Nitik, Tradisi Leluhur Minum Tuak Bala Ngombe Tuban

0
1433
Penjual tuak berkeliaran di pasar-pasar dan perkampungan warga pada zaman Hindia Belanda.

Nusantara.news, Tuban – Bagi masyarakat Tuban, Tuak (toak, sebutan Jawa) memegang peran sentral dalam proses pembuatan hingga distribusi. Tuak sendiri merupakan minuman beralkohol khas tradisional Nusantara. Dan Tuban, menjadi salah satu daerah penghasilnya. Rata-rata minuman ini diolah oleh masyarakat yang hidup di wilayah pesisir.

Minuman yang dikenal akrab dengan budaya pribumi ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum masa kolonial Belanda. Perjalanan sejarahnya sangat panjang dan tersohor.

Di beberapa komunitas adat (lokal) di Nusantara, tradisi produksi dan minum tuak juga telah berlangsung lama, dan bertahan hingga kini. Ya, tuak jenisnya banyak dan menyebar di seluruh Nusantara. Selain Tuban, ada tuak Bali, Madura, Batak, hingga Toraja. Tentunya kadar alkohol tuak di pasaran berbeda-beda bergantung daerah pembuatnya.

Tuak jenis arak yang dibuat di Pulau Bali dikenal juga dengan nama Brem Bali, dikenal mengandung alkohol yang kadarnya cukup tinggi. Komunitas adat di Bali dan Lombok memiliki kebiasaan minum minuman beralkohol. Sampai kini, sangat dikenal jenis arak Bali. Bahkan arak Bali memiliki beberapa jenis. Sejenis dengan arak Bali, beberapa komunitas adat di Lombok memiliki minuman fermentasi yang populer dikenal dengan arak, ada pula yang menyebutnya brem. Komunitas Dayak di Kalimatan Tengah juga memiliki minuman tradisi yang dikenal dengan baram. Selama ratusan tahun yang lalu, baram menjadi properti ritual untuk memberi penghormatan kepada roh-roh leluhur.

Sementara di Pulau Madura juga dikenal sebagai penghasil tuak. Sayangnya orang Madura tidak mempunyai kebiasaan minum yang kuat. Saat ini dapat dikatakan sangat sedikit orang Madura yang minum tuak atau arak.

Di wilayah Tapanuli (Sumatera Utara), khususnya masyarakat Batak, kebiasaan minum tuak dianggap sebagai tradisi yang menyehatkan badan karena mengandung efek menghangatkan tubuh. Komunitas Adat Batak Toba kerap menggunakan tradisi minum tuak dalam acara-acara keagamaan yang telah berlangsung lama, dari generasi ke generasi. Bahkan, dalam tradisi Batak Toba, perempuan Batak Toba yang baru saja melahirkan diwajibkan untuk minum tuak dalam ukuran yang terbatas.

Di Tuban, tradisi minum tuak sudah menjadi tradisi turun temurun. Minuman ini sifatnya “wajib” ada dan menjadi jamuan pada acara adat atau ritual tradisional di Tuban. Tidak jarang Tuak menjadi jamuan anak muda ketika kedatangan tamu dari daerah luar tuban. Pada saat kumpul-kumpul sering kita jumpai akan ada minuman tuak di dalamnya, serta di Tuban juga tidak sedikit toko yang menjual minuman ini.

Memang tak seluruh warung-warung di Tuban menyediakan tuak. Sifat tuak yang tak bisa bertahan lama, secara tak langsung menghambat distribusinya. Hanya warung-warung di sekitar Kecamatan Tuban, Semanding, Palang dan Plumpang yang kerap menyediakan tuak. Persepsi masyarakat atas tuak sebagai minuman yang diharamkan agama juga ikut membentuk terbatasnya peredaran tuak di masyarakat.

Para ahli yang telah meneliti minuman tuak menyebut, kandungan alkohol di cukup kecil yaitu 4%, lebih rendah jika dibandingkan dengan anggur dan bir. Sehingga minuman tuak sebenarnya berfungsi untuk menjaga kondisi seseorang menjadi tenang karena mampu menekan syaraf peminumnya.

Meski pada umumnya tuak adalah minuman yang dapat memicu pertengkaran, pertikaian atau perkelahian, tetapi sebagian kecil masyarakat Tuban tidak akan pernah lepas dengan minuman yang memiliki rasa unik ini. Dan tuak sudah menjadi ikon budaya masyarakat Tuban. Bahkan tidak sedikit yang menyebut Tuban dengan sebutan “Kota Tuak”.

