Nestapa Dunia Penelitian di Hari Kemerdekaan

0
66

Nusantara.news, Jakarta – Di hari kemerdekaan ini, sebuah bangsa masih menempatkan para peneliti dan dunia riset di sudut yang memprihatinkan. Kekayaan Indonesia yang melimpah: sumber daya hayati, energi, dan mineral, namun tetap saja tinggal sebatas ‘potensi’. Ketersediaannya belum tergaraf dan bermanfaat luas, misalnya bagi pengobatan dan perindustrian. Potensi alam yang ‘mangkrak’ itu, hanya bisa digali dengan bermula hadirnya para peneliti. Di sanalah bekerjanya sejumlah penelitian dan ujicoba, agar kita mengenali lebih detail peruntukan potensi tersebut.

Memang, kesadaran para pemimpin negeri memandang penting penelitian itu masih ada. Namun tak tergambar pada seperangkat kebijakan, abai dalam tindakan. Nyatanya, hingga kini wajah dunia penelitian terus dirundung nestapa.

Sesaat lalu,  wajah penelitian tampak berbinar, ketika salah seorang mantan kepala negara berpidato menawarkan harapan. Di sebuah dialog kebangsaan yang dihelat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pada 15 Agustus 2017, Presiden kelima RI Megawati sekonyong-konyong mengatakan: “Tidak ada negara yang besar tanpa ditopang dengan badan penelitian yang kuat. Oleh karena itu lembaga penelitian harus diperkuat. Salah satunya dengan meningkatkan anggaran penelitin guna kepentingan bangsa. Jadi diminta saja gitu lho, 2,5 persen dari APBN, karena ini penting”.

Pernyataan Megawati itu tentu saja baik dan benar. Baik, karena bisa membesarkan hati para peneliti di tengah ceteknya dukungan negara pada bidang penelitian. Benar, sebab hampir semua negara-negara besar di dunia menjunjung tinggi kerja penelitian.

Pun begitu, ucapan Megawati juga tak lebih sekadar retorika, sebagaimana yang lazim diucapkan kebanykan elite di negeri ini. Perkataan seringkali berkebalikan dengan perbuatan. Sejak zaman republik ini berdiri hingga sekarang, kecuali tahun 1980 – 1990 saat Presiden B.J Habibie menjadi Menristek, dunia penelitian tetap dipandang sebelah mata. Bahkan oleh para pemangku kuasa sekalipun.

Karena pidatonya itu, publik lantas bertanya. Apakah Megawati menunjukkan keberpihakan yang sama terhadap penelitian ketika menjadi presiden? Bukankah kebijakan dan alokasi anggaran penelitian di masanya tak seindah pidatonya? Anggaran penelitian tetap di posisi nol koma, derajat lembaga riset juga tak kunjung membaik.

SBY pun demikian, menurut catatan Dewan Riset, selain anggaran nol koma untuk penelitian, di masa pemerintahannya justru diperparah dengan penarikan dana honor untuk peneliti sejak 2013. Yang artinya mulai 2013, peneliti yang bekerja di institusi pemerintah tak mendapatkan honor.

Di era Jokowi, APBN untuk penelitian masih nol koma, bahkan harus berbagi anggaran sejak kementerian riset dan teknologi ditambahkan degan pendidikan tinggi. Sehingga sejak 2016, anggaran penelitian di masa pemerintahan yang diusung PDI-P dan koalisinya ini, kembali dipotong menjadi 0,2 persen.

Melihat sedikit ke negara lain, mungkin agak mencengangkan melihat anggaran riset yang luar biasa, Israel 4,28 persen, Finlandia 3,96 persen, Swedia 3,62 persen, Singapura 2,72 persen, Cina 1,7 persen, dan tak ketinggalan Malaysia yang bahkan mengalokasikan sekitar 30 persen dari anggaran pendidikanya untuk pengembangan penelitian perguruan tinggi dan koneksi dengan industri.

