Nonaktif dari Ketum PWI, Margiono Kerahkan Ribuan Massa

0
89
Deklarasi bakal pasangan calon bupati dan wakil bupati Tulungagung, Margiono dan Eko Prisdianto, di stadion Rejoagung, Minggu (4/2/2018).

Nusantara.news, Tulungagung – Margiono kini sudah nonaktif sebagai Ketua Umum PWI Pusat karena menjadi calon Bupati Tulungangung, Jawa Timur.

Dalam rapat pleno PWI Pusat Kamis (25/1/2018) di Jakarta, Margiono mulai tanggal 12 Februari nonaktif sebagai Ketua PWI karena akan ikut dalam pencalonan kompetisi Pilkada Tulungagung.

Margiono memilih tanggal 12 Februari karena pada saat itu ada penetapan dari KPUD. “Ya, saya pilih tanggal 12 Februari karena saat itulah ada penetapan dari KPUD saya sebagai calon resmi bupati,” jelas Margiono.

Sebenarnya dalam Peraturan Dasar (PD) dan Peraturan Rumah Tangga (PRT) PWI tidak ada ketentuan yang eksplisit mewajibkan pengurus yang ikut dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk mengundurkan diri atau harus nonaktif.

Namun Margiono memilih mundur karena ingin menjaga marwah netralitas profesi wartawan. Langkah dapat menjadi contoh dan teladan bagi pengurus PWI yang terlibat dalam Pilkada, termasuk sebagai tim sukses, untuk segera menyatakan nonaktif. Kalau ketua umum saja sudah memberikan contoh, tidak ada alasan pengurus lain tidak segera juga nonaktif jika terlibat dalam Pilkada.

“Demi menjaga independensi wartawan dan organisasi saya memilih nonaktif. Juga supaya saya sendiri dapat fokus pada pemenangan, saya memilih untuk nonaktif,” kata Margiono.

Sekedar digarisbawahi, pers memiliki asas menjaga independesi dan keberimbangan kepada semua pihak. Dengan terlibat dalam Pilkada otomatis wartawan tidak dapat lagi bersikap netral. Tidak bisa dipungkiri, saat ini banyak pers yang telah nyemplung ke ranah politik praktis, baik sebagai calon maupun tim sukses.

Baca juga: Tren Wartawan Maju Pilkada Daerah

Sebagai tim sukses, banyak media di Jawa Timur telah terbelah. Independensi mereka sebagai media sangat dipertanyakan. Dengan mendukung salah satu pasangan calon, mereka secara tidak langsung layak dipertanyakan independensinya. Bahkan ada media yang terang-terangan mendukung calon dengan melakukan pencitraan negatif terhadap lawan calon yang dukungnya. Sangat miris.

Tidak hanya itu, kini telah bermunculan media abal-abal yang fungsinya untuk mematahkan kampanye salah satu pasangan. Mereka membela mati-matian calon yang diusung tanpa memperhatikan kode etik. Keburukan dan kesalahan menjadi sasaran media abal-abal ini.

Sementara calon yang didukung hanya diberitakan apa adanya. Tidak ada program-program atau visi misi calon. Yang ada hanya badnews.

Karena itu, dengan nonaktifnya Margiono, setidaknya dapat menjadi panutan bagi wartawan lain yang memang terjun ke dunia politik, baik untuk pencalonan maupun sebagai tim sukses.

Kalau mau menjadi tim sukses pasangan calon, maka berkompetisi secara sehat. Seorang wartawan harus nonaktif dari jabatan organisasi kewartawanan dan sebagai wartawan agar tidak tumpang tindih serta tidak ada keberpihakan.

Sesuai kelaziman di PWI, apabila ketua umum berhalangan atau nonaktif, maka posisinya sementara digantikan oleh ketua bidang organisasi. Oleh sebab itu rapat pleno juga menetapkan ketua bidang organisasi Sasongko Tedjo sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum PWI Pusat.

Dalang Bertemu Dalang

Bakal calon bupati Tulungagung Margiono boleh dibilang cukup unik. Dia menggandeng Eko Prisdianto sebagai bakal calon wakil bupati Tulungagung yang notabene dalang wayang kulit. Yang unik, Margiono sendiri juga memiliki background dalang wayang kulit. Ya, ceritanya dalang ketemu dalang.