Membangun Kebudayaan dari Pohon Bogor

Tradisi minum tuak di Tuban biasa dikenal dengan nama nitik dan kemudian menjadi ikon bagi Kabupaten Tuban. Nitik  adalah tradisi minum tuak bersama di suatu tempat yang sudah ditentukan dan konsisten. Para penikmat tuak disebut dengan beduak bala ngombe (pasukan/teman minum). Mereka yang berkumpul sebenarnya bukan untuk mabuk-mabukan melainkan untuk melestarikan tradisi yang sudah turun temurun.

Peminum tuak berasal dari berbagai lapisan masyarakat, golongan dan tingkatan sosial, petani, buruh, pegawai, pedagang, tentara, polisi, pengusaha, miskin, kaya.

Pada saat duduk nglesot bersama dalam majelis tuak, mereka tidak mempermasalahkan status sosial mereka sehingga tidak ada penghalang bagi mereka untuk menjalin keakraban.

Tradisi nitik di salah satu tempat di Tuban.

Ada sebuah cerita seorang pria separuh baya sedang sakit dan diperiksa dokter. Karena penyakit yang dideritanya, dokter pun melarang pria tersebut dilarang makan jeroan, kacang-kacangan dan lain-lain. Pria itu menjawab tidak apa-apa jika dilarang makan yang enak-enak asalkan tidak dilarang minum tuak.

Katiman menceritakan, orang Tuban dulunya suka bermalas-malasan dan gemar mabuk tuak. Para Sunan penyebar Islam harus bekerja keras memutar otak agar bisa menyebarkan ajaran Islam dengan mudah. Para Sunan melakukan macam cara dalam mensyi’arkan agama Islam, misal melalui wayang kulit, tayuban, slametan dan sedekah bumi. Cara penyebaran agama Islam tersebut dilaksanakan secara kontinum sehingga menjadi tradisi yang turun temurun antar generasi.

Namun demikian, cara-cara tersebut tidak bisa menghilangkan nitik dan tuak dari kehidupan masyarakat Tuban. Tuak telah menjadi bagian (sub sistem) dari sistem budaya masyarakat Tuban.

Bagi orang Tuban, tuak yang mengandung alkohol dapat menghangatkan tubuh secara keseluruhan, dan lebih cepat menghangatkan dibandingkan dengan minuman-minuman penghangat lainnya (teh panas, jahe panas), yang panasnya hanya terasa sesaat di daerah tenggorokan sampai lambung saja.

Sementara itu, panas yang dihasilkan oleh alkohol akan lebih merata di tubuh. Alkohol bisa masuk ke pembuluh darah dan mengalir ke seluruh tubuh dan menghasilkan energi panas. Pekerja-pekerja berat merasa badannya lemas atau kurang bertenaga saat lupa meminum tuak sebelum bekerja. Hampir setiap hari mereka menyisihkan uang sebesar Rp. 1000,- untuk membeli segelas tuak. Gelas yang mereka pakai untuk mewadahi tuak bukan dibuat dari kaca atau plastik, namun gelas tradisional yang terbuat dari batang pohon bambu yang dipotong hingga menjadi sebuah wadah dan diberi nama centhak.

Masyarakat Tuban percaya bahwa dengan rutin minum tuak secukupnya (tidak berlebihan) akan menghindarkan dari penyakit batu ginjal. Kondisi geografi Kabupaten Tuban yang terdiri dari pegunungan batu kapur menyebabkan sumber air yang digunakan sebagai sumber air bersih PDAM maupun digunakan langsung oleh masyarakat kandungan kapurnya sangat tinggi sehingga apabila mengkonsumsi air tersebut sangat kemungkinan timbul endapan batu ginjal, sehingga untuk menetralisirnya mereka meminum tuak secara rutin karena dipercaya bisa melarutkan endapan kapur atau batu ginjal.

Bala ngombe menjaga tradisi leluhur minum tuak di gubuk tengah sawah.

Sukadi, warga Desa Sumurgung Palang, Tuban, mengaku sudah bertahun-tahun mengkonsumsi tuak. Dia hampir setiap hari minum tuak bersama teman-temannya. “Selepas kerja, kami duduk bareng bala ngombe. Di situ ada banyak cerita, ada tawa canda, ada kesederhanaan, ada kebersamaan, dan semangat kegotong-royongan,” cerita Sukadi.

