‘Nord Stream’ dan Pro Rusia yang Kian Menguat di Jerman

0
69
Foto: FRI.ORG

Nusantara.news – Kanselir Jerman Angela Merkel—sebagaimana kebanyakan orang Jerman—adalah orang yang menunjukkan ketidaksukaannya ketika melihat kedekatan Donald Trump dan Vladimir Putin di awal pemerintahan baru presiden Amerika Serikat itu. Aneksasi Krimea di Ukraina yang ditolak negara-negara Eropa, terutama Jerman, menjadi salah satu sebab ketidaksukaan Merkel dengan Putin. Tapi saat ini, setelah AS menjatuhkan sanksi baru ke Rusia, dan mengganggu proyek pipanisasi Nord Stream yang memasok gas dari Rusia ke Jerman serta negara-negara Eropa lainnya, ditambah jatuhnya kepercayaan global terhadap AS, suara-suara anti-Putin di Jerman perlahan terkikis.

Proyek pipanisasi gas jalur laut yang membentang dari Rusia ke Eropa perlahan mulai dirasakan manfaatnya oleh orang Jerman. Sementara AS melihat pipanisasi itu sebagai upaya Rusia dalam menciptakan ketergantungan Eropa terhadap negara beruang merah itu. Di Era Trump, Jerman yang merupakan sekutu lama AS banyak merasakan ketidaknyamanan. Misalnya, pada saat Trump menuding Jerman sebagai penyebab defisit perdagangan AS, lalu terkait NATO AS menekan Jerman agar menaikkan anggaran pertahanan hingga 2 persen dari PDB. Jerman juga dituding mengambil banyak manfaat dari NATO sementara AS yang mengeluarkan banyak biaya.

Pada saat isu campur tangan Putin di pemilu Jerman September nanti menjadi kekhawatiran, sanksi AS terhadap Rusia yang akan mengganggu pasokan gas ke Jerman, justru membuat kalangan pro-Putin di Jerman semakin merasa mudah bertahan. Mereka yakin, suara-suara anti-Putin di Jerman perlahan akan hilang. Kemungkinan, termasuk juga sikap Kanselir Merkel yang pada bulan September nanti akan kembali bertarung memperebutkan kursi kekanseliran Jerman. Meski menguatnya pro Putin belum tentu menggerus suara Merkel yang dalam survey terakhir masih unggul, tapi setidaknya Merkel akan lebih berhati-hati dengan cenderung memilih Putin sebagai “kawan” ketimbang “seteru” seperti sebelum-sebelumnya.

Pipanisasi Nord Stream

Nord Stream merupakan jaringan pipa gas alam lepas pantai dari Vyborg di Rusia ke Greifswald di Jerman yang dimiliki dan dioperasikan oleh Nord Stream AG. Proyek ini mencakup dua garis sejajar. Baris pertama dibangun Mei 2011 dan diresmikan 8 November 2011. Baris kedua dimulai pada tahun 2011-2012 dan diresmikan 8 Oktober 2012.

Dengan panjang 1.222 kilometer jaringan pipa tersebut merupakan pipa jalur laut terpanjang di dunia, melebihi pipa Langeled. Pipa ini memiliki kapasitas tahunan sebesar 55 miliar meter kubik (1,9 triliun kaki kubik), namun direncanakan meningkat dua kali lipat menjadi 110 miliar meter kubik (3,9 triliun kaki kubik) pada 2019 dengan membangun dua jalur tambahan.

Pada Juni 2015 terjadi sebuah kesepakatan membangun dua jalur tambahan antara Gazprom, Royal Dutch Shell, E.ON (sekarang Uniper), OMV, dan Engie (mantan GDF Suez). Hingga 24 April 2017 kelima perusahaan itu telah menandatangani sebuah perjanjian pembiayaan dengan Nord Stream 2 AG, anak perusahaan Gazprom yang bertanggung jawab atas pengembangan Proyek Nord Stream 2. Menurut kesepakatan, masing-masing akan menyediakan Euro 950 juta, dimana Euro 285 juta harus dibayar pada tahun 2017 ini.