Di Indonesia, anggaran di atas 1 persen, baru terjadi di bawah Habibie pada saat menjabat Kemenristek. Di luar itu, mulai era Gus Dur, Megawati, SBY, hingga Jokowi, anggaran untuk penelitian turun terus hingga di titik terendah. Fasilitas penelitian pun serba terbatas dan karena itu belum memungkinkan untuk melakukan inovasi-inovasi penting. Hal ini jelas menunjukkan dukungan pemerintah terhadap penelitian sangat minim. Sebab, bidang penelitian dianggap sesuatu yang tidak memberikan imbal balik yang konkret.

Padahal ketika memutuskan menjadi peneliti, jalan hidup mereka tidaklah ringan. Mereka akan berkutat di dalam laboratorium yang kaku, tenggelam di antara tumpukan buku, dan kerap bekerja di ‘dunia yang sepi’. Di lapangan, penelitian juga bukan kerja yang nyaman: Tidur di tenda, naik turun bukit, keterbatasan alat. Penuh kedaruratan. Seorang peneliti sering sulit menemukan kendaraan yang layak, makanan dan minuman yang memenuhi kebutuhan energinya. Bahkan di tempat-tempat tertentu, mereka harus tahan tak mandi dan menghemat air minum karena ketersediaan air terbatas.

Kerja berat peneliti itu makin menyesakkan dada karena di saat bersamaan gajinya amat kecil (sekitar 4-5 juta per bulan), jauh dibandingkan negara lain, bahkan negeri jiran Malaysia mematok gaji peneliti 38 – 45 juta per bulan. Praktis, penjadi peneliti di negeri ini sulit menjadi kaya raya. Penghargaan terhadap mereka dan hasil karyanya, pun jauh dari layak.

Masalah-masalah seperti ini tak kunjung teratasi. Akibatnya sudah diduga: Minat kepada kerja penelitian menurun. Dunia penelitian bergerak lambat, seperti berjalan di titian. Dampak lebih lanjut, Indonesia miskin inovasi, terobosan, bahkan sekedar langkah maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lebih memilih menjadi konsumen abadi negara-negara maju.

“Surga” di Negeri Orang, “Neraka” di Negeri Sendiri

Buruknya fasilitas dan lemahnya keberpihakan negara, tak pelak membuat para peneliti banyak yang menuju “surga” di negeri orang, karena “neraka” di negeri sendiri. Para ilmuwan tersebut memilih berkarya di luar negeri karena pertimbangan karier yang lebih bagus dan lebih dihargai. Secara finansial lebih terjamin bagi mereka bekerja di luar negeri. Akhirnya, mereka lebih memilih bekerja dan menetap di sana.

“Mengapa mereka tidak pulang? Mengapa tidak bekerja saja di Tanah Air? Karena kalau pulang ke sini tidak ada lapangan kerjanya. Mau ngapain di sini ilmunya tak terpakai, dia kerja lain, realistis saja,” ujar B.J. Habibie beberapa waktu silam.

Menurut Habibie, salah satu keputusan mereka hijrah ke luar negeri lantaran kebijakan pemerintah selama ini yang lebih gemar impor produk, yang sebenarnya bisa diciptakan sendiri oleh putra-putri Indonesia. Mereka bukan pengkhianat bangsa, darahnya masih untuk merah putih. Hanya saja, pintu yang selayaknya bagi mereka untuk pulang tak pernah bisa dihadirkan. Mereka butuh tempat, peralatan, fasilitas, dana, pengakuan, dan kemudahan di dalam negeri demi melapangkan penelitianya. Demi bangsa. Jika tak begitu, ilmu mereka lekas tumpul, karya penelitiannya layu sebelum berkembang. Namun di sisi lain negara belum berdaya, tak punya uang pula. Apa boleh buat?

Para peneliti Indonesia yang sukses berkarya di luar negeri

Nyatanya, potensi dan karya para peneliti tanah air banyak yang mencapai sukses, bahkan menempat posisi puncak di sebuah perusahaan. Mereka adalah para pewaris jejak Habibie yang menuai decak kagum dan bersinar namanya di luar negeri karena sejumlah penelitian yang mahapenting.