Di tangan orang-orang Tuban, dari generasi ke generasi, kuncup bunga pohon Bogor diolah menjadi minuman tradisi. Olahan itu menjadi jenis minuman yakni legen dan tuak. Legen, minuman yang diambil dari “getah” kuncup bunga. Kuncup bunga itu dinamakan Wolo. Wolo ini diikat sebanyak 3 atau 4 wolo, kemudian tetesan “getah”nya ditampung selama sehari atau semalam.

Tetesannya ditampung ke dalam bambu yang ditali, dikaitkan dengan kumpulan tangkai bunga Bogor yang telah diiris sebelumnya. Dalam istilah warga Tuban, bambu itu dinamakan Bethek.

Legen terasa manis, bercampur dengan “rasa soda” yang bersifat alami karena diproses dari alam secara langsung. Minuman ini tidak bisa bertahan lama. Rata-rata 4-5 jam sejak diambil dari penampungannya, legen sudah tidak bisa dikonsumsi lagi. Rasanya sudah berubah menjadi asam, dan jika diminum, membuat perut sakit.

Sama seperti legen, tuak juga bersumber dari “getah” irisan tangkai bunga pohon Bogor. Yang membedakan dengan legen, bambu untuk menampung “getah” tangkai bunga Pohon Bogor dicampuri dengan Bebekan.

Ada beragam jenis bebekan. Warga Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Tuban lebih gemar membuat bebekan dari pelepah kulit Pohon Juwet. Pelepah kulit Pohon Juwet dikeringkan, lalu dicincang, namun tak sampai lembut, cukup serat-serat kulitnya terurai. Tiap tetesan “getah” yang ditampung dalam bambu akan bercampur dengan bebekan. Percampuran kedua unsur inilah yang membentuk minuman tuak. Berbeda dengan warga Prunggahan kulon, warga Desa Tegalbang dan Tunah, Kecamatan Semanding, Tuban membuat bebekan dari pelepah kulit Pohon Mahoni.

Bebekan dari kulit pohon Mahoni rasanya sangat pahit, sehingga rasa tuaknya juga terasa pahit, dan rasa manis yang tipis. Sedangkan bebekan dari kulit pohon Juwet lebih variatif, perpaduan rasa manis, sedikit gurih, dan sedikit asam. Sama seperti legen, tuak juga tidak bisa bertahan lama. Dalam tempo 4-5 jam sejak diambil dari Pohon Bogor rasanya telah terasa pahit dan asam.

Sebagai minuman hasil fermentasi, tuak mengandung alkohol tidak begitu tinggi. Menurut kajian, kadar alkohol yang terkandung dalam tuak sebesar 2 – 4 persen.

Jika dibandingkan dengan minuman bir pilsener hasil pabrikan, kadar alkhohol yang terkandung di dalam tuak jelaslah lebih rendah. Rata-rata kadar alkohol bir antara 5-10 persen. Tuak bahkan jauh lebih rendah kadar alkoholnya jika dibandingkan dengan wine yang alkoholnya mencapai 15 persen.

Mengambil getah wolo yang diikat sebanyak 3 atau 4 wolo. Kemudian tetesan getahnya ditampung selama sehari atau semalam.

Dalam relasi produksi minuman tuak dan legen, kaum perempuan di Tuban memegang posisi penting. Rata-rata pembuat bebekan tuak adalah kaum perempuan. Otomatis, penentu selera tuak menjadi enak atau tidak sangat bergantung bebekan yang dibuat kaum perempuan. Semakin cermat membuat komposisinya, tentu semakin memikat bala ngombe.

Selain menghasilkan “getah” untuk produksi legen dan tuak, bagian-bagian pohon Bogor masih memiliki kemanfaatan bagi penduduk setempat. Pelepah daunnya, oleh orang Tuban disebut lontar, dipakai oleh petani tadah hujan di kawasan ini untuk membuat penutup kepala (caping).

Beberapa tahun yang lalu, sebelum plastik mulai menggantikan, anyaman daun lontar dipakai oleh penduduk setempat sebagai tempat nasi. Lontar dianyam, mirip ketupat, namun dalam ukuran besar. Anyaman ini dipakai untuk tempat nasi dan lauk pauknya saat acara kenduri di kampung-kampung. Warga setempat menyebutnya tumbu.

