkan negara yang menentang keputusan AS pada pemungutan suara. “Presiden juga membuat jelas dukungan atas status quo (keadaan saat ini) dari lokasi-lokasi suci Yerusalem,” ucap Haley.

Ancaman Haley yang diucapkan lewat siaran Pers dan Twitter itu dianggap oleh Menteri Luar Negeri Palestina Riyadh al-Maliki dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu sebagai intimidasi. “Kita melihat AS yang ditinggal sendirian kini beralih mengancam. Tidak ada negara terhormat dan bermartabat yang akan tunduk pada tekanan ini,” tuding Cavusoglu.

Memang, status Yerusalem secara keseluruhan yang sejak awal diklaim sebagai ibu kota Israel mendapatkan penentangan dari dunia Internasional. Sebab Negara Palestina juga menetapkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negaranya di masa depan. Yerusalem Timur yang sebelumnya dikuasai Yordania jatuh ke tangan Israel sejak Perang Timur Tengah 1967.

Mengutip kesepakatan perundingan perdamaian di Oslo tahun 1993, status Yerusalem ditetapkan status quo hingga terjadinya kesepakatan dalam tahap berikut perundingan damai Israel-Palestina.

Hari ini, tercatat 193 anggota Majelis Umum PBB akan menggelar sidang khusus yang tidak biasa atas permintaan negara-negara Arab dan Islam yang mengecam keputusan Presiden Trump yang mengubah kebijakan AS selama beberapa dekade.

Resolusi ini digelar atas permintaan Palestina setelah AS memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menegaskan setiap keputusan mengenai status Yerusalem “tidak berlaku dan ditiadakan”. PBB juga sudah menyerukan kepada negara-negara anggota untuk menahan diri tidak memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Namun ancaman Trump itu diragukan oleh diplomat senior AS akan dilaksanakan. Ancaman itu hanya upaya Trump mengamankan keputusannya bagi Israel di PBB, namun diplomat itu meragukan Washington benar-benar akan mengurangi bantuan, sebut saja kepada Mesir yang turut mensponsori Resolusi Majelis Umum setelah Dewan Keamanan PBB gagal mengambil keputusan.

Yang pasti posisi AS akan diisolasi di Majelis Umum PBB saat mayoritas negara-negara di dunia menolak keras keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Palestina. Sejauh ini kedaulatan Israel atas Yerusalem tidak diakui oleh mayoritas negara-negaradi dunia. Dari beberapa negara yang memiliki hubungan diplomatic dengan Israel, hampir semuanya tetap mempertahankan kantor keduataannya di Tel Aviv.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here