Sebut saja, Josaphat T.S Sumantyo, Penemu Radar 3 Dimensi. Ratusan paten milik Josh tersebar di 118 negara di dunia. Karya Josh di masa depan akan diaplikasikan di bidang telekomunikasi, transportasi, penginderaan jarak jauh, kesehatan maupun militer. 1200 unit Radar cuaca buatan Josh akan digunakan oleh perusahaan Jepang Weathernews Corporation untuk mengirimkan informasi prediksi cuaca 3 Dimensi. Informasi ini nantinya juga digunakan untuk navigasi pesawat, kapal (alat transportasi massa) dengan lebih akurat. Josh juga membuat radar anti bajak laut bagi kapal-kapal skala besar Jepang, maupun radar-radar untuk mobil yang melewati daerah bersalju. Namun sayangnya, bukan Indonesia yang memanfaatkan riset Josh, justru negeri Jiran lah yang menikmati hasil penelitian ini.

Kemudian Muhammad Arief Budiman, yang menjadi periset utama di Orion, salah satu perusahaan riset bioteknologi terkemuka di Saint Louis, Missouri, Amerika Serikat. Jabatannya: Kepala Library Technologies Group. Menurut BusinessWeek, ia merupakan satu dari enam eksekutif kunci perusahaan genetika itu. Ia juga menjadi anggota American Society for Plant Biologists dan—ini lebih bergengsi baginya karena ia ahli genetika tanaman—American Association for Cancer Research.

Selain itu, ada Prof Dr. Khoirul Anwar, pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) . Itulah yang mengantarkan alumnus Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung tersebut kini menjadi asisten profesor di JAIST, Jepang. Dia mengajar mata kuliah dasar engineering, melakukan penelitian, dan membimbing mahasiswa. Selain itu, ia kini bekerja di Nara Institute of Science and Technology.

Prestasi membanggakan juga ditorehkan Profesor Dr. Ken Kawan Soetanto. Dia berhasil menggondol gelar profesor dan empat doktor dari sejumlah universitas di Jepang. Lebih hebatnya, puncak penghargaan akademis itu dicapainya pada usia 37 tahun. ia sudah mematenkan 31 penemuannya, 29 di Jepang, dua di AS, untuk bidang interdisipliner ilmu elektronika, kedokteran, dan farmasi. Sebegitu terkenalnya Soetanto di Jepang, oleh mahasiswanya ia memiliki metode khusus mengajar yang diberi nama “Metode Soetanto” atau “Efek Soetanto”.

Contoh terakhir, Andreas Raharso. Saat ini ia menduduki CEO pada sebuah lembaga riset global Hay Group. Hay Group mempunyai jaringan di hampir belahan dunia dan berkantor pusat di Amerika. Klien dari Hay Group ini kebanyakan adalah para pemimpin dunia seperti AS, Perancis, dan Inggris. Jabatan yang diraih Andreas cukup fenomenal, karena merupakan satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki posisi puncak. Selama ini jabatan itu didominasi warga Amerika dan Eropa.

Tentu masih banyak para peneliti Indonesia di luar negeri yang berada di puncak kejayaan. Kisah mereka seolah mengulang reputasi B.J. Habibie. Berkat penelitian B. J. Habibie, di dalam negeri berdiri Industri Pesawat Terbang Nadionsl (IPTN). Marwah Indonesia di pentas dunia pun terdongkrak.

Kejeniusan Habibie ini juga berhasil menemukan letak titik awal retakan atau crack propagation point. Perhitungan yang dilakukan beliau sangat detail, bahkan perhitungannya sampai tingkat atom. Ini adalah penemuan yang sangat besar di dunia penerbangan. Teori yang dikemukakan Pak Habibie ini disebut teori Crack Progression atau disebut dengan “theory of Habibie”. Dari sini ia disebut “Mr. Crack”. Penelitiannya ini, berdampak besar bagi berat pesawat yang berkurang hingga 10%. Bahkan, berat pesawat bisa berkurang hingga 25% setelah material kompsit buatan Habibie digunakan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here