Komposisi lain yang bernilai manfaat dari pohon Bogor adalah buahnya. Pada umumnya masyarakat menyebutnya buah Siwalan atau Ental. Buah ini mengandung air, selain selaput biji dalamnya yang lembut. Rasanya manis, segar, sangat cocok dinikmati di cuaca panas seperti Tuban. Saat belum dikelupas kulitnya, buah Siwalan dapat dikonsumsi hingga beberapa hari kedepan, sejak pengambilan dari pohonnya.

Dari pohon Bogor inilah, para petani tegal di Tuban membangun kebudayaannya dari hari ke hari. Tuak yang berumur tua, seumuran dengan sejarah Tuban sendiri, telah menjadi citra diri orang-orang Tuban, meskipun sebagian lainnya, yang menganut keislaman secara “kuat” menolak mengidentikkan Tuban dengan tuak.

Sekilas “batas-batas kultural” di Tuban nampak jelas. Persis gambaran Clifford Geertz melalui proyek Mojokuto-nya, bahwa di wilayah dekat pesisir dan pedalaman selatan corak keislamannya berbeda. Di wilayah pedalaman selatan keislamannya lebih kuat karena banyak dihuni komunitas santri yang bermukim di sekeliling makam Sunan Bonang. Sementara di wilayah pesisir utara, tradisi keagamaan orangnya masih memberi wadah untuk praktik mistik Islam Jawa. Kelompok sosial ini kurang menyukai praktik keagamaan Islam secara normatif.

Meski mayoritas penduduk Kecamatan Semanding dan Palang Kabupaten Tuban beragama Islam, namun banyak di antara mereka yang sampai kini meminum tuak dan arak. Bahkan kedua minuman itu menjadi penopang kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Karena pohon Bogor bernilai ekonomis, para pemilik pohon Bogor dapat mentransaksikan atau menjualnya kepada pihak lain.

Satu pohon Bogor bernilai ratusan ribu, sangat tergantung kondisi pohonnya. Saat telah diperjualbelikan kepada pihak lain, pemilik tanah tidak mengenakan tarif sewa tanah atas keberadaan pohon Bogor yang dijualnya. Pembeli pohon Bogor dapat mengambil nilai ekonomisnya sampai pohon tersebut tidak berproduksi.

Petani tuak mengambil kuncup bunga pohon Bogor yang kemudian diolah menjadi minuman.

Dalam sehari, setiap pohon Bogor bisa menghasilkan 1 – 2 liter tuak atau legen. Semakin banyak seseorang memiliki pohon Bogor di tanah tegalan (sawah tadah hujan), otomatis petani itu akan semakin banyak menghasilkan tuak atau legen. Para petani tuak di Tuban mengambil tuak sehari dua kali, yakni pagi dan sore. Hasil tuak atau legen yang diambil pagi hari, dijual dengan memasok ke warung-warung kecil untuk jatah peminum menjelang siang.

Sedangkan tuak atau legen yang diambil siang hari, dipakai sebagai pasokan peminum tuak untuk sore sampai malam hari. Tuak dan legen yang diambil kemudian didistribusikan ke warung-warung sekeliling Kota Tuban dan Semanding.

Menjadi Mata Pencaharian Substitutif

Dari cerita lisan warga Tuban, produksi dan minum tuak sebenarnya telah berjalan selama berabad-abad. Misalnya pada abad 11 Masehi, ketika itu bala tentara Tar-Tar dari Mongolia berhasil mengalahkan bala tentara Kerajaan Daha (Kediri).

Mereka kemudian  singgah di Tuban dan merayakan pesta kemenangan dengan minum tuak dan arak. Pada masa keemasan Kerajaan Singasari, Raja Kertanegara juga gemar minum tuak untuk perayaan-perayaan kerajaan. Tuak menjadi minuman yang melintas batas kelas, dari seorang petinggi negeri seperti raja hingga para petani biasa.

Namun menurut Sugeng, sejarawan asal Tuban mengungkapkan, cikal bakal sejarah kerajaan Majapahit juga ada kaitannya dengan tradisi minum tuak. Ceritanya, Raden Wijaya, raja pertama Kerajaan Majapahit, berhasil memukul mundur pasukan Tar- Tar berkat minuman tuak itu.

Tuak dan legen hasil racikan masyarakat Tuban.

Raden Wijaya mengajak seluruh pasukan Tar-Tar yang singgah di Tanah Jawa minum tuak bersama-sama. Tetapi, setelah seluruh prajurit Tar-Tar itu mabuk, pasukan Raden Wijaya menyerang mereka. Hingga akhirnya, pasukan Tar-Tar kembali ke Tiongkok.

