Nomor Satu untuk Khofifah-Emil, Dua untuk Gus Ipul-Puti

0
88
Maju Pilgub Jatim, Khofifah-Emil dapat nomor urut 1 dan Gus Ipul-Puti Guntur nomor 2"

Nusantara.news, Surabaya – Dua pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak dan pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno resmi dikukuhkan. Berlangsung di Hotel Mercure di Jalan Raya Darmo, kedua pasangan resmi mendapatkan nomor hasil pengundian. Khofifah-Emil mendapatkan nomor urut 1 dan Gus Ipul-Puti Guntur mendapatkan nomor 2.

Selama berlangsungnya acara, di luar hotel kedua massa pendukung masing-masing pasangan terus mengelu-elukan pasangan yang dijagokan. Itu diluapkan dengan menyuarakan yel-yel tanda dukungan dan harapan jagonya unggul dan memenangi pemilihan gebernur.

“Biyen Pakde Karwo, sakiki diganti Bude Khofifah” ujar pendukung pasangan Khofifah-Emil serentak. Sementara, mendengar mendapat nomor urut dua, massa pendukung Gus Ipul-Puti tak kalah bersemangat, saling berhadapan mereka sambil mengibarkan gambar dan nomor urut dua, meneriakkan kalimat, “Nomor siji dibuka, nomor loro dicoblos”.

“Biyen Pakde Karwo, sakiki diganti Bude Khofifah” (Foto: Tudji)

Khofifah mengatakan nomor urut tak menjadi patokan, sebaliknya berapa pun nomor yang didapat, dia menyebut yang penting menang. Namun, setelah mendapat nomor urut satu, dia menyebut kalau angka tersebut menjadi penguatan sinyal atau pertanda kemenangannya di Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, kali ini.

“Ini nomor yang baik, satu berarti mempersatukan atau menyatukan seluruh entitas masyarakat di Jawa Timur. Persatuan ini menjadi modal utama membangun Jawa Timur ke arah yang lebih berkeunggulan,” ungkap Khofifah seusai Rapat Pleno Terbuka Pengundian dan Pengumuman Nomor Urut Pasangan di Hotel Mercure Surabaya, Selasa (13/2/2018).

Baginya, angka satu sangat mudah diingat oleh masyarakat. Selain itu, angka satu juga bermakna sesuatu yang baru, harapan baru, sekaligus menunjukkan suatu yang akan lebih baik dan kualitas.

“Massa pendukung Gus Ipul-Puti sambil mengibarkan gambar dan nomor urut dua, meneriakkan kalimat, “Nomor siji dibuka, nomor loro dicoblos” (Foto: Tudji)

Insyaallah, saya dan Mas Emil akan membawa perubahan yang berkeunggulan bagi Jawa Timur di berbagai lini dan berbagai kehidupan di masyarakat,” terangnya.

Dan menurut Emil menilai, nomor urut satu sebagai anugerah tersendiri. Menurutnya nomor satu sebagai bentuk motivasi untuk membuat Jawa Timur yang lebih baik, lebih maju dari sebelumnya.

“Kami berharap juga menjadi nomor satu, karena tujuan kami juga satu, yaitu mempercepat pemerataan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Jawa Timur,” urai Emil.

Bagi Khofifah-Emil nomor urut bukan menjadi acuan kemenangan. Karena bagi keduanya, kemenangan bergantung pada adu konsep dan gagasan untuk membangun Jawa Timur yang merata dan lebih baik dari sebelumnya.

Sebelumnya, Khofifah-Emil juga telah merumuskan program sembilan prioritas yakni Nawa Bakti Satya, setelah dirinya memastikan diri bersama Emil maju sebagai bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. Program tersebut menjadi senjata unggulan pasangan itu untuk membangun Jawa Timur.

Nawa Bakti Satya adalah sembilan program unggulan yang kita baktikan untuk kemuliaan masyarakat Jawa Timur. Mulia dimata masyarakat, mulia dimata bangsa-bangsa lain di dunia dan mulia di hadapan Allah SWT,” terangnya.

Ajak, Tidak Ada Perpecahan Meski Beda Pilihan

Ada ajakan santun dan bijaksana yang dilontarkan Khofifah, untuk seluruh masyarakat Jawa Timur, dia meminta di kontestasi pemilihan kepala daerah termasuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur berjalan dengan baik, damai, guyub dan rukun tanpa menimbulkan perpecahan akibat berbeda pilihan.

“Dengan demikian, pesta demokrasi lima tahunan ini bermanfaat dan bisa benar-benar dinikmati oleh seluruh masyarakat,” katanya.

Di kontestasi pemilihan kepala daerah kali ini, pasangan Khofifah-Emil diusung oleh Partai Demokrat, yang memiliki 13 kursi, Partai Golkar 11 kursi, PPP ada 5 kursi, NasDem memiliki 4 kursi, Hanura ada 2 kursi, Partai Amanat Nasional 7 Kursi dan partai baru, yakni Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Untuk pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno diusung PKB, PDIP, Gerindra dan PKS.