Nah, dalam deklarasi tim pemenangan Pilkada 2018, pasangan Margiono-Eko Prisdianto berhasil mengerahkan ribuan massa pada Minggu (4/2/2018). Berlokasi di komplek stadion Rejoagung Kota Tulungagung, paslon yang diusung 9 parpol, yakni yakni PKB, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Hanura, Partai Demokrat, PAN, PKS, PPP dan PBB itu terlihat sangat all out.

Margiono juga menyinggung soal dukungan. Massa yang datang, kata dia merupakan kader pendukung dan simpatisan yang berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang. Ibarat pelangi terdiri dari berbagai warna. Juga serupa dengan semangat Bhineka Tunggal Ika.

Menurut Margiono dukungan yang mengalir tidak hanya dari 9 parpol pengusung. Tetapi juga rakyat Tulungagung, yang dalam deklarasi itu dia beri nama Partai Rakyat Tulungagung. Terkait besarnya massa dalam acara deklarasi ini, Margiono mengatakan, jumlah massa yang hadir ini belum seberapa. Menurut dia pada saatnya nanti jumlah massa yang dikerahkan jauh lebih besar lagi.

Baca juga: Ini Gaya Margiono Kerek Popularitas di Tulungagung

“Dan ini (Partai Rakyat Tulungagung) tidak kalah luar biasa dari partai politik. Apakah yang di dalam ruangan ini, yang di luar sana dan di rumah siap menjadi kader dan memenangkan Margiono-Eko?” teriak Margiono seraya disambut tepuk riuh warga yang hadir.

Tampil dengan peci hitam, kemeja putih dipadu celana gelap, Margiono terlihat sumringah.
Senyum Ketua Umum PWI itu mengembang tak henti-henti. Begitu juga dengan pendampingnya Eko Prisdianto.

Selain massa besar, mereka juga menampilkan sebuah pemandangan panggung yang mewah. Panggung yang lengkap dengan musik orkestra serta kelompok paduan suara. Lagu lagu hit pun tak berhenti berkumandang menyelingi jalannya acara. Termasuk lagu “Jaran Goyang” yang dipopulerkan penyanyi dangdut koplo Nela Kharisma. “Orkestranya bagus. Juga paduan suaranya. Kalau jadi bupati, akan saya bawa ke Jakarta,” janji Margiono dengan membawa jargon “Tulungagung Lebih Baik”.

Di kesempatan itu Margiono juga menepis isu keroposnya koalisi 9 parpol. Bahkan sejumlah parpol dikabarkan berbalik arah mendukung paslon petahana Syahri Mulyo-Maryoto Bhirowo (Sahto). Namun hal itu dibantah Margiono. Menurutnya, isu itu tidak benar. “Yang benar koalisi semakin solid dan seluruh kader, pengurus partai dan dewan bergerak untuk pemenangan,” tegasnya.

Sementara itu Ketua tim pemenangan Margiono-Eko Prisdianto dari koalisi parpol atau koalisi pelangi, Imam Kambali mengatakan, deklarasi sengaja dilakukan untuk membuktikan keseriusan mereka dalam bursa Pilkada Tulungagung 2018.

“Kami pastikan seluruh partai politik pendukung pasangan Margiono-Eko Prisdianto atau bisa disingkat ‘Mardiko’ ini solid untuk memenangi Pilkada Tulungagung, 27 Juni mendatang,” katanya.

Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Tulungagung itu juga berjanji, seluruh parpol pendukung siap mengerahkan mesin politik masing-masing demi memaksimalkan peluang menang melawan pasangan petahana.

Mereka juga siap bekerja sama dengan seluruh jaringan relawan Margiono-Eko Prisdianto yang berasal dari lintaskomunitas.

“Mulai sekarang, dan sejak deklarasi ini kami serukan kepada seluruh jaringan parpol, relawan dan simpatisan untuk bekerja dan bekerja menyukseskan Pilkada Tulungagung dan menuju Tulungagung yang lebih baik bersama pemimpin baru, Margiono-Eko Prisdianto,” ujarnya.

Selain unsur parpol, puluhan tokoh agama dan tokoh masyarakat tampak hadir dalam acara deklarasi tersebut.

Salah satu pemuka agama yang juga Ketua MUI Tulungagung Muhammad Hadi Mahfudz atau Gus Hadi bahkan ikut memberi pidato sambutan dan mendoakan keberhasilan untuk pasangan Mardiko.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here