Tradisi minum tuak, kata dia, diperkirakan sudah ada jauh sebelum berdirinya kerajaan Majapahit pada tahun 1295 Masehi. Tradisi minuman tuak itu masih eksis hingga sekarang di Tuban.

“Tetapi, siapa yang pertama kali menemukan minuman tuak itu hingga kini belum diketahui. Minuman tuak seolah sudah menjadi bagian dari budaya sebagian masyarakat Tuban. Minuman tuak selain dijual di tempat yang disebut nitik, biasanya juga dihidangkan saat ada hajatan di kampung,” ungkapnya.

Kata Sugeng, istilah tuak awalnya berasal dari sebutan kata “noto awak” yang kemudian disebut toak. Tradisi minum tuak, kata dia, juga tidak selalu identik dengan hal yang negatif seperti bermalas-malasan atau mabuk-mabukan. Sebab, kata dia, tuak itu dulunya disajikan sebagai minuman khas masyarakat setempat saat berkumpul bersama.

“Setiap mereka berkumpul, mereka minum tuak itu. Di situlah bala ngombe muncul. Minum tuak bersama itu lebih mengakrabkan antar mereka,” tutur budayawan ini.

Hal ini diperkuat dengan riset yang pernah dilakukan ilmuan asal Jepang, Shigerhiro Ikegami dari Universitas Shizuoka tentang tradisi produksi dan minum tuak. Ikegami menunjukkan bukti foto-foto lama, terutama pada masa kolonial Belanda, bahwa penjual tuak berkeliaran di pasar-pasar dan perkampungan warga di Jawa, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, Bali, dan berbagai tempat di Nusantara. Bahkan ada pula yang membangun kedai khusus menjual tuak.

Namun keberadaan warung tuak dan penjaja tuak keliling sekarang ini hanya tinggal sejarah. Sejak Belanda masuk ke Nusantara dan membawa minuman beralkohol lainnya, pamor tuak pun kian meredup. Ditambah pemerintah dilarang mengonsumsi minuman ini pada masa itu.

Penjual tuak jaman dulu. Tuak menjadi tradisi warga pesisir secara turun temurun.

Pantauan Nusantara.News, kini sangat sulit menemukan warung yang menjual legen dan tuak di Tuban. Bagi petani penghasil tuak dan legen, mereka biasanya menjual sendiri hasil olahan tuak dan legen di rumahnya, atau dijual langsung ke warung-warung penjual tuak dan legen. Jika petani penghasil tuak dan legen memasoknya ke warung-warung, tentu mereka hanya mendapatkan keuntungan sedikit, jika dibandingkan dengan menjualnya secara langsung ke konsumen. Sementara bagi petani yang menghasilkan tuak dan legen dalam jumlah banyak, biasanya didistribusikan ke warung-warung, dan ia hanya menyisakan sedikit untuk dijual di rumahnya.

Saminah, warga Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban menyebut rumahnya lebih pantas disebut gubuk daripada tempat tinggal, sebab memang digunakan untuk tempat jualan tuak.

“Menjual tuak tak perlu modal cukup banyak mas. Kalau menjual bir atau lainnya, tentu butuh modal besar. Itu pun belum tentu tiap hari langsung laku. Kalau menjual tuak modalnya lebih rendah, dan setiap hari sering habis, sebab warga di kampung sini tiap hari menikmati tuak, terlebih menjelang sore dan malam hari sehabis kerja seharian,” ujar janda empat anak ini.

Rata-rata perempuan penjual tuak seperti Saminah dalam sehari bisa menjual 20 liter tuak, dan makanan pengiringnya (tambur). Praktis, Saminah dapat mengantongi keuntungan 15 sampai 25 ribu rupiah per hari. Nominal yang sangat penting bagi kelangsungan kebutuhan ekonominya. Berjualan tuak, oleh kebanyakan perempuan warungan di Tuban menjadi penyangga ekonomi keluarga. Memang, bagi sebagian pedagang, berjualan tuak dan tambur menjadi penghasilan sekunder. Penghasilan primernya dari hasil bercocok tanam.

Warung yang hingga kini tetap eksis menjual tuak. Namun demikian keberadaan warung penjaja tuak kini sangat sulit ditemukan.