Tahapan pengundian nomor urut Cagub dan Cawagub Jawa Timur itu dilaksanakan sehari usai kedua pasangan calon secara resmi ditetapkan sebagai peserta Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Itu sesuai hasil verifikasi berbagai persyaratan dan ketentuan sesuai PKPU Nomor 2 Tahun 2017 tentang Pemutakhiran Data dan Penyusunan Daftar Pemilih dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2018. Serta, PKPU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2018.

Gus Ipul-Puti Guntur Naik Angkot Diiringi Gojek

Menuju tempat pengundian di Hotel Mercure, bersamaan dengan turunnya hujan Gus Ipul-Puti Guntur menumpang angkot dan diiringi ratusan pengemudi angkot dan gojek. Rombongan berangkat dari Rumah Pemenangan Gus Ipul-Puti di Jalan Gayungsari Barat X 30 Surabaya, sekitar pukul 13.00 WIB. Angkot yang ditumpangi Gus Ipul-Puti bernomor polisi L-1120-UY dan disopiri oleh Wakil Walikota Surabaya yang juga Ketua DPC PDIP Surabaya, Wisnu Sakti Buana.

“Terima kasih kepada seluruh driver dan relawan yang mengantar dan selalu mendukung pasangan ini,” kata Gus Ipul saat akan berangkat menuju Hotel Mercure.

“Pendukung Khofifah-Emil senang mendapat nomer satu”

Iringan sopir angkot dan gojek, kata Gus Ipul merupakan simbol bahwa dua moda transportasi itu bisa beriringan dan berjalan bersama-sama. “Mikrolet ini angkutan umum yang selama ini melayani masyarakat, kita ingin angkutan umum ke depan meningkat. Begitu juga angkutan online seperti Gojek,” katanya.

Perempuan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) tak henti-hentinya menunjukkan keceriaan saat mengantar pasangan Khofifah-Emil menuju tempat undian nomor urut. Mereka, termasuk yang berada di luar hotel seakan menunjukkan totalitasnya mendukung ketua umumnya, Khofifah yang maju di Pilgub Jatim 2018, bersama pasangannya Emil Elistianto. Mereka, dengan memanjatkan doa berikrar untuk mengantar Khofifah-Emil menuju kemenangan. Sehari sebelumnya, mereka menggelar Doa Bersama dan Ikrar Komitmen Pemenangan Tim Relawan Khofifah-Emil di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.

“Kita tidak akan pernah kapok! Kita tidak akan pernah berhenti terus berjuang dan akan terus mendukung ketua umum PP Muslimat NU, yang untuk ketiga kalinya mencalonkan diri menjadi gubernur Jatim,” kata Nyai Muthomimah Hasyim Muzadi, sesepuh Muslimat NU yang juga Ketua PC Muslimat NU Kota Malang.

“Yang pertama tidak kalah, yang kedua juga tidak kalah, yang ketiga insyaallah dilantik. Besar harapan kita semua, yang terakhir ini harus menang dan dilantik,” tambahnya.

“Pendukung pasangan Gus Ipul-Puti, bangga dapat nomor urut dua”

Istri KH Hasyim Muzadi itu menegaskan Khofifah adalah kader NU tulen. Dan, itu tidak terbantah dan juga tak perlu dipertanyakan. Kata Nyai Muthomimah, justru perlu dipertanyakan siapa yang bertanya kalau Khofifah bukan keder NU tulen?.

Khofifah Harus Jadi Gubernur dan Merawat NU

Pernah gagal dua kali, Khofifah tidak akan menyerah untuk kembali ke Jatim. Itu dilakukan karena selain panggilan jiwanya untuk pengabdian, juga keinginan para kiai yang mengetahui persis kebutuhan pemimpin di Jawa Timur. Ditegaskan, kalau tiga minggu sebelum suaminya (KH Hasyim Muzadi) wafat, ada pesan yang diucapkan oleh almarhum, yakni Khofifah diyakini dan harus menjadi Gubernur Jatim.

“Memang, ada titipan dari almarhum (KH Hasyim Muzadi). Tiga minggu sebelum beliau wafat, yang dibicarakan Khofifah harus menjadi gubernur, dan insyaallah untuk saat ini,” ujarnya.

Masih kata Nyai Muthomimah, Khofifah pernah dipanggil secara khusus oleh suaminya dan diminta agar bersedia maju di pemilihan Gubernur Jatim.

“Kebesaranmu bukan di jabatan, bukan pula karena kamu pejabat. Tapi kebesaranmu kalau kamu mau merawat NU dan Muslimat NU,” kata Nyai Muthomimah menirukan yang diucapkan Kiai Hasyim Muzadi, sebelum meninggal.

Merawat NU, lanjut Muthomimah, Khofifah diimpikan akan menjadi Ketum PBNU, ketua PWNU atau PCNU.

