Nilai Tukar dan Luas Lahan Pertanian Kota Malang Menurun, Kesejahteraan Petani Terancam

0
407

Nusantara.news, Kota Malang – Asumsi yang menyatakan bahwa pembangunan yang mengarah pada industri dan jasa cenderung meminggirkan sektor pertanian boleh jadi benar. Kota Malang merupakan salah satu contoh nyata dari asumsi tersebut.

Gencarnya pembangunan perumahan dan sektor industri di kota ini memang cukup pesat sejak beberapa tahun terakhir ini. Sementara itu, proporsi penduduk yang bekerja di sektor pertanian di Kota Malang jumlahnya tidak lebih dari setengah persen.

Padahal, di masa lalu Kota Malang merupakan wilayah yang secara geografis lebih cocok untuk pertanian, perkebunan dan holtikultura. Sejak lama holtikultura  menjadi icon Kota Malang.

Menurunya Lahan Pertanian dan Nilai Tukar Petani

Peneliti Research Group Geoinformatics yang juga dosen Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Fatwa Ramdani dalam risetnya yang bertajuk “Aplikasi Ilmu Geoinformatika: Memonitor Transformasi Wajah Kota Malang dalam Periode 20 Tahun dari Satelit Observasi Bumi” menjelaskan bahwa  luas lahan pertanian, tubuh air, dan vegetasi di Kota Malang mengalami penurunan menjad 30 persen pada 2017

Dalam penelitiannya, pihaknya juga mengungkapkan bahwa penggunaan lahan dan pembangunan Kota Malang tidak memiliki arah yang jelas. “Pola perubahan penggunaan lahan di Kota Malang bergerak ke segala arah, yakni tidak ada keteraturan dalam orientasi pembangunan,” ungkapnya.

Sumber: Data terakhir BPS, Survei Angkatan Kerja Nasional 2014

Ramdani menjelaskan, dari hasil penelitiannya didapatkan informasi bahwa pada tahun 1997 di wilayah Kota Malang kawasan yang terbangun oleh struktur buatan manusia mencapai luas 2.799,2 Ha.

Luasan struktur tersebut merupakan 37 persen dari luas Kota Malang. Sementara itu pada tahun yang sama didapatkan informasi bahwa terjadi pembukaan lahan skala besar di Kota Malang seluas 1.285,65 Ha.

“Pada tahun 1997 terjadi pembukaan lahan dalam skala besar guna pembangunan wilayah pemukiman baru, dan lahan yang diakuisisi banyak dari lahan pertanian,” kata Ramdani.

Sebelumnya luasan lahan pertanian, tubuh air, dan vegetasi di Kota Malang pada tahun 1997 adalah 44% dari luas kota. Namun, pada tahun 2017, luas lahan pertanian, tubuh air, dan vegetasi menurun menjadi 30%.

Dengan demikian, luasan struktur buatan manusia meningkat hampir 2 kali lipat. Luasan struktur buatan manusia kini menjadi 4.751,5 Ha atau sekitar 64% dari luas total keseluruhan Kota Malang.

Dari data satelit terakhir bertanggal 5 Februari 2017 (Sentinel-2) aktifitas perubahan alih fungsi lahan masih dapat terlihat dari lahan pertanian yang terbuka dan akan dijadikan cluster pemukiman. Ada 2% lahan terbuka atau seluas 210 Ha di kota ini.

Penelitian Ramdani menggunakan ilmu geoinformatika. Data yang diperoleh dalam penelitian tersebut berdasarkan instrumen satelit observasi bumi Landsat 5 TM (milik Amerika Serikat), Sentinel-2 (milik Uni Eropa), algoritme SAM (Spectral Angle Mapper), Data DEM (Digital Elevation Model), dan satelit observasi ALOS (Advance Land Observation Satellite) milik Jepang.

Sementara itu, dilansir oleh Badan Pusat Statistik Jatim (BPS) Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur bulan Januari 2017 turun 0,80 persen dari 103,95 menjadi 103,12. Penurunan NTP ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami penurunan, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan.

Ketimpangan Nilai Tukar antar Sektor

Melihat fenomena pembangunan yang kurang berpihak pada nasib petani, sebagaimana yang dipaparkan Research Group Geoinformatics, Nusantara.news sempat mengupas soal terdesaknya sektor pertanian sebagai akibat pembangunan yang cenderung berorientasi pada industri.

Sumber: Berita Resmi Statistik, BPS Jawa Timur

Asril Priandi, pengamat pertanian dari Malang, saat dihubungi Nusantara.news beberapa waktu yang lalu mengatakan, memang sungguh miris keberadaan pertanian berdaraskan tren pembangunan saat ini (7/2/2017).

Lebih jauh ia menyatakan, “Banyak fenomena alih fungsi lahan yang semakin marak.  Pembangunan yang berorientasi pada industri dan juga properti semakin menggusur lahan pertanian,” ujarnya saat itu kepada Nusantara.news. Dengan demikian, apa yang dinyatakan Asril Priandi tampak sejalan dengan temuan studi yang dilakukan Research Group Geoinformatics.

Fenomena ini mengakibatkan terus merosotnya nilai tukar petani (NTP). Dampaknya dalam jangka panjang adalah munculnya ketimpangan nilai tukar antar sektor. Sektor modern mengalami pertumbuhan nilai tukar, sementara sektor agraria mengalami penurunan nulai tukar.

“Apabila kondisi seperti ini diteruskan maka, kesejahteraan petani akan terancam, petani pun tidak akan cukup dalam menghidupi kebutuhan keberlangsunan hidupnya apabila Nilai Tukar Petani ini terus menurun” imbuh Asril. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here