Belakangan, di saat sektor pertanian apalagi pertanian tegal terpuruk, perempuan warungan yang menjual tuak dan tumbuh menjadi mata pencaharian substitutif. Kalangan keluarga seperti ini tentu sangat berharap bala ngombe tetap ada, dan bahkan mungkin berkembang, agar dapur mereka tetap mengepul.

Dalam sehari masa produksi, tak seluruh minuman tuak habis. Beberapa penjual tuak biasanya menimbun “tuak kadaluwarsa”. Setiap dua atau tiga hari sekali ada beberapa pengepul yang membeli tuak kadaluawarsa tersebut. Untuk 20 liter tuak kadaluarsa bisa dibeli oleh pengepul sebesar Rp. 5.000. Nilai yang cukup berarti bagi para penjual tuak, daripada minumannya terbuang.

“Tuak-tuak kadaluwarsa ini banyak dibawa ke Lamongan dan Surabaya. Katanya diolah lagi dan dijual di sana,” ujar Likanah, warga Desa Ngino Kecamatan Semanding, Tuban.

Berbeda dengan tuak fresh di Tuban yang diperjualbelikan secara bebas, dan terbuka di warung-warung, bahkan di pinggir jalan untuk melayani bala ngombe, tuak kadaluwarsa yang diolah kembali cenderung ditransaksikan secara tertutup dari tangan ke tangan, dan dari mulut ke mulut.

Peralihan formasi dan habitat tuak, dari tuak alami ke tuak olahan memang membawa pergeseran dan persepsi yang kian memperburuk cita rasa tuak. Diperdagangkannya tuak olahan di luar Tuban telah menempatkan tuak sebagai “barang kriminal”.

Ya, kontruksi tuak saat keluar dari Tuban telah bergeser total. Meski bala ngombe menyadari hal itu, toh mereka tak bisa berbuat banyak.

Sugeng membenarkan jika tuak saat ini sudah banyak disalahgunakan. Selain mengandung alkohol yang bisa memabukkan, tuak kadaluarsa juga kerap dijadikan “barang krimanal”. Sehingga keasliannya sulit terjaga. Wajar jika kemudian brand tuak sebagai hasil racikan pribumi mendapat banyak pertentangan di daerahnya sendiri maupun di luar daerah. “Kalau soal mabuk atau tidak, itu tergantung orangnya. Sayangnya banyak yang kemudian memanfaatkan untuk mereguk keuntungan semata tanpa menjaga kualitas dari tuak itu sendiri,” tuturnya.

Minuman tuak, kata Sugeng, memang tidak bisa dilepaskan dari tradisi lokal di Tuban. Karena itu semestinya, lanjut Sugeng, minuman tuak dan legen bisa menjadi salah satu potensi hasil budaya yang bisa dijual oleh pemerintah daerah. “Jadi bukan dihilangkan, tetapi dikembangkan ke arah yang baik,” urainya.

Seperti yang dilakukan pemerintah daerah Bali, di mana minuman lokal tuak atau arak kini bisa dikenal hingga mancanegara. “Arak Bali Go Internasional” adalah salah satu destinasi favorit orang Jepang. Ribuan orang Jepang pergi ke Bali setiap tahun untuk menikmati budaya dan keindahan alamnya. Selain itu mereka juga dapat menikmati deretan botol Brem dan Arak Bali di beberapa conter bar, restaurant maupun hotel. Pemda Bali tampaknya sangat peduli kearifan lokal masyarakatnya. Bahkan minuman beralkohol tradisional khas Indonesia itu telah diekspor ke Korea Selatan.

Arak Bali hasil olahan lokal yang dikemas menjadi minuman Go Internasional.

Sejarah mencatat pada abad 17, arak asal Indonesia bernama Batavia Arrack pernah menjadi legenda di Asia hingga kepulauan Karibia, mengalahkan rum dan scotch. Merek itu sempat diulas koran The New York Times edisi Minggu dengan judul “Out of the Blue : Batavia Arrack Comes Back”.

Nah, agar minuman beralkohol tradisional asal Indonesia dapat diterima oleh pasar internasional dan mendatangkan devisa dan kesejahteraan petani, maka pemerintah harus melakukan pembinaan dan membantu permodalan. Bukan hanya dirazia dan dibunuh perlahan lantaran dianggap menjadi biang kerok kasus kematian akibat oplosan. Sekiranya pemerintah harus rajin menggiatkan budaya lokal, khususnya masyarakat Tuban. Tidak salahnya Pemda Tuban meniru Bali yang selalu menjaga kearifan lokal masyarakatnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here