“Tapi merawat warga NU di bawah, NU kultural jumlahnya lebih banyak dan mereka inilah yang membutuhkan perhatian dari seorang gubernur,” katanya.

Khofifah dinilai layak meneruskan cita-cita Gubernur Soekarwo yang akan berakhir masa jabatannya. Dan diharapkan, NU dan Badan Otonom (Banom) nya serta seluruh masyarakat di Jatim akan menorehkan sejarah baru.

“Ini untuk mengukir sejarah baru, baru kali ini Jatim memiliki gubernur perempuan. Dari sinilah akan tumbuh lagi perempuan-perempuan tangguh yang akan menginspirasi kita semua menyambung estafet kepemimpinan di Jatim. Perempuan ditakdirkan Allah, mungkin sebagian mengatakan lemah, tapi sebagian termasuk kami, yakin justru memiliki banyak kelebihan,” jelasnya.

Sikap PWNU Jatim di Pilgub Jatim

“Berbagai upaya terus dilakukan oleh pengurus PWNU Jatim untuk menjaga netralitas dan Khittah NU di Pilgub Jatim 2018”

Saat yang sama, di kantor PWNU Jatim digelar jumpa pers. Berbagai upaya terus dilakukan oleh pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim untuk menjaga netralitas dan Khittah NU di Pilgub Jatim 2018 ini. Salah satunya dengan mengundang tim sukses dari masing-masing pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Jatim, Selasa (13/2/2018).

Namun, langkah PWNU Jatim mengakomodir kedua pasangan calon, pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur dan Khofifah-Emil, belum terlaksana. Lantaran, kedua tim sukses belum bisa hadir, dimungkinkan kesibukan masing-masing pasangan calon.

“Yang jelas sudah saya sampaikan kepada masing-masing tim sukses. Jawabannya, jika diterima harus diterima semua, jika ditolak ya ditolak semua,” ucap Ketua PWNU Jatim, KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah, yang saat itu juga hadir Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Anwar Mansyur, KH Anwar Iskandar, KH Sholeh Qosim, dan Katib Syuriah PWNU Jatim Syafruddin Syarif, di gedung PWNU Jatim.

Lanjut Mutawakkil, pihaknya untuk mengundang kedua tim sukses dari pasangan calon tersebut, sebagai sikap NU untuk menjaga netralitas dalam politik praktis.

“Tapi hari ini keduanya tidak hadir, kebetulan hari ini bersamaan dengan pengundian nomor urut cagub-cawagub Jatim di Hotel Mercure,” katanya.

Dia menambahkan, PWNU Jatim tidak pernah menolak pasangan calon untuk bersilaturrahmi ke PWNU. Namun, untuk bersilaturrahmi perlu dijadwalkan.

“Mengumpulkan kiai sepuh itu tidak mudah. Jadi untuk menyetting waktu kembali juga sulit. Yang jelas berita mengenai seolah-olah PWNU hanya menerima kedatangan salah satu calon saja itu tidak benar,” tegas Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo itu.

Kenapa yang diundang hanya tim sukses, bukan pasangan calon? Kiai Mutawakkil menjelaskan, rencana mengundang tim sukses ini sesuai dengan saran para kiai sepuh. Karena, para kiai ingin menyampaikan sejumlah pesan yang diharapkan bisa dilakukan tim sukses untuk menjaga keutuhan umat.

“Sesuai saran para kiai sepuh, kalau calonya Gus Ipul dan Khofifah tidak perlu hadir. Karena mereka sudah negarawan, mereka dijamin akan menjaga etika dan juga mereka sudah banyak pengalaman dalam Pilkada, dan mereka itu pernah memiliki kedudukan yang bukan hanya di tingkat regional tetapi juga nasional, sehingga mereka sudah paham bagaimana berpolitik yang baik dan santun,” tuturnya.

PWNU Jatim juga mengajak tim sukses agar di pelaksanaan Pilgub Jatim berjalan kondusif, dan tidak ada saling bermusuhan. “Para kiai dan masyayikh berharap bisa sharing dengan mereka (tim sukses), itu tujuan kami mengundang,” ucapnya.

PWNU Jatim meminta kepada tim sukses kedua pasangan dalam mendulang simpati masyarakat untuk berhati-hati. Menghindari isu SARA, dan money politik, karena itu tidak mendidik. “Berilah masyarakat harapan-harapan untuk memilih pemimpin yang di usung sebagai pemimpin baru dalam berbagai aspek kebutuhan masyarakat,” katanya.

Mutawakkil juga berharap agar masyarakat menggunakan hak pilihnya secara efektif dan bertanggung jawab. “Khusus untuk warga NU kita mengharuskan kepada seluruh pengurus NU di tingkat wilayah, cabang, sampai ke MWC, dan Ranting agar mengarahkan warganya untuk menggunakan hak pilihnya secara efektif dan bertanggung jawab, dan golput.

“Karena golput itu adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan tidak menghargai jasa pendiri bangsa ini yang termasuk di dalamnya adalah ulama dan kiai sepuh kita,” pungkasnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here