Investasi dari lima perusahaan itu mencakup 50% biaya proyek sebesar Euro 9,5 miliar. Sisanya akan dibiayai Gazprom yang tetap merupakan pemegang saham tunggal Nord Stream 2 AG. Meski perluasan pembangunan pipa tahap 2 ini tidak mendapat persetujuan resmi sejumlah negara seperti Denmark, Swedia dan Finlandia, namun proyek tersebut dijadwalkan tetap beroperasi pada 2019-2020. Perkembangan terakhir, proyek ini terancam karena Rusia mendapat sanksi baru dari AS yang secara otomatis akan menghambat proses investasi proyek ini.

Peta jalur pipa gas Nord Stream

Sebagaimana dilaporkan The Washington Post, proyek pipanisasi jalur laut Rusia-Jerman tidak terlepas dari sosok Gerhard Schröder, mantan kanselir Jerman sebelum Angela Merkel. Selama tujuh tahun,  Schröder memimpin negara demokrasi terpadat di Eropa Barat itu sebelum kalah oleh pesaingnya, Merkel pada tahun 2005.

Schröder terkenal dekat dengan presiden Rusia Vladimir Putin, sehingga setelah tidak lagi menjabat kanselir dia banyak bekerja untuk industri energi Rusia, sebagai anggota dewan dari sejumlah konsorsium perusahaan energi yang dikendalikan Rusia Gazprom.

Karir Schröder terbilang mengejutkan, karena pada minggu lalu, menurut publikasi bisnis Rusia RBK, dia ditawari posisi di dewan komisaris di Rosneft, perusahaan minyak terbesar Rusia, dimana Kremlin merupakan pemegang saham pengendali. Tawaran ini terjadi di tengah krisis hubungan Trump dan Putin, dimana AS telah menjatuhkan sanksi baru bagi Rusia beberapa waktu lalu.

Sama halnya di Amerika, bagi orang Jerman, pejabat atau mantan pejabat yang berhubungan dengan Rusia dianggap memalukan. Tapi baru-baru ini ketika Schröder, politisi Partai Sosial Demokrat (SPD) Jerman yang juga mantan kanselir itu kembali berbicara di hadapan partainya dia mendapat tepuk tangan meriah saat berpidato soal penentangannya terhadap Trump. Schröder mengaku tidak anti-Amerika tapi menentang kebijakan-kebijakan Trump.

Sebagian pengamat Jerman menilai, tepuk tangan atas pidato Schröder menyiratkan kebutuhan mereka untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia. Dulu saat Schröder mulai “bekerja” untuk Rusia, dia ditentang oleh kalangan internal partainya.

Sebagai politisi SPD terakhir yang menjadi kanselir, kini saran Schröder makin diminati oleh partainya. Sosial Demokrat adalah mitra dalam koalisi pemerintahan Merkel, tapi tampaknya menawarkan sedikit kebijakan yang berbeda dari Serikat Demokrat Kristen, partai Merkel. Pemimpin SPD saat ini Martin Schulz, satu-satunya penantang kuat Merkel dalam pemilu  Jerman pada bulan September nanti.

Popularitas baru Schröder, kepala proyek Nord Stream 2 yang pro Rusia, di tengah-tengah partainya itu, juga mengejutkan kalangan konservatif yang selama ini khawatir dengan kemungkinan campur tangan Rusia pada Pemilu Jerman bulan September mendatang.

Schröder saat dia menjadi kanselir Jerman, terutama di akhir-akhir masa jabatannya, merupakan sosok yang memperjuangkan kesepakatan pipa Nord Stream dengan Rusia.

AS ketika itu menentang, karena menganggap proyek tersebut sebagai upaya Rusia menciptakan ketergantungan Eropa. Tapi perilaku Trump yang tidak bersahabat dengan Jerman dan negara-negara Eropa secara keseluruhan, membuat sanksi baru atas Rusia malah menjadi momentum menyatunya kekuatan Jerman dan Rusia melawan Amerika.

Merkel yang selama beberapa kali berseteru dengan Trump, untuk kali ini tentu juga tidak mendukung sikap AS memberi sanksi baru Rusia karena merugikan Jerman terkait Nord Stream 2. Padahal biasanya dialah yang paling getol mendorong sanksi terhadap Rusia seperti soal pencaplokan Krimea dari Ukraina. Mungkinkah politik global sudah berubah? Paman Sam mestinya lebih